BALADA QUINN

NUN
Chapter #13

Bab 13 : Ini Perasaanku

Hari pertama syuting berakhir saat menjelang malam. Mereka beristirahat di tempat masing-masing. Namun hal yang tak Quinn mengerti adalah mengapa Rayn tidak kunjung pamit dan justru masih asik mengobrol dengan Leon.

Quinn yang baru selesai membersihkan diri, gegas menghampiri keduanya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Quinn ikut bergabung meski hanya mendengarkan dan tak berniat ikut menanggapi topik obrolan Leon dan Rayn yang tak Quinn pahami. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru rumah mencari keberadaan orang tuanya.

“Mama-Papa sudah tidur?” tanya Quinn pada Leon.

“Iya, terlalu cape katanya,” jawab Leon.

Quinn merasa bersalah karena keputusan dirinya menerima tawaran Lingga untuk tampil di programnya melibatkan seluruh keluarganya. Bukan tak memperkirakan, saat membaca terms of reference ia sudah tahu jika syuting ini akan cukup memakan waktu. Salahkan saja perasaan Quinn untuk Lingga yang masih bersemayam dalam hatinya. Bagaimana pun ia tetap tak mampu menolaknya. Kenyataan ini yang membuatnya merasa semakin buruk.Walhasil, Quinn harus menjalani hari yang menyesakkan.

Quinn harus mampu bersikap akrab layaknya teman Lingga ketika di belakang layar, ia juga harus profesional saat di depan kamera, tetapi di saat yang sama ia pun harus melihat tingkah kekanakan kakaknya bersama Rayn. Dada Quinn rasanya bergemuruh menahan emosi yang hampir menyembur keluar sejak siang tadi, sedangkan otaknya memikirkan berbagai skenario yang bisa terjadi dan bagaimana cara dia harus bersikap dalam setiap skenarionya.

“Kak Rayn gak pulang? Ini sudah malam,” Quinn memberanikan diri bertanya.

“Yah … kau mengusirku?” Rayn mengeluh.

“Malam ini Rayn menginap. Lagi pula dia tamuku, tamumu hanya Lingga,” Leon berkata dengan menyebalkan.

Quinn menghela napasnya kasar. Ingin sekali ia piting leher kakaknya itu jika saja tidak ada orang luar di sini. Pada akhirnya Quinn tetap kalem dan mengajak Leon untuk sedikit melipir dari ruang tamu ke dapur. Ia sudah tak bisa lagi menahan apa yang selama seharian ini ia pendam.

“Kak, kenapa kau undang Kak Rayn ke sini?”

Pertanyaan yang sejak tadi siang hanya bersarang di benak Quinn akhirnya keluar.

“Kan, sudah kukatakan dia tamuku. Dia temanku, Dik,” jawab Leon kukuh.

“Jangan kira aku tidak paham maksud Kakak. Tadi siang saat Kak Rayn dan Lingga bicara berdua di gazebo, Kakak asik menonton mereka berdua sambil cekikikan,” todong Quinn tanpa aba-aba.

Leon menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal. Ia tetap ketahuan oleh Quinn. Niatnya yang ingin mengganggu Lingga karena sudah mengabaikan adiknya selama ini, pada akhirnya tertangkap juga oleh radar Quinn. Meski begitu ia tidak menyesali perbuatannya. Gangguan tadi siang belum sebanding dengan apa yang sudah Lingga perbuat pada adiknya.

“Hentikan tatapan itu, Kak,” Quinn lagi-lagi menyadarinya. “Dia tidak bersalah padaku. Jika ada yang harus disalahkan maka orang itu adalah aku. Aku yang menaruh hati terlalu besar padanya. Jadi anggap saja ini hadiah terakhir dariku untuknya, sebelum aku benar-benar melepaskan perasanku untuk Lingga.”

Quinn memijat pelipisnya. Ia benar-benar tak paham mengapa kakaknya justru menambah bahan pikirannya.

“Kak, aku sudah kewalahan mengelola emosiku menghadapi Lingga yang kutahu sudah putus dengan pacarnya. Padahal jelas-jelas aku bertekad untuk melupakan dia. Tolong jangan tambahkan lagi sesuatu yang menambah pikiranku, Kak. Kumohon jangan ganggu Lingga selama dia di sini agar syuting cepat selesai dan dia bisa segera pergi,” imbuh Quinn tegas.

Ia meluruh berjongkok membuat Leon harus ikut berjongkok untuk memperhatikan ekspresi adik semata wayangnya itu.

“Baiklah, aku mengerti. Awalnya Kakak hanya ingin membantu,” aku Leon lemah.

“Aku tahu, tapi tidak begitu caranya. Mungkin kakak bisa membantuku dengan membawaku jalan-jalan ke Singapura,” Quinn menampilkan senyumnya lagi. “Maafkan aku sudah terlalu emosi, Kak. Aku hanya …”

Leon menepuk bahu adiknya lembut. Ia tahu Quinn adalah tipe yang jika sudah mencintai seseorang, ia akan setia pada orang itu meskipun tak berbalas. Ia juga tahu Quinn tak akan semarah ini jika ia tidak benar-benar merasa lelah secara emosional.

Lihat selengkapnya