BALADA QUINN

NUN
Chapter #8

Bab 8 : Calon-Calon

Dita sudah berdiri di ujung teras saat Quinn memasuki halaman dan memarkirkan sepeda listriknya. Quinn tidak langsung masuk, dan justru terdiam merogoh sakunya untuk mengambil remot dan membuka gerbang lebih lebar agar dua mobil yang dikendarai Rayn dan Lingga bisa masuk ke halamannya.

“Ya, cukup!”

Quinn berubah menjadi seorang juru parkir begitu dua mobil masuk ke halamannya. Ia pun menyilakan keduanya untuk segera masuk dan menyapa Dita. Keduanya salim pada Dita dan bertukar kabar. Quinn memasuki dapur terlebih dahulu dan menyiapkan alat makan sesuai jumlah orang yang hadir di atas meja makannya.

“Pak Nurmawannya mana, Dik?” tanya Dita saat menghampiri Quinn.

“Masih di gudang, tunggu memuat beras selesai nanti menyusul ke sini dengan Eka.”

Dita mengangguk paham dan segera mengajak dua pria di ruang tamu untuk beralih ke ruang makan. Meski malu-malu, keduanya gegas mengikuti langkah Dita.

“Terima kasih banyak, Bu. Kami sudah merepotkan,” ucap Rayn tetiba segan.

“Sudah bilang jangan panggil Bu. Panggil saja Tante Dita.”

Keduanya mengangguk sepakat memanggil Dita dengan nama kecilnya, Dita.

“Gimana makanannya cocok buat kalian?” Dita bertanya penasaran.

“Sangat enak, Tante!” Rayn dan Lingga berseru bersamaan.

“Nasinya Quinn yang buat. Kalau ikannya, tadi Tante yang masak. Ayamnya dapat beli tadi di depan,” terang Dita.

Mereka pun larut pada obrolan ringan sambil menikmati hidangan yang cocok dimakan di kala cuaca mendung seperti ini. Sambal jahe-kecap yang dibuat Dita juga menambah kehangatan di ruang makan ini.

“Kalau Om Rian ke mana, Tante?”

“Om sedang pergi sama adiknya, ada urusan ke luar kota. Rayn belum kontakan dengan Om?”

Rayn hanya dapat menunjukkan cengiran kudanya. Yang ia ingat hanyalah menelepon Quinn saat berangkat tadi.

“Setahu Tante, Om mau mengajakmu berkeliling, ya, saat terakhir bertemu?” Dita mencoba mengingatnya.

“Iya, Tante. Mungkin lain waktu saja,” ucap Rayn yang justru terlihat senang. Apa mungkin karena ia jadi punya alasan untuk datang kembali?

“Diajak kelilingnya oleh Quinn saja. Adik hari ini sudah tidak ada kerjaan di kantor, kan?”

“Hmm,” jawab Quinn. “Tapi aku perlu bicara dulu dengan Lingga. Tadi belum sempat mengobrol.”

Quinn melirik Rayn yang berpura-pura tak mengerti dan terus menikmati hidangannya.

Setelah makan besar itu berakhir, Quinn langsung mengajak Lingga ke halaman samping rumah di mana terdapat kolam ikan koi. Mereka duduk di kursi kayu antik sambil menikmati pemandangan di hadapan mereka.

“Jadi?” tanya Quinn.

“Jadi,” Lingga menjeda ucapannya. “Aku ingin menjadikanmu tamu pertama di program terbaru yang sedang kugarap.”

“Dan … program apakah itu?”

“Program pemuda inspiratif,” ucap Lingga.

“Kenapa kau tertarik untuk mengundangku?” Quinn mulai penasaran.

Lingga mengatakan bahwa program ini akan mengundang pemudi-pemuda yang inspiratif untuk menceritakan kisah mereka. Bintang tamu haruslah yang memberi pengaruh positif terhadap masyarakat. Menurut Lingga, sosok Quinn sangat cocok dengan acara ini. Sejak pertama kali bertemu di Jakarta, dengan Quinn yang sekarang sudah menjadi manajer operasional usaha pertanian, tentu saja Lingga sangat tertarik untuk meliput Quinn.

“Tapi aku bukanlah pengagas usaha pertanian ini. Semua ini berkat orang tuaku, dan bisa dibilang aku menjadi manajer saat ini juga karena aku anak Mama dan Papaku.”

Quinn tidak merasa bahwa ia sudah memiliki pencapaian yang baik. Selama ini ia hanya merasa bahwa ia hanya meneruskan dan memperkokoh pertanian keluarganya. Semua yang ia capai hari ini hanya karena ia sudah memiliki tangga yang disediakan orang tuanya.

“Rasanya tak pantas jika aku yang diundang. Aku tidak memenuhi syarat yang kau sebutkan tadi,” lirih Quinn.

Lihat selengkapnya