BALADA QUINN

NUN
Chapter #14

Bab 14 : Hadiah Pertama dan Terakhir

Quinn tak menyangka ia memiliki ketahanan emosional yang luar biasa. Ia masih bisa bersikap biasa saja seolah tak ada yang terjadi tadi malam antara Quinn dan Lingga. Quinn memverifikasi kutipan bahwa, kita tidak akan pernah tahu batas diri kita sebelum kita menantang batasnya. Kini Quinn sudah menantang batas dirinya yang tak pernah mampu menyampaikan isi hatinya. Sudah, ia sudah cukup menyadari sampai mana batasan dirinya saat ini.

Seperti yang dijanjikan kemarin, hari ini adalah hari pertama masa tanam padi. Quinn mengajak kru televisi untuk mengikuti prosesi awal masa tanam. Orang yang tertua di antara para petani sedang memimpin doa. Mereka dengan syahdu melafalkan doa-doa yang mereka ucap dalam Bahasa Arab kemudian diartikan ke dalam Bahasa daerah. Quinn yang merupakan pemilik lahan, wajib menyaksikan prosesi ini dan ikut berdoa di barisan paling depan. Tak ketinggalan Lingga juga berada di sisi Quinn yang saat ini sedang khusyuk berdoa.

Usai melafalkan ayat suci Al-Quran, pemimpin doa memulai nembang. Ia mendendangkan tembang Sunda yang sarat akan puji-pujian kepada Sang Pencipta dan kekaguman pada alam ciptaan-Nya. Syairnya merujuk pada ungkapan syukur dan memuliakan alam yang mau bekerja sama dengan manusia untuk menyuburkan tanah guna menanam dan menjadikan padi yang layak dikonsumsi. Lingga bertanya pada Quinn apa arti dari syairnya. Quinn pun menjelaskannya.

Hal yang membuat Lingga serta kru televisi takjub adalah Quinn yang masih muda itu mampu memahami dengan pasti setiap tahap produksi padi. Quinn adalah sosok anak muda yang mencintai budayanya. Ia yang sebenarnya mampu untuk bekerja di kota besar, bergaya sosialita, dan hidup dalam kemewahan, justru lebih memilih untuk terjun langsung mengelola sawah. Melakukan pekerjaan kasar, membaur dengan petani, dan tak ragu untuk membantu kehidupan mereka. Di saat anak para petani saja enggan untuk bertani, Quinn justru ingin bisa bertani.

“Awalnya memang banyak anak muda yang enggan ikut bertani dengan orang tuanya. Tapi di tahun kedua saya mengelola langsung, mereka banyak yang pulang dari kota dan resign dari pekerjaan sebelumnya untuk kembali bertani di sini,” ungkap Quinn.

Lingga mengangguk kagum, matanya jelas menampakkan kekaguman absolut pada Quinn.

“Ini menjadi kabar baik tentunya, ya?”

“Memang kabar baik, tetapi ini juga menambah daftar tanggung jawabku. Mereka pulang berharap bisa sejahtera walau tinggal di desa, maka aku harus lebih bersungguh-sungguh untuk bisa sejahtera bersama mereka.”

Quinn pun menunjukkan cara tandur pada Lingga. Ia mengajak Lingga turun ke sawah dan mencoba menanamnya. Quinn memberikan sebagian bibit padi yang dipegangnya pada Lingga. Ia menjelaskan bahwa ini adalah bibit varietas pandan yang tingginya sudah mencapai 25 cm, dengan tinggi tersebut bibit siap ditanam. Karena ini varietas pandan yang memiliki karakteristik merumpun sedang hingga tinggi, maka sistem tanam yang diaplikasikan adalah sistem tanam tegel.

“Kau bisa lihat kotak-kotak ini berukuran 30 x 30 cm. Jarak antar lorongnya sekitar 50 cm. Ini adalah kotakan untuk tanam tegel,” jelas Quinn.

Lingga dengan antusias menyimak setiap ucapan Quinn. Ia pun dengan serius mempelajari cara tandur padi ini.

Quinn juga menjelaskan alasan lain sistem tanam tegel untuk varietas pandannya, selain karena alasan karakteristik padi pandan yang merumpun sedang hingga tinggi, ini juga karena tanah di sini sangat subur dengan sistem produksi yang seutuhnya organik. Ini menyebabkan unsur haranya tinggi sehingga jarak tanam harus lebih lebar dibanding dengan tanah yang kurang subur.

“Mbak Quinn belajar tentang padi sejak kapan?” tanya Lingga penasaran.

“Sebenarnya aku sering mendengarkan orang tuaku saat mereka bekerja sejak kecil. Tapi aku serius belajar baru pada saat menjadi manajer operasional di sini,” Quinn masih berjalan mundur menanam padi.

Lingga pun mengikuti gerakannya. Dan pada saat sampai di ujung sawah, Quinn menahan tawa ketika melihat garis tanam yang dibuat Lingga tidak selurus miliknya. Lebih tepatnya, garis tanam Lingga termasuk jenis zig-zag.

Lingga mengikuti ke arah mana mata Quinn memandang. Lingga tertawa ketika menyadari hasil karyanya.

“Lumayan untuk seorang pemula,” Quinn memujinya.

Ini bukan pujian kosong belaka, ini pujian tulus dari Quinn yang pernah menanam padi lebih buruk dari Lingga.

“Terima kasih atas pujiannya, Mbak Quinn. Oh ya, bicara soal menanam padi, kenapa jumlah maksimal bibit yang ditanam setiap lubang hanya sampai tiga bibit?”

Quinn pun menjelaskan bahwa jika bibit ditanam lebih dari tiga batang padi, maka persaingan antar bibit akan sangat ketat dalam rumpun yang sama. Ini juga agar mereka bisa tumbuh maksimal setiap bibitnya.

“Selain itu, penanaman maksimal tiga bibit sangat ekonomis, bukan?”

Lingga manggut-manggut paham maksud Quinn. Prinsip ekonomi yang paling dasar adalah mengerahkan sumber daya seminimal mungkin dan mendapatkan hasil yang sesuai dan memuaskan. Kurang lebih begitu yang dipahami Quinn.

Correct me if I’m wrong. Saya masih belajar bisnis,” Quinn cepat meluruskan.

Lihat selengkapnya