Sepulangnya dari Jakarta, suasana hati Quinn berubah membaik. Jauh membaik dari sebelumnya. Hal ini tak lepas dari perhatian kedua orang tua dan kakaknya yang sudah bisa menerka apa yang terjadi pada Quinn ketika di Jakarta.
“Ada yang berhasil move on,” celetuk Leon tiba-tiba.
Semua anggota keluarga menatap Leon, termasuk Quinn yang merasa dirinya sebagai subjek dari kalimat yang baru saja diucapkan kakaknya.
“Entah sejak kapan, ya? Sejak tanda tangan kontrak dengan Pak Nurmawan, kah?” Dita ikut menimpali.
Quinn hanya menautkan alisnya. Ia memang merasa dirinya yang sedang dibicarakan mama dan kakaknya, tapi ia tidak tahu sejak kapan hatinya bisa begitu transparan hingga mamanya menebaknya di lini masa yang telah lama berlalu.
“Benarkah?” kini papanya yang penasaran.
Quinn menahan napas dalam, kini papanya juga ikut larut dalam pembicaraan sensitif ini.
“Apa saja yang kau bicarakan dengan Rayn?” tanya Dita antusias.
“Bicara ini dan itu,” jawab Quinn berusaha normal.
“Dia sudah menyatakan perasaannya?” pertanyaan Leon semakin berani.
Quinn memutar bola matanya malas. Ia sungguh tidak ingin mengumbar kisah asmaranya secara terbuka di meja makan seperti ini. Quinn biasanya hanya bercerita pada mamanya tentang apa saja yang ia alami. Quinn jengkel pada kakaknya yang membuka pembahasan seperti ini di depan semua orang.
“Benarkah?” Dita menutup mulutnya tak percaya. “Mama kira Rayn akan terus memendamnya sampai mama harus turun tangan membantu. Cepat juga dia, ya.”
“Ma …” Quinn memelas. “Ia memang sudah mengakui perasaannya, tapi aku belum bisa menjawabnya pasti.”
“Jangan sampai kau menyesal, Dik. Dia orang yang baik,” Leon memberikan petuah.
“Benar!” seru Dita. “Jangan sampai kau menyesal terjebak terlalu lama dengan masa lalu. Rasa suka tak berbalas dan sulit diprediksi, tidak berarti dibandingkan hubungan saling mencintai. Mama lihat, kau bukan tak memiliki perasaan pada Rayn, kau hanya perlu diyakinkan.”
Quinn terdiam mendengar nasihat kakak dan mamanya. Ia sadar bahwa dirinya memiliki ketertarikan pada Rayn. Jika tidak, untuk apa ia menemui Rayn kemarin. Ia bukanlah tipe orang yang mau menghabiskan waktu dengan orang yang tidak berarti baginya. Selain keluarga dan sahabat dekat, ia tidak mungkin bisa sebebas itu mengekspresikan diri.
“Kali ini papa tidak sepaham dengan Mama dan Leon,” Rian tiba-tiba bersuara.
“Kenapa, Pa?” Quinn bertanya cepat.
Begitu pula dengan Dita dan Leon yang sudah menautkan alisnya, bertanya-tanya pada Rian yang jelas adalah orang yang mengenalkan Rayn pada Quinn.
“Ada hal yang belum kau tahu. Tapi juga belum ingin papa beritahukan padamu. Yang jelas, kau harus memikirkan dengan sangat matang jika kau ingin bersama dengan Rayn. Jangan sampai keputusan yang kau buat hanya karena perasaan sesaat.”
Petuah Rian jelas bukan omong kosong belaka. Selama ini Rian tak pernah ikut campur mengenai masalah asmaranya. Tapi kali ini nasihatnya terdengar di level sangat serius, maka harus Quinn ingat baik-baik. Kendati sebenarnya tanpa diingatkan Rian pun Quinn akan mempertimbangkan dengan matang, tapi penekanan dari Rian mengingatkannya untuk lebih waspada.
“Aku ingin menambahkan,” Leon kembali bicara. “Kalau kau tidak tertarik pada Rayn, segera menjauh dan jangan memaksakan diri. Aku tidak ingin canggung berada di tengah-tengah kalian.”
***
Selayaknya hari-hari Quinn di desa, kegiatannya tak jauh dari mengecek kondisi sawah, mengukur pH tanah, berjaga di toko, hingga melakukan pembukuan. Semuanya tenang dan damai seperti biasanya. Meski dunia nyatanya begitu tenang dan damai, dunia mayanya justru berbanding terbalik. Sudah lebih dari sepekan acara televisi yang menampilkan dirinya tayang, tetapi akun Instagramnya masih saja riuh oleh pengikut baru serta pesan-pesan yang masuk yang tidak tahu apa isinya. Quinn hanya membuka satu-dua pesan kemudian ia berikan reaksi dengan emoji hati untuk berterima kasih atas dukungan para pengirim pesan.
Quinn mendadak menjadi selebritis Instagram, begitu kira-kira situasi yang sedang terjadi saat ini di jagad mayanya. Pengikutnya bertambah bukan dalam hitungan jari lagi, melainkan sudah dalam hitungan K. Hingga saat ini terpantau pengikutnya sudah mencapai 300k. Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh hari.
Banyak orang yang sudah mengingatkan hal ini pada Quinn termasuk tim produksi yang sudah mengatakan kalau rating acaranya baik maka pasti Quinn akan mendapat banyak perhatian. Hal itu kini sudah terbukti.
Ada perasaan gelisah yang Quinn rasakan ketika melihat orang berbondong-bondong mengikutinya. Ini seperti surat obligasi di mana Quinn harus membagikan unggahannya setiap hari pada para pengikutnya. Namun Quinn bukan tipe orang yang senang mengunggah banyak hal. Ia hanya sesekali mengunggah cerita di saat momen-momen tertentu.
Untuk kesekian kalinya Quinn menyegarkan ulang tampilan layar aplikasi medsosnya. Baginya ini seperti sebuah fana illusion. Ini bukanlah sesuatu yang nyata.
“Kak Quinn,” panggil Eka. “Kau sedang melihat apa sampai melotot begitu?”