BALADA QUINN

NUN
Chapter #16

Bab 16 : Ceritanya Panjang

Kalau ada, sembilan nyawa ~

Alamak, lagu yang viral dan tenar beberapa waktu ini terus menggema ke mana pun Quinn pergi. Saat di stasiun, saat di dalam taksi, hingga di kafe tempat ia akan menonton bareng saat ini, lagu itu membuat Quinn candu hingga ikut terhanyut dan sangat menikmatinya. Quinn datang jauh lebih awal sehingga ia memiliki lebih banyak waktu luang. Ia terlalu bersemangat hingga salah melihat waktu yang diinformasikan Lingga tadi pagi, menyebabkannya memesan tiket kereta lebih awal. Untunglah, ruangan ini memang sudah disewa oleh tim stasiun televisi sehingga ia bisa dengan nyaman menunggu yang lain datang.

Quinn yang larut dalam suasana dan balutan musik yang dipilih pihak kafe, tak menyadari kedatangan para staf yang sudah melihat Quinn sejak mereka masuk kafe. Mereka datang bersamaan dengan berjalan kaki karena jarak dari gedung stasiun televisi ke kafe ini hanya 100 meter. Hingga akhirnya Quinn menoleh ke pintu ruang ini saat seseorang membukanya. Quinn melambaikan tangan dengan santai. Sementara Lingga sedikit terlihat canggung saat membalas lambaian tangannya. Mungkin karena masih teringat pengakuan Quinn.

“Hai, Quinn! Apa kabar?” sapanya sembari duduk di sebrang kursi Quinn.

“Baik, kau bagaimana?” tanya balik Quinn.

“Aku baik, hanya sedikit sibuk karena kejar tayang,” Lingga menghindari tatapan Quinn.

Quinn juga saling sapa dengan anggota tim produksi yang lain. Hingga pada saat ini bersalaman dengan sang produser, wanita sebaya mamanya itu memuji Quinn dengan antusias.

“Mbak Quinn, saat saya lihat proses editing, saya langsung yakin kalau acara ini akan sukses karena diawali dengan episode Mbak Quinn. Mbak Quinn sangat berdedikasi, sungguh menginspirasi,” ujar sang produser.

Quinn tersenyum lembut lalu menggeleng pelan.

“Terima kasih, saya dan para petani hanya bekerja sebagaimana mestinya,” Quinn tak ingin mengambil kredit untuk dirinya sendiri.

“Mbak Quinn juga sangat cantik dan anggun. Image petani yang cantik, cerdas, anggun, di mana lagi bisa kita temui jika bukan Mbak Quinn? Tapi ini juga membuat kami menemui masalah baru. Karena standar Mbak Quinn sudah sangat tinggi, jadi kami harus mencari yang juga rupawan, cerdas, dan menginspirasi.”

Kelakar produser bernama Elia itu disetujui oleh Lingga dan seluruh anggota tim produksi. Quinn sudah menahan malu dibuatnya. Ia tidak terlalu nyaman dipuji. Ia tidak terlalu suka dipuji apalagi oleh orang-orang yang tidak terlalu dekat dengannya. Ekspresi yang nampak pada akhirnya hanya senyuman tipis dan rona wajah yang memerah. Ia menunduk tak mampu melihat orang di sekitarnya.

Lingga bisa melihat jelas ekspresi Quinn kemudian mencoba menenangkan Quinn.

“Ini semua sungguhan, Quinn. Tidak apa untuk menerimanya dengan senang hati,” ujarnya pelan. “Kau sepertinya harus mempersiapkan diri karena sebentar lagi yang akan mengagumimu bukan hanya kami, tapi para penonton di seluruh Indonesia.”

Tujuan Lingga memang menenangkan, tapi yang ditangkap Quinn justru seperti rambu waspada. Quinn tidak suka menjadi sorotan. Selama ini ia menjadi sorotan saat sekolah, kuliah, atau di organisasi bukan karena ia sengaja ingin menjadi fokus pandangan semua orang. Ia hanya selalu berupaya melakukan yang terbaik dan bersungguh-sungguh pada apa pun yang ia kerjakan dan lakukan.

Namun kini, detik ia menandatangani kontrak persetujuan tampil di acara televisi, sudah Quinn anggap sebagai langkah “sengaja ingin menjadi sorotan.” Dan saat ia menyerahkan kontraknya pada Lingga, ia sudah mulai mempersiapkan dirinya untuk menjadi pusat perhatian. Sekarang, momennya benar telah tiba, namun Quinn ternyata masih belum merasakan nyaman dengan hal itu.

“Kau pasti akan lebih banyak dikenal orang, Quinn,” Lingga kembali berujar. “Dan kuharap usaha pertanianmu akan lebih maju lagi. Kau pun bisa membantu lebih banyak orang lagi.”

Quinn menipiskan bibirnya yang terasa kering. Ia hanya mengangguk ragu menanggapi ucapan Lingga.

Tak perlu waktu lama, meja sudah penuh dengan camilan, makanan berat, dan minuman. Semua orang juga sudah duduk di kursinya masing-masing dengan posisi memanjang mengikuti bentuk meja persegi panjang ini. Televisi di tengah ruangan sudah diatur pada volume yang tinggi.

“Ini dia, acara kita!” seru salah seorang tim.

Quinn juga ikut merasa grogi saat acara akan diputar. Ia memperhatikan wajah semua orang yang berada pada mimik tegang dan bangga. Lalu ia beralih menatap Lingga. Ia bisa melihat air muka Lingga yang jelas terlihat terharu dan menahan diri untuk tidak emosional.

Acara pun diputar. Dengan latar suara alunan musik kecapi dan suling yang khas, lalu dipadukan dengan video yang menampilkan keindahan alam kontur sawah yang bak lukisan berlatarkan gunung. Lalu Lingga membuka acara, mulai masuk ke halaman rumah Quinn dan disambut oleh Quinn yang sangat amat cantik.

Quinn malu mengakuinya, tetapi dalam hati ia juga takjub melihat dirinya secantik ini di kamera. Ini semua berkat seniman perias wajah yang mendandaninya.

Layar televisi terus dengan mulus menayangkan percakapan Lingga dan Quinn dalam suasana yang akrab. Quinn tak menyangka ia bisa menyembunyikan semu dengan sangat baik di depan kamera. Akhirnya Quinn paham maksud kakaknya tempo hari. Quinn terlalu mudah mengabaikan perasaannya. Kini ia mengerti hal itu ketika melihat dengan jelas wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi layaknya seorang perempuan yang baru berinteraksi dengan idola dan orang yang disukainya. Tidak terlihat ekspresi fangirling yang seharusnya.

Antara aku sangat profesional atau memang benar kata Kakak, aku terlalu sering mengabaikan perasaanku sendiri. Hingga tak sadar lukanya sudah terlalu dalam, dan berakhir hanya dengan menganggapnya sebagai hal biasa.

Quinn mulai menyadari itu. Selama ini ia menepis perasaan sakit yang timbul saat mencintai seseorang secara sepihak. Sejak bertemu Lingga lagi, ia juga menepis rasa cemburunya pada Sisil. Sejak bertemu Lingga, ia juga menepis rasa bencinya dan bahkan menerima tawaran Lingga dengan senang hati. Saat ia menyatakan perasaan, ia juga menepis patah hatinya dengan meyakinkan diri untuk tetap profesional.

Bagaimana bisa seseorang yang sering menepis, mengingkari, dan mengabaikan perasaannya sendiri berharap perasannya bisa diterima orang lain? Sementara dirinya saja belum dapat menerima setiap rasa yang ia rasakan. Pengingkaran terhadap perasaannya sendiri adalah takhta tertinggi dari cinta bertepuk sebelah tangan.

Quinn larut dalam pikirannya hingga acara tak terasa sudah berada pada sesi penutupan. Ketika acara benar-benar selesai, riuh tepuk tangan semua hadirin membawa kembali Quinn pada ruang dan waktu yang seharusnya.

“Selamat untuk kita semua!” seru Produser Elia.

“Selamat untuk kita semua!” semua orang ikut berseru.

Quinn juga ikut bertepuk tangan. Quinn mengagumi semangat tim yang luar biasa. Ia juga benar-benar menyukai konsep acara ini. Lingga sebagai host juga sangat pandai mempresentasikan acara. Quinn mengira Lingga sudah termasuk sebagai senior dalam bidang presenter ini. Belum lagi dengan sinematografi yang ciamik nan memanjakan mata. Dengan ketulusan hatinya yang paling dalam, Quinn berharap acara ini terus bertumbuh dan disukai banyak orang sehingga bisa terus berlanjut dalam waktu yang lama.

Satu per satu orang mulai menyampaikan kesan dan pesannya usai menonton. Kemudian tiba giliran Quinn yang diminta mengucapkan beberapa patah kata. Quinn pun bersedia karena memang sudah seharusnya ia berterima kasih dan mengapresiasi kerja semua orang. Ia sudah menyusun kalimat yang akan ia sampaikan dalam benaknya. Ia pun berdiri agar dapat dilihat semua orang. Quinn yang hari ini menggerai rambut indahnya tanpa aksesoris seketika menyihir semua orang. Mereka menantikan apa yang akan diucapkan Quinn.

“Terima kasih banyak semuanya atas kerja kerasnya,” Quinn mulai berbicara. “Terima kasih sudah percaya untuk bekerja bersamaku di episode perdana ‘genZ menginspiraZ’ ini. Saya terharu dan sangat bangga melihat acara ini begitu luar biasa. Tim produksi yang sangat luar biasa. Terima kasih untuk Lingga yang sudah merekomendasikanku. Saat ini rating acara memang sudah tinggi seperti kata Bu Elia tadi. Tapi saya berharap sepenuh hati, rating akan terus meningkat pada episode-episode mendatang bersama bintang tamu lainnya. Sekali lagi, terima kasih banyak! Saya akan terus menjadi penonton setia ‘genZ menginspiraZ’.”

Pidato singkat Quinn ditutup tepukan tangan semua orang. Lingga juga menatapnya penuh arti. Quinn pun kembali duduk.

Usai dengan menonton bareng, mereka pun berbincang sejenak sebelum akhirnya waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Quinn pun pamit untuk pulang. Ia juga sudah tidak sabar untuk menyambangi Rayn. Bagaimana pun mereka berdua memang harus bicara. Sempat Elia tawari sopirnya mengantar Quinn ke stasiun kereta cepat, namun Quinn tegas menolak. Lagi pula ia sudah memesan hotel untuk menginap semalam di Jakarta. Besok ia juga akan bertemu Vita—sahabatnya mumpung esok adalah hari Sabtu.

Usai pamit, Quinn berjalan keluar kafe kemudian berjalan ke arah Narpati Tower yang terletak hanya beberapa ratus meter dari tempatnya berada. Quinn berharap Rayn masih berada di kantornya sedang lembur. Ketika ia sudah memastikan arah di peta digitalnya, Quinn pun hendak pergi. Hingga seseorang memanggilnya.

“Quinn! Kau mau jalan ke mana? Tidak naik taksi?” Lingga bertanya dengan cemas.

Sepertinya Lingga terus memperhatikan Quinn sejak tadi karena ia langsung berlari menghampiri Quinn begitu Quinn melangkah. Dan Quinn membenci fakta bahwa Lingga perhatian padanya.

Lihat selengkapnya