Pagi ini dimulai dengan senyum terpaksa. Ingin misuh-misuh tapi Quinn tak mau menebar energi negatif ke dalam dirinya. Batal sudah Quinn bertemu dengan Vita. Semalam saat sudah sampai di kamar hotelnya, ia menelepon Vita dan mengabari kalau hari ini ia belum bisa bertemu dengannya. Meski Vita bilang pada hari Minggunya ia masih senggang, namun Quinn menolak karena ia harus mengecek kondisi tanah di areal sawahnya. Ya, mengecek unsur tanah seperti derajat keasaman tanah adalah sebuah keharusan usai menanam padi. Untunglah Vita sangat pengertian hingga ia tak mempermasalahkan lebih jauh. Meski ini harus diganti Quinn dengan cerita pertemuannya dengan Rayn. Ya, Vita memaksanya berjanji untuk menceritakan sosok Rayn padanya. Sosok yang sepertinya akan menggantikan topik berjudul Lingga di setiap sesi curahan hati Quinn.
Setelah Quinn selesai mandi, berganti pakaian, dan check in di grup obrolan keluarganya untuk memberikan kabar terbaru, Quinn segera keluar dari kamar dan menuju ke restoran hotel untuk sarapan. Quinn hari ini mengenakan rok rempel selutut serta sweater merah muda yang pas di tubuhnya. Ia terlihat segar dengan rambut yang diikat setengah. Beberapa kali berpapasan dengan petugas hotel yang menyapa, Quinn membalasnya dengan sapaan ramah. Dalam hati ia bertanya-tanya menu apa yang akan ia makan hari ini.
Sesampainya di restoran, Quinn langsung menuju jajaran menu makanan berat. Ia melihat ada banyak pilihan makanan yang rasanya ingin ia makan semua karena semalam ia sudah merasakan laksa yang luar biasa nikmat. Ia yakin makanan di hadapannya ini juga tak kalah enak.
“Matamu sudah seperti akan melahap semuanya sekaligus,” bisik seseorang yang kini berdiri di samping Quinn.
“Kak Rayn? Kenapa sudah ke sini? Bukankah kita sepakat bertemu pukul 10?” Quinn mengecek jam tangannya. “Ini masih pukul 8 tepat.”
Rayn menahan senyumnya kemudian menjawab, “Layanan sarapan ini termasuk untuk dua orang. Sayang jika kau hanya makan sendiri.”
Quinn melipat dua tangannya di dada.
“Aku bisa makan sebanyak porsi untuk dua orang. Ternyata kau cukup perhitungan untuk seorang pewaris perusahaan,” sindir Quinn sambil tertawa.
“Justru karena itulah aku bisa menjadi pewaris,” balas Rayn.
Quinn menghela napasnya pelan, ia baru ingat, jika tak perhitungan bagaimana bisa mempertahankan bisnis besar mereka.
“Gawat! Aku disukai orang yang perhitungan,” Quinn bergidik ngeri.
Menyadari ucapannya barusan, Quinn menutup mulutnya segera.
“Sudah menyadari bahwa aku menyukaimu, huh?” goda Rayn begitu ada kesempatan.
Quinn mencebikkan bibirnya lalu pergi mendahului Rayn. Ia segera membawa piring besar dan mengisinya dengan berbagai makanan, mulai dari nasi goreng, hingga roti lapis. Selesai mengisi piring besar dengan makanan berat lalu menaruhnya di sebuah meja dekat jendela, tanpa menunda waktu Quinn kembali pergi dan membawa piring berukuran sedang yang ia isi makanan penutup khas Nusantara dan juga buah-buahan. Tak lupa ia mengambil seporsi mangkuk soto bening untuk supnya.
Saat kembali ke meja, Rayn sudah duduk manis di sana dan sedang memperhatikan makanan di meja yang dibawa oleh Quinn.
“Kau tidak bercanda saat bilang bisa menghabiskan makanan untuk porsi dua orang?” Rayn bertanya tak percaya.
“Siapa pula yang tak memercayaiku? Makanku banyak, kau saja yang tidak memperhatikan saat kita makan bersama.”
Rayn kehilangan kata-kata saat mendengar pengakuan Quinn.
“Aku memperhatikanmu, Quinn. Tapi saat itu tidak sebanyak saat ini,” Rayn terkekeh. “Aku harus lebih banyak mencari uang agar bisa memberimu semua makanan kesukaanmu.”
Peran telah berganti kini giliran Quinn yang menatap Rayn nanar. Quinn mengangkat sebelah alisnya lalu berhenti makan sejenak.
“Aku tidak butuh Kak Rayn untuk memberi makanan yang aku suka. Aku bisa membelinya sendiri,” ujar Quinn serius.
“Aku tahu kau lebih dari mampu untuk membeli apa pun yang kau suka. Tapi tetap saja, bagiku dan selama kau denganku jangan sampai kau menggunakan uangmu untuk memenuhi keinginanmu.”
Quinn manggut-manggut tak menanggapinya serius. Namun ia tetap berceloteh, “Aku hanya teman bicaramu. Jangan terlalu royal padaku!”
Rayn hampir tersedak. Lagi-lagi dua kata itu disebut Quinn.
“Tidak apa. Karena aku hanya punya satu teman bicara.”
***