Tahun kedua Quinn kuliah.
Quinnirene Tunggadewi menjadi salah satu pentolan kampus yang gemar mengikuti kompetisi dan membawa nama baik program studi, fakultas, serta universitasnya. Ia mengikuti beragam kompetisi bahkan sejak tahun pertamanya menimba ilmu di perguruan tinggi.
Tak disangka, pada tahun keduanya kuliah, tiba giliran kampusnya menjadi penyelenggara lomba. Tentu saja kesempatan ini tak akan disiakan oleh Quinn. Ia pun mendaftar bersama dengan timnya. Tidak begitu banyak berharap, tetapi takdir membawa Quinn dan tim lolos babak penyisihan hingga akhirnya masuk ke putaran final. Persiapan untuk final pun Quinn beserta tim lakukan dengan maksimal. Mereka selalu ingin melakukan dan mengusahakan yang terbaik, terutama saat mereka sudah terpilih sebagai grand finalist.
Lagi pula orang-orang bilang kampus itu bagai laboratorium yang mematangkan generasi muda sebelum dibebaskan di dunia nyata. Keuntungan ini tentu harus digunakan sebaik mungkin. Memanfaatkan privilege titel mahasiswa adalah hal yang sedang dilakukan Quinn dan teman-temannya. Tak lain agar mereka bisa memiliki daya saing dan jiwa kompetitif kelak di luar sana.
Quinn dan tim menyambut semangat agenda puncak kompetisi, menyongsong hari H dengan penuh senyuman percaya diri. Sebelum acara tiba, mereka pun mendapatkan liaison officer atau petugas pendamping tim mereka selama puncak acara yang akan berlangsung tiga hari nanti.
Pertemuan pertama telah tiba dan mereka berkumpul di sebuah aula yang berada di salah satu gedung fakultas Quinn.
“Kita dapat LO Mbak Gian, Quinn,” Claudia menginformasikan. “Ini informasi kontaknya. Tadi disebutkan setiap LO akan datang ke meja tim yang akan mereka pandu.”
Quinn, Claudia, dan Susan menunggu di meja mereka yang memang sudah diberi label nama tim mereka. Pada saat menunggu, Quinn terus memperhatikan sekitar yang perlahan mulai terasa sibuk. Satu demi satu orang muncul dari pintu samping aula. Mereka menghampiri meja yang berbeda. Satu per satu Quinn perhatikan. Siapa tahu LO-nya akan segera datang. Namun bukan Gian yang didapati Quinn, justru yang menarik perhatiannya adalah seorang lelaki dengan jas hitam berdasi merah yang memasuki aula dengan percaya diri.
Lelaki itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru aula lalu berhenti ketika matanya menangkap sosok Quinn yang juga sedang menatapnya. Tanpa diduga, lelaki itu justru tersenyum sembari menatapnya.
Tampan sekali! seru batin Quinn.
Tak harus lama, tiga detik bertatapan dengan lelaki itu sudah cukup membuat Quinn jatuh hati.
“Ini ternyata yang dimaksud cinta pada pandangan pertama,” gumamnya halus.
“Hah? Gimana, Quinn?” pertanyaan Claudia menggema.
Quinn menggeleng pelan lalu terkekeh.
“Kau tahu siapa dia?” tanya Quinn berbisik. Siapa tahu Claudia dan Susan yang lebih gaul darinya mengenal lelaki tampan itu.
“Aku tidak kenal, tapi sepertinya dia dari Jurusan Hubungan Masyarakat, satu fakultas dengan kita. Lihat saja, dasinya warna merah,” Claudia menyampaikan dugaannya.
Mendengar jawaban itu, Quinn agak kecewa. Ia berharap bisa mengetahui namanya untuk ia ikuti di media sosial. Sayang, Susan pun ikut menggeleng saat hendak ditanyai Quinn.
“Ya Tuhan! Dia juga memperhatikanmu, Quinn!” pekik Claudia.
Quinn langsung melotot mendengar ucapan Claudia yang setengah berteriak itu. Ya, ia tahu lelaki itu juga sedang memperhatikannya. Hanya saja, Quinn tidak punya keberanian untuk menyapa. Alih-alih say hi, Quinn memilih tersenyum tipis padanya. Pada saat itulah pandangan mereka terputus. Lelaki itu melanjutkan langkah, menghampiri meja yang jaraknya cukup jauh dari meja Quinn.
“Kalian bisa tolong aku mencari tahu?” tanya Quinn tanpa basa-basi.
“Cari tahu apa? Soal Mbak Gian?” Susan bertanya tak yakin.
“Bukan, tapi soal laki-laki itu. Aku ingin tahu siapa namanya,” Quinn tersipu malu.
Susan dan Claudia yang mendengar hal itu tak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka.
“Ada apa, Quinn? Jangan-jangan kau …” ujar Susan menggoda.
Quinn menunduk malu. “Sepertinya, aku sudah menyukainya.”
Susan dan Claudia seketika bersorak. Mereka ikut berbunga-bunga mendengar penuturan Quinn. Tak mereka sangka, Quinn bisa jatuh cinta secepat itu bahkan pada orang yang belum Quinn tahu namanya.
“Oke!” seru Caludia. “Kau tunggu saja, Detektif Claudia siap beraksi!”
***