BALADA QUINN

NUN
Chapter #12

Bab 12 : BTS, Berasa Tinju bukan Syuting

Kru stasiun televisi sudah mulai berdatangan sejak subuh tadi. Rian sudah menyiapkan tempat untuk kru di vila minimalis di samping rumahnya yang juga masih miliknya. Vila yang biasa digunakan untuk kumpul keluarga besar. Meski nanti mereka akan memulai syuting di rumahnya, namun Rian tetap memberikan mereka tempat untuk sekadar beristirahat sejenak dan untuk tidur nanti malam karena rencananya syuting akan berjalan dua hari dengan esok, Sabtu dan Minggu.

Sementara Rian menyambut kedatangan kru, Dita baru saja sampai kembali ke rumah bersama orang dari pihak catering untuk menjamu para kru. Meski mereka tak harus menjamu para kru, tetapi Rian dan Dita tidak dapat begitu saja cuek dan tak menjamu tamu. Ini bukan gaya mereka. Ia pun memesan camilan dan makanan berat untuk makan siang yang tinggal dua jam lagi. Dita juga sudah memesan catering untuk makan malam, sarapan besok pagi, dan makan siang esok.

“Pa, Quinn di mana?” tanya Dita begitu turun dari mobil.

“Masih dandan di rumah. Cepat juga catering-nya langsung datang,” Rian menghampiri Dita.

“Kan, mama sudah pesan sejak dua hari lalu, Pa.”

Dita kemudian berjalan menuju ke rumahnya di mana kamera sudah dipasang dan diatur terutama di teras samping yang dekat dengan kolam ikan dan dekat dengan koleksi bonsainya. Ia masuk ke rumah dan mendapati Quinn masih duduk di kursi salon dadakan di tengah rumahnya.

“Cantik sekali anak mama!” seru Dita menatap putrinya lewat cermin.

“Ma … ini belum selesai,” Quinn tersipu.

Dita mengusap lengan putrinya lalu perias wajahnya ikut berkomentar.

“Memang Mbak Quinn sudah sangat cantik, jadi kami mudah mendandaninya semakin cantik,” ujar sang makeup artist.

Dita tersenyum simpul mendengar pujian itu. Sementara yang dipuji semakin merona karena malu. Ia tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian seperti itu, apalagi dipuji berlebihan begitu. Rasanya tak nyaman saja.

Usai memuji Quinn, sang perias pun melanjutkan pekerjaannya yang hampir selesai.

Dita melihat ke sekeliling dan menangkap sosok Lingga yang sedang duduk di sofa ruang tengahnya sambil membaca naskah. Sepertinya sedang menghapal alur wawancara nanti. Lalu Dita menghampirinya.

“Lingga, ambil camilan, gih! Itu sedang disiapkan di meja makan sama orang catering. Tante sudah siapkan juga di vila,” ujar Dita menawarkan.

Lingga pun berdiri begitu mendengar ucapan Dita.

“Tidak apa, Tante. Nanti saja saya ambil selesai syuting. Terima kasih banyak ya, Tante. Padahal tidak usah repot-repot. Nanti kami bisa memesan makanan sendiri. Tidak perlu merepotkan Tante. Dengan Quinn bersedia menjadi narasumber kami sudah sangat merepotkan. Sekarang malah dijamu banyak juga oleh Tante sekeluarga.”

Dita tersenyum dan kembali berujar, “Tidak apa, asal Quinn senang saja itu juga lebih dari cukup untuk Tante dan Om.”

“Saya pasti akan buat acara ini dengan baik dan memperlihatkan kehebatan Quinn,” ucap Lingga bersungguh-sungguh.

Dita tertawa ringan, ia mengibaskan tangannya tanda Lingga berlebihan.

“Tak perlu terlihat hebat, buat saja Quinn terlihat sebagaimana adanya. Sama seperti Quinn di matamu dan para kru,” ujar Dita.

Dita lalu pamit untuk kembali menemui suaminya yang berada di luar.

Sekitar tiga puluh menit kemudian syuting pun dimulai. Quinn yang mengenakan pakaian one piece dengan kain sutera putih yang dipadupadankan dengan motif batik buketan berwarna biru dan merah muda. Model pakaiannya yang pas ditubuh Quinn menampakkan kecantikan dan keanggunan Quinn dengan sangat tepat. Riasan wajahnya yang elok nan indah menjadi fokus utamanya.

Satu kata yang dirasa paling tepat menjelaskan penampilan Quinn di mata orang-orang yang sedang memandangnya adalah sempurna. Mereka berdecak kagum bak tersihir daya magis yang menguar dari aura Quinn.

Quinn dan Lingga mulai berbincang di teras samping rumah Quinn. Lingga yang duduk berhadapan dengan Quinn mulai bicara dan memperkenalkan bintang hari ini. Gadis berusia pertengahan dua puluh yang berkuliah jurusan komunikasi tetapi lebih memilih untuk mengelola usaha pertanian keluarganya yang tak lain adalah sawah, jadi hal pertama yang disebutkan oleh Lingga. Kemudian Lingga memuji Quinn dengan prestasinya di bidang pertanian. Di usianya yang masih muda Quinn sudah bisa mengelola dan memajukan pertanian di tempatnya.

Lihat selengkapnya