Sejak pagi Quin sudah disibukkan dengan berbagai pertemuan bersama penyuplai pupuk. Ya, meski masa panen masih berlangsung, ia juga masih sibuk di pabrik penggilingan padinya, namun Quinn sudah mempersiapkan banyak hal untuk masa tanam nanti. Dimulai dari memastikan pemesanan dan pembelian bibit, pupuk kandang, dan pupuk cair hayati. Pagi ini Quinn sudah bertemu dengan penyuplai bibit padi Pandan dan Rojolele. Kedua varietas itulah yang ditanam di lahan sawah keluarga Quinn. Selain karena keduanya varietas alami, kedua varietas ini pula yang sudah disertifikasi oleh beberapa lembaga pemerintah dan organisasi pertanian terkemuka.
Ya, cap organik yang Quinn tempel pada produk beras mereka tentu saja bukan kaleng-kaleng atau sebatas deklarasi dan klaim mandiri. Label organik ini didapat sekitar satu setengah tahun lalu, setelah tiga tahun papanya mengelola sawah secara organik seutuhnya.
“Kak, siang ini beras yang sudah siap akan langsung diangkut orangnya Pak Nurmawan?” tanya Eka memastikan.
Eka adalah asisten Quinn di gudang beras, atau dalam bahasa elitnya di kantor manajemen pertanian mereka. Ia bertanggung jawab mengontrol proses penggilingan padi. Berapa jumlah padi yang masuk ke gudang, lalu berapa jumlah padi yang digiling, berapa beras yang dihasilkan, Eka bertugas mencatat semua aktivitas di gudang beras. Meski Quinn juga mengelolanya langsung, tetapi Quinn tetap membutuhkan bantuan. Ada kalanya ia harus rapat dengan pihak lain seperti pagi tadi. Dan, Quinn tentu perlu seseorang yang membantu mengawasi dan menghitung omzet yang luar biasa ini.
“Iya. Tapi karena ini pengangkutan pertama, Pak Nurmawan juga akan ikut datang,” Quinn menoleh sejenak. “Kulkas sudah diisi belum?” giliran Quinn bertanya.
“Sudah, Kak. Kulkas dan lemari makanan sudah diisi lagi.”
Selain diberi makan siang, para petani dan pekerja di gudang beras juga diberikan kebebasan untuk makan dan minum di toko beras yang menyatu dengan pabrik penggilingan berasnya. Terutama untuk petani wanita yang membawa anak-anaknya sambil bekerja. Quinn memastikan agar nanti ia juga bisa menjamu Nurmawan dengan layak.
“Oke,” Quinn mengangguk puas. “Invoice dari pembelian bibit tadi katanya akan dikirim via email. Jangan lupa dicek berkala, ya!”
Eka Wisnu bukanlah pemuda biasa. Ia adalah adik kelas Quinn semasa SMP dan mereka sangat akrab. Kini ia sudah lulus kuliah sebagai sarjana akuntansi. Jadi, urusan hitung menghitung tentu saja ia jagonya. Eka juga pandai mengaudit keuangan, sangat cocok dengan kriteria asisten yang Quinn inginkan. Keterampilannya ini memang sudah Quinn arahkan sejak Eka menginjak bangku perguruan tinggi, dan Eka menuruti semua saran Quinn dengan baik bahkan melebihi ekspektasi Quinn. Sampailah pada saat Eka lulus, Quinn memercayakan Eka untuk posisi akuntan di kantor manajemen pertaniannya.
Alasan besar lain Quinn memilih Eka karena ia adalah orang yang jujur. Pernah satu waktu saat sekolah dulu, Quinn kehilangan dompetnya saat mengikuti ekstrakurikuler, Eka menemukannya. Tanpa ragu Eka mengembalikan dompet Quinn dan tak ada yang hilang dari dompetnya. Sejak saat itu, Quinn percaya bahwa Eka adalah orang yang berintegritas yang bisa ia ajak kerja sama kelak. Dan di sinilah mereka saat ini. Berbagi visi yang sama untuk memajukan pertanian di daerah mereka.
“Oh ya, Kak. Tadi HP Kakak bunyi terus.”
Quinn mengangkat alisnya. Saat pertemuan tadi, Quinn memang lupa membawa ponselnya. Segera ia mengecek ponselnya. Saat membuka ponselnya, benar saja, ada empat panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor yang sama,“Kak Rayn Narpati Wira.”
Quinn hanya menghela napasnya pelan. Ia tak menyangka ternyata pria itu yang meneleponnya berulang kali. Meski ia ingin sekali mengabaikan panggilan itu, tetapi nyatanya Quinn tetap menelepon balik. Rasa ingin tahunya tetap lebih besar dibanding rasa ingin menghempas pria itu. Ia juga tak ingin menjadi perusak hubungan baik antara keluarganya dan Rayn. Untuk saat ini menjaga etika dasar tentu bukan hal yang sulit Quinn lakoni, bukan?
“Halo, Kak? Ada apa?” tanya Quinn tanpa basa-basi.
“Hari ini aku akan ke tempatmu. Ikut dengan Pak Nurmawan.”
Quinn membelalak untuk kemudian memutar bola matanya jengah. Namun ia tetap bersabar. Menahan segala godaan kesal yang timbul karena Rayn.
“Lalu?” Quinn bertanya lagi.
“Aku ingin makan nasi liwet dari beras segar hasil sawahmu. Boleh, kan?”
Serius? Hanya untuk mengatakan ini ia meneleponku berulang kali? gerutu Quinn dalam hati.
“Halo, Quinn? Boleh, kan?” Rayn memastikan.
“Iya, boleh, Kak. Nanti akan aku siapkan,” Quinn mengerucutkan bibirnya. “Lauknya? Mau dengan apa?” tanyanya malas.
Daripada nanti ia salah menyiapkan, lebih baik Quinn tanya langsung pada orangnya, bukan?
“Apa saja. Walau hanya dengan sambal, aku akan tetap memakannya.”
Quinn memijit pelipisnya. Sebetulnya tak ada yang salah dengan permintaan Rayn. Lagi pula setiap ada tamu ke rumahnya, Quinn pasti menyiapkan makanan bersama dengan mamanya. Hanya saja, karena Rayn yang meminta ia merasa kesal setengah mati. Kini menyebut namanya saja cukup untuk menaikkan tekanan darahnya.
“Baiklah, akan kusiapkan. Hati-hati di jalan!”
Tuk! Quinn langsung memutus sambungan teleponnya. Ia khawatir, jika terlalu lama bicara, bisa-bisa ia memaki pria itu. Quinn pun beralih menatap Eka. Eka hanya menaikkan alisnya menunggu Quinn bicara. Quinn meluruhkan bahunya diikuti kepalanya, membiarkan kuciran rambutnya terjatuh ke depan menghalangi wajahnya yang muram. Ia harus mempersiapkan mental untuk bertemu dengan Rayn, jangan sampai pria itu mengetahui hal lain tentang dirinya. Cukup bertemu Lingga. Tak perlu Rayn invasi lebih jauh ke dalam kehidupan Quinn.
“Aku harus pulang dulu. Nanti aku akan kembali setelah masak. Kalau orang dari pabrik pupuk kompos sudah ke sini, kabari aku segera, ya!”
***
Dapur rumah Quinn yang sangat nyaman ini kembali menguarkan wangi masakan untuk ketiga kalinya hari ini. Pertama di pagi hari, kedua sebelum jam makan siang, ketiga saat ini pukul satu lewat lima belas menit. Baru saja jam makan siang usai, Dita sudah kembali ke dapur untuk menyiapkan hidangan mewah. Hidangan mewah yang dimaksud adalah nasi liwet, ikan asin jambal roti, ikan nila panggang, dan ayam bakakak. Tak lupa sambal yang sudah digoreng pun sudah siap di atas cobek untuk kemudian diulek nanti.