BALADA QUINN

NUN
Chapter #10

Bab 10 : Coklat dari Jakarta

Seperti yang dijanjikan, Rayn datang berkunjung ke rumah Quinn. Rencananya mereka ingin bermain ke rumah pohon. Sayang, Rayn berkunjung terlalu sore sehingga Quinn tak bisa mengajaknya ke rumah pohon yang ada di bukit hutan pala. Semacam sanctuary yang amat rahasia bagi Quinn dan Leon. Aneh memang ketika Quinn mencoba menjaga batasan dari Rayn, tapi ia juga ingin Rayn mengenalnya lebih dekat.

Matahari rasanya terlalu cepat tergelincir hingga langit senja lah yang kini menemani Quinn dan Rayn. Rayn juga jadi tak sempat untuk ikut melihat proses pembajakan sawah yang berlangsung hanya sampai siang tadi.

“Kak Rayn sudah makan?” tanya Quinn merasa bersalah.

Quinn baru saja mengetahui bahwa Rayn menyetir sendiri ke sini tanpa sopir. Ia baru saja selesai rapat lalu gegas mengantarkan oleh-oleh untuk Quinn. Jalanan yang padat dengan mobil-mobil bermuatan besar pun menjadi kontributor penghambat laju kendaraan Rayn. Ini membuat hati Quinn tak enak rasanya. Meski ingin bersikap biasa saja, tapi mengingat Quinn yang mengundang Rayn, tak elok jika Quinn tak peduli dengannya.

“Belum, tapi gak apa. Aku gak begitu lapar.”

“Ya ampun, Nak Rayn baru datang?” Dita langsung menghampiri Rayn. Ia dan Rian baru saja kembali dari rumah Zayid, adiknya. “Quinn belum menyuguhkan apa pun?”

“Sudah, Ma. Quinn sudah buatkan coklat hangat, sudah bawakan kue dan buah. Baru saja Quinn mau tawari Kak Rayn makan sebelum Mama dan Papa datang,” Quinn segera mengklarifikasi.

Dita mengangguk cepat mendengar laporan putrinya. Sementara Rian segera menghampiri Rayn.

“Rayn, kabar baik?” Rian datang membawa ketenangan.

Quinn menatap papanya penuh terima kasih sudah menyelamatkan Quinn dari omelan mamanya. Rian mengedipkan sebelah matanya lalu berbisik meminta Quinn untuk berganti pakaian dan bersiap keluar. Tanpa banyak bertanya ia diam-diam segera ke kamarnya.

Tak butuh waktu lama, Quinn sudah berpakaian rapi dengan celana jins high waist dan sweater rajut dari brand ternama dengan dominasi hijau, merah, hitam, dan putih gading. Tiga pria yang sedang berbincang di ruang tamu menoleh dan terkesima menatap Quinn yang sudah berganti pakaian, merias wajahnya, dan juga menata rambutnya dengan jepit pita yang cantik serta minimalis. Tak lupa beberapa perhiasan kecil yang juga menambah elegansi penampilan Quinn. Jika berdandan seperti ini, apakah ada yang percaya jika Quinn mengatakan tadi pagi dia baru saja membajak sawah?

“Ma! Ayo!” Quinn memanggil mamanya.

“Kata siapa mama ikut? Mama gak ikut. Kau dan Rayn saja yang makan. Tadi mama sudah makan di rumah Paman Zayid. Leon tadi sudah makan-makan sama para perawat di kliniknya. Tersisa Quinn dan Rayn yang harus makan.”

Quinn benar-benar kehabisan kata-kata. Semua orang sepertinya sengaja mendorongnya untuk makan hanya berdua dengan Rayn. Apakah ini yang dinamakan konspirasi keluarga?

“Mama sudah pesankan di Resto langganan. Kau hanya perlu ke sana. Nanti papa yang bayar.”

Rencana yang sempurna. Sungguh matang rencana kedua orang tuanya. Quinn tertawa garing dalam hati. Ia telah jatuh ke dalam jebakan semua orang. Jangan kira Quinn tak mengerti maksud kedua orang tuanya. Akal bulus mama dan papanya untuk menjodohkan Quinn dengan Rayn memang sangat mulus. Sampai-sampai Quinn tak sempat menyiapkan langkah mitigasi untuk serangan mendadak ini.

“Untuk menghargai usaha Mama memesan meja di restoran favorit kita semua, maka aku tak akan sungkan lagi.”

Quinn meraih tas selempangnya lalu menoleh pada Rayn dengan malas.

“Ayo, Kak! Tunggu apa lagi?”

Alhasil Quinn dan Rayn sungguhan pergi ke restoran hanya berdua saja.

Perjalanan mereka begitu hening. Quinn hanya memperhatikan jalan tanpa sedikit pun menoleh dan beralih ke pemandangan di sebelah kanannya—di mana Rayn berada. Rayn merasa ia harus melakukan sesuatu untuk membangkitkan suasana hati Quinn.

“Quinn, kau suka coklatnya?” Rayn memberanikan diri bertanya.

“Hmm. Suka. Itu coklat yang aku beli juga bersama Mama sebelum kita bertemu makan siang waktu aku ke Jakarta.”

Pernyataan Quinn menohok Rayn. Ia ketahuan juga pada akhirnya. Modusnya telah terkuak. Quinn tahu oleh-oleh hanya alasan belaka.

“Kau tahu itu bukan oleh-oleh dari luar kota,” Rayn berkata pelan. “Maaf …”

“Kalian menjebakku sampai seperti ini. Sebenarnya ada apa?” Quinn frustasi sendiri.

Walau mudah ditebak, namun Quinn harap orang-orang akan memberitahu Quinn dengan sendirinya. Quinn tetap ingin mendengar penjelasan maksud dan tujuan yang bersangkutan. Bukankah skripsi juga begitu, meski sudah tertulis jelas pada naskah, tetapi maksud dan tujuan penelitian tetap perlu dijelaskan langsung saat sidang?

“Mungkin kau tak akan percaya padaku, tapi sungguh aku tak tahu Om dan Tante akan menyuruh kita untuk makan berdua saja.”

Sebetulnya Quinn tahu hal itu. Masalah makan berdua, ini pasti rencana keluarganya. Tapi tetap saja Quinn kesal karena Rayn sebelumnya berbohong soal oleh-oleh dari luar kota, padahal coklatnya ia beli mendadak di ibu kota.

Lihat selengkapnya