BALADA QUINN

NUN
Chapter #5

Bab 5 : Tekad Lemah

Quinn menjatuhkan tubuhnya di kasur empuk king size model terbaru berteknologi tinggi miliknya sembari menunggu bak rendam penuh dengan air hangat. Berharap bisa melepas lelah dengan berendam menggunakan wewangian aromaterapi yang ia beli beberapa waktu lalu. Sedetik ia pejamkan mata untuk menikmati sensasi lelahnya ini sebelum akhirnya terdistraksi ingatannya siang tadi. Adegan makan siang tunjang gulai tadi terputar jelas. Quinn menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan.

Quinn meyakinkan diri bahwa ia tidak cemburu. Memaksa diri memutar kalimat aku baik-baik saja. Membayangkan bahwa ia bisa kembali jatuh cinta sedalam ini pada pria lain yang lebih baik untuk dirinya. Meski pada akhirnya mengasihani diri sendiri tak terelakkan.

Semesta memang penuh dengan kejutan. Siapa yang tahu bahwa Jakarta bisa sesempit itu? Dua kali berturut-turut ia bertemu dengan orang yang tidak ia inginkan.

Mengapa tidak sejak dulu mereka dipertemukan?

Mengapa mereka tidak bertemu saat Lingga putus dengan kekasihnya semasa kuliah?

Mengapa Tuhan pertemukan Quinn dengan Lingga di saat Lingga sudah memiliki seorang pujaan hati yang baru?

Mengapa saat ia telah bertekad melepaskan, takdir justru mengingatkan Quinn betapa besar perasaannya untuk Lingga?

Quinn berganti posisi menjadi tengkurap. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal. Tak ingin lagi berpikir. Tak ingin menerka apa maksud dari kejadian hari ini.

Tak ingin lancang berpikir yang lain, walau nyatanya Lingga menawarinya sebuah program. Bagaimana bisa? Sungguh di luar nalar. Quinn hampir saja kehabisan napas saat Lingga membicarakan itu. Untung saja ada kedua orang tuanya yang menemani. Hingga ia bisa mendapat kekuatan dan energi yang seolah tiada batas, yang disambungkan melalui hotspot energi mama dan papanya.

“Aku bisa, aku bisa, aku bisa!” erangnya di balik bantal.

Aktivitasnya terhenti oleh getaran ponsel di sampingnya. Seseorang meneleponnya. Nomornya tak dikenal. Tapi anehnya terasa familier. Namun Quinn putuskan untuk tak mengangkatnya. Mana tahu itu hanya telepon spam, atau telemarketing, yang jika diangkat Quinn tetiba jadi ibu dari seorang anak yang kecelakaan. Jadi ia hanya menatap tajam ponselnya dengan perasaan sangsi. Setelah getarannya berhenti, Quinn menaruh lagi ponselnya di atas kasur. Hanya selang beberapa detik, ponselnya kembali bergetar. Kali ini getaran singkat menandakan ada pesan instan masuk. Quinn membuka bilah notifikasi yang menampakkan pesan singkat di aplikasi pesan instan.

 

+6289876xxxx

Kan, pasti teleponku kau abaikan.

 

Quinn bangkit seketika. Matanya membelalak tak terkendali. Ia segera mengecek log panggilan. Ternyata nomor itu milik Rayn. Segera ia membuka pesannya lalu membalas tanpa berpikir dua kali.

Quinnirene

Maaf, Kak. Tadi kukira orang iseng.

 

Setelah terkirim, ia baru menyadari kesalahannya. Tadi ia sudah berjanji akan menyimpan kontak Rayn, Namun sekarang ia malah mengakui terang-terangan bahwa ia belum menyimpan nomor kontak Rayn. Seketika ia terbangun sambil menepuk keningnya keras. Sebagai seorang wirausahawan seharusnya ia menepati janjinya apalagi terhadap seorang perekomendasi seperti Rayn. Beberapa menit Quinn menunggu, tak ada balasan, padahal Rayn sudah membaca pesannya. Segera Quinn simpan nomor kontak Rayn dengan nama lengkapnya, “Kak Rayn Narpati Wira.” Entah mengapa saat berhubungan dengan Rayn yang baru dua kali bertemu itu, Quinn tidak terlalu banyak berpikir. Antara menjadi dirinya sendiri atau Quinn terlalu meremehkan pria itu. Padahal semestinya ia tidak boleh meremehkan pria yang sudah membantu keluarganya.

Quinn meracau tak jelas. Ia sudah melakukan sebuah kesalahan. Ia tak boleh sembrono seperti ini dalam bersikap dan menanggapi Rayn yang sesegera mungkin harus Quinn cari tahu latar belakangnya.

Tiada balasan, tetapi panggilan. Ternyata Rayn meneleponnya lagi. Kali ini tentunya Quinn jawab secepat kedipan mata.

“Halo, Kak! Sekali lagi mohon maaf,” sambar Quinn cepat.

“Iya, enggak apa kok.”

Quinn menghela napas lega mendengarnya. Bisa berabe urusannya jika Rayn marah. Nanti orang tuanya akan ikut memarahinya, dan skenario paling parah adalah ia bisa saja membuat perjanjian tadi batal. Meski ia belum tahu persis identitas Rayn, Quinn tetap merasa Rayn tidak sesederhana itu.

“Kau sudah sampai di rumah, kan?” tanya Rayn dari sebrang telepon.

“Ya, kami sudah sampai lumayan lama,” jawab Quinn sebagaimana mestinya.

Hening. Tak ada reaksi. Quinn pun tak berinisiatif bicara. Situasi ini seharusnya sudah melebihi batas canggung yang bisa ditoleransi oleh Quinn. Namun Quinn tak hiraukan itu. Dengan sabar ia menunggu Rayn bicara.

“Boleh aku tanya sesuatu?” tanya Rayn setelah terdiam lama.

“Kau sudah bertanya. Jadi, tanyakan saja,” Quinn lebih santai.

“Boleh kutahu, apa hubunganmu dengan Niskala Lingga?”

Quinn membeku mendengar pertanyaan ini. Kenapa Rayn ingin tahu? Ini sama sekali bukan urusannya—seharusnya begitu jawaban Quinn. Namun ia urungkan. Ia tak sanggup melontarkannya. Quinn menarik napas dalam lalu perlahan mengembuskannya.

“Kenapa kau ingin tahu?” Quinn balik bertanya.

Pertanyaan ini sebenarnya hanya pengalihan topik karena ia juga tak yakin untuk mengakui yang sebenarnya pada Rayn yang baru saja dikenalnya. Singkatnya, Rayn masih orang asing baginya. Tak usah Quinn jelaskan seperti apa kondisinya saat ini dengan Lingga. Ia tak berkewajiban untuk memberitahu Quinn.

Lihat selengkapnya