Quinn baru saja selesai membantu Dita membersihkan dapur. Untungnya tidak terlalu banyak barang yang harus dibereskan karena semua peralatan makan pun dari pihak penyedia catering.
“Inilah enaknya punya uang, menjamu tamu tanpa ribet. Ya, kan, Ma?” Quinn bersandar pada kitchen set.
“Bilang apa?” Dita bertanya.
“Alhamdulillah …” Quinn menjawab.
“Ma, aku mau tanya,” Quinn mendekat pada Dita. “Kak Rayn semalam tidur di mana?”
“Dia tidak tidur di sini. Dia ada vila dekat kantor kecamatan, jadi semalam dia pulang ke vilanya setelah mengobrol banyak dengan Papa. Kenapa kau bertanya? Bukankah semalam kalian sempat bicara juga?”
“Papa bukannya sudah tidur kata Kakak?” Quinn mengalihkan topik pembicaraan. “Kok justru bicara sama Kak Rayn?”
Dita hanya tersenyum tipis penuh arti. “Gimana kami mau tidur kalau Adik dan Kakak berantem semalam?”
Quinn menunjukkan cengirannya. Ya, ia hampir lupa jika orang tuanya ini punya kemampuan mendengar yang luar biasa super. Pernah satu waktu Quinn masih menggulirkan ponselnya di aplikasi media sosial dengan mode senyap, tapi tetap saja ketahuan oleh mama dan papanya dan dimarahi karena tidur larut. Jadi, atas dasar apa semalam pembicaraan Quinn dengan Leon tidak akan terdengar Dita dan Rian?
Dita hanya geleng-geleng kepala melihat anak bungsunya baru menyadari bahwa kejadian semalam juga pasti disaksikan orang tuanya. Pantas saja, hari ini mamanya tidak terlalu ramah seperti kemarin pada Lingga ketika sesi pamitan tadi.
Quinn pun hanya bisa merapatkan mulutnya karena malu dan memilih untuk membawa buah yang sudah dipotong Dita ke ruang tamu. Papanya masih saja berbincang dengan Rayn. Entah apa yang mereka bicarakan hingga seasik itu. Saat Quinn bergabung di ruang tamu mereka seketika terdiam. Sementara Leon memberikan kode kepada papanya untuk memberikan waktu untuk sepasang manusia itu berbicara.
“Om ke dapur dulu bantu Tante, ayo Leon, angkat galon!”
Rian bekerja sama dengan sangat mulus.
Quinn yang sudah duduk juga hendak ikut berdiri lagi. Namun gerakannya terhenti oleh suara Rayn.
“Bisa kita bicara sebentar, Quinn?” suara rendah Rayn membuat Quinn mematung.
Keduanya sempat terdiam sebelum akhirnya Quinn putuskan berjalan keluar menuju ke teras depan diikuti oleh Rayn yang saat ini duduk di kursi sebelah kiri Quinn. Mereka hanya terhalang oleh satu meja minimalis di antara kedua kursi yang mereka duduki.
“Aku minta maaf, Quinn.”
Ucapan pertama yang Rayn ucapkan adalah kata maaf.
“Tidak seharusnya aku datang ke sini mengganggumu,” aku Rayn. “Rasanya aku selalu bersalah padamu, karena kata yang selalu kuucapkan adalah kata maaf.”
Quinn masih membisu, ia hanya memainkan ujung bajunya yang kini telah berubah kusut karena ia gulung-gulung.
“Quinn, apa kau bersedia memaafkanku?”
“Ya, tentu. Aku tidak marah karena kedatanganmu ke sini. Lagi pula kau tamunya Kak Leon. Aku hanya marah pada keadaan. Keadaan selalu membuatmu melihatku di titik paling rapuh.”
Rayn menggeleng dengan cepat.
“Aku datang sejak kemarin, bukan sebagai tamunya Leon. Aku datang sebagai pendukungmu, Quinn,” elak Rayn dengan jujur. “Dan aku tidak keberatan dengan keadaan ini,” imbuhnya.
“Kau tidak, tapi aku keberatan,” Quinn balas cepat. “Aku keberatan memperlihatkan sisi burukku padamu. Aku tidak biasanya emosional. Aku tidak biasanya menunjukkan pada semua orang apa yang sedang kurasakan. Aku terlalu mudah menunjukkan itu di depanmu, Kak.”
Rayn menghadapkan tubuh seutuhnya pada Quinn. Ia merendahkan tubuhnya untuk bisa sejajar dengan Quinn yang semakin tertunduk. Ada sedikit perasaan menggelitik yang Rayn rasakan melihat Quinn mengakui bahwa ia dengan mudah menunjukkan perasaannya. Tetapi juga ia khawatir Quinn akan terus terjebak pada perasaan tak nyaman seperti itu. Membuatnya tidak percaya pada dirinya sendiri.