BALADA QUINN

NUN
Chapter #19

Bab 19 : Acara Lelang

Tawaran demi tawaran datang pada Quinn. Dimulai dari penawaran menjadi duta produk kecantikan hingga tawaran kerja sama bisnis. Namun sulit untuk menemukan yang menarik perhatiannya. Sampai akhirnya ia menemukan sebuah pesan yang meminta alamat surelnya. Mereka mengatakan akan menyelenggarakan acara lelang amal untuk membantu korban bencana yang baru saja terjadi. Quinn pun segera membalasnya. Ia ingin informasi detail acaranya.

Tak perlu menunggu waktu lama, Quinn pun menerima surelnya. Ia segera membaca seluruh informasi pada dokumen yang dikirim padanya. Ternyata itu adalah sebuah acara lelang yang diinisiasi komunitas pengusaha. Mereka mengundang banyak pebisnis, dari mulai pelaku UMKM hingga pelaku bisnis besar dan multinasional. Quinn diundang karena kini sedang naik daun dengan citranya sebagai petani gen Z yang sukses. Sejujurnya Quinn merasa agak risih dengan titel “sukses” yang disematkan padanya, tapi ia tetap ingin mengapresiasi acara ini secara langsung.

Quinn bersicepat menghubungi papanya yang sedang meninjau panen pala. Begitu papanya menerima panggilan ia langsung bertanya apakah ia boleh mengikuti acara lelang amal. Rian terdengar tertarik tapi ia tidak langsung menyetujui. Rian meminta Quinn untuk mengirimkan informasi detail acaranya. Ya, jangan tanya sikap hati-hati Quinn menurun dari siapa, karena jawabannya jelas adalah papanya. Sebelum memutuskan sesuatu Rian selalu melihat sebuah isu secara keseluruhan, dan itulah yang kini sedang ia lakukan. Semata-mata hanya untuk melindungi keluarga kecilnya.

“Oke, Pa. Quinn sudah mengirimkan email-nya. Papa segera baca, ya!” pesan Quinn sebelum menutup sambungan telepon.

Ia sangat berharap bisa berpartisipasi dalam acara tersebut. Quinn juga sudah memikirkan barang apa yang akan dilelangnya dan berapa harga yang akan ia tawarkan di awal.

***

Bagi Quinn dan Rayn sudah menjadi sebuah rutinitas untuk saling menanyakan kabar dan bagaimana hari mereka berlangsung. Tetapi, biasanya itu hanya dilakukan melalui sambungan telepon. Dan tanpa Quinn sangka Rayn hari ini datang untuk memberinya kejutan yang tak lain adalah produk coklat yang akan segera diluncurkan oleh anak perusahaannya. Rayn datang bersama Julian—sekretaris pribadinya karena ia terlalu lelah untuk menyetir setelah jadwal padatnya. Mereka menghampiri Quinn di kantornya, ia baru saja selesai melakukan pembukuan seperti biasanya. Hari ini ada banyak pembeli sehingga mereka juga harus menggiling padi untuk memenuhi stok beras.

Surprise!” seru Rayn sambil menenteng paper bag.

Quinn tersenyum simpul sambil memalingkan wajahnya, tak kuasa menutupi rasa senangnya dikunjungi Rayn usai bekerja.

“Kau sudah selesai?” tanya Rayn mendekat.

“Baru saja selesai,” jawab Quinn sambil melihat ke arah belakang Rayn.

“Biar kuperkenalkan, ini Julian, sekretaris pribadiku,” Rayn menyingkir dan membiarkan Quinn bersalaman dengan Julian.

“Quinnirene, panggil saja Quinn.”

“Julian,” ia memperkenalkan diri. “Saya tidak cukup berani untuk memanggil nama depan anda. Biarkan saya memanggil Ibu Quinn,” sembari menatap atasannya.

Quinn menyetujuinya cepat karena ia ingin segera melihat apa yang kali ini dibawa oleh Rayn untuknya. Mereka segera duduk setelah Quinn memperkenalkan Eka. Kemudian ia membuka oleh-oleh dari Rayn.

“Coklat lagi!” seru Quinn senang. “Kali ini dibeli di mana? Aku tidak familier dengan coklat ini,” ujar Quinn meneliti kemasannya.

“Ini produk baru salah satu anak perusahaanku. Tak lama ini akan segera dirilis. Aku ingin kau mencobanya lebih dulu. Dan jangan dulu dibagikan pada siapa pun.”

Quinn melirik pada Eka yang hanya melentingkan bahunya tanda tak masalah dengan ucapan Rayn.

“Kak, sepertinya aku selalu dijadikan kelinci percobaan produk barumu? Dan mohon maaf, aku tetap ingin membaginya pada Eka,” Quinn berujar serius.

Rayn menegakkan tubuhnya dari tempat duduknya.

“Maksudku, kalau untuk Eka tentu saja boleh. Aku hanya berjaga agar produknya biar nanti saja diketahui publik saat perilisan,” Rayn cepat mengoreksi ucapannya sendiri.

Melihat bosnya duduk dengan tegang dan meminta maaf segera atas ucapannya, sungguh adalah hal yang langka bagi Julian. Ia tak menyangka, sepanjang kariernya sebagai sekretaris pribadi Rayn, ia bisa melihat pemandangan seperti ini. Jika saja tadi ia sedang memegang ponselnya, ia akan merekamnya dan memberinya judul, terciptanya sebuah sejarah baru. Selama ini, Julian hanya melihat sisi serius dan intimidatif Rayn. Bukan berarti Rayn tidak baik sebagai seorang pemimpin, hanya ia terlampau serius dalam pekerjaannya. Rayn lah yang biasanya membuat orang tegang dan ketakutan di hadapannya. Ternyata ada juga momen di mana Rayn yang justru ketakutan.

Rayn sadar sekretarisnya sedang menertawakan dirinya, jadi ia menyenggol sepatu Julian untuk menghentikannya.

“Bos, ternyata ini yang kau takutkan selain harga saham turun?” Julian makin berani.

Rayn sudah menggertakan giginya. Rahangnya mengeras menahan kesal terhadap Julian. Andai saja tidak sedang bersama Quinn, habis sudah Julian oleh tatapan mautnya. Sepulangnya dari sini Rayn akan memberinya banyak tugas.

Quinn dan Eka tentu saja menyaksikan semuanya dengan jelas. Quinn menahan tawa saat melihat ekspresi Rayn. Ini pertama kalinya Rayn menampilkan ekspresi marah di depan Quinn. Bukannya takut, Quinn justru gemas melihatnya.

“Sudah, sudah,” ujar Quinn menenangkan. “Aku akan ajak kalian makan enak. Ada restoran baru yang buka di dekat sini, aku yang traktir!”

Mereka pun mengikuti langkah Quinn yang sudah menuju keluar toko. Ia membawa coklatnya kemudian menaruh beberapa bungkus di atas motor Eka, sementara sang empu sedang menutup toko.

Rayn menghampiri Quinn yang sedang memperhatikan Eka.

“Kau tidak membawa motor?”

“Tidak, hari ini kakiku terkilir jadi aku dijemput Eka tadi,” Quinn memperlihatkan perban di kakinya.

Rayn baru menyadari hal itu setelah Quinn menyibak sedikit celananya.

“Masih sakit tidak?” tanya Rayn sambil berjongkok memeriksa kaki Quinn.

“Sudah diurut. Sudah tidak sakit, hanya belum boleh melakukan aktivitas berat beberapa hari kata Kak Leon.”

Rayn kembali berdiri dan menatap lama wajah Quinn. Ia sangsi dengan pernyataan baik-baik saja dari bibir Quinn. Seringnya Quinn bicara begitu padahal ia sedang kesakitan.

“Kak, sungguh aku tidak apa-apa.”

Quinn mencoba melompat tinggi untuk menunjukkan kakinya baik-baik saja. Rayn langsung memegang erat kedua lengan Quinn. Tatapannya jelas mengkhawatirkan Quinn. Tapi untuk saat ini ia memilih percaya pada ucapan Quinn.

“Ayo, berangkat!”

“Kau naik ke mobilku, Julian ikut Eka saja!”

***

Quinn memesan tanpa ragu, dimulai dari stik daging sapi ukuran besar untuk dimakan bersama, soto betawi, sate ayam taican, cheese cake untuk makanan penutup, serta beberapa minuman yang sesuai dengan keinginan para tamunya.

Selagi mereka menunggu makanan, Quinn memilih untuk membicarakan tawaran untuk ikut acara lelang. Ia menceritakan hal tersebut pada Rayn agar ia bisa mendapat saran dari guru bisnis privatnya ini. Ya, jangan dikira Quinn dan Rayn hanya membahas soal perasaan di dalam rutinitasnya berbincang. Mereka juga banyak membahas seputar bisnis. Ini Quinn yang banyak bertanya, dan tentu saja Rayn dengan senang hati menjelaskannya.

“Om Rian sudah setuju?” tanya Rayn.

“Belum, Papa masih mempelajari petunjuk teknisnya.”

“Kalau begitu ikut apa kata Om Rian saja, Quinn. Papamu sangat hebat sebagai pebisnis lebih dari apa yang kau kira,” Rayn meyakinkan Quinn.

“Aku yakin Kak Rayn juga mendapat tawarannya, kan?”

Rayn mengangguk pasti.

“Kalau begitu, apa kau akan berpartisipasi?” Quinn memastikan.

“Tentu, Ibuku sudah menyetujuinya.”

Quinn langsung menatap iri pada Rayn. Meski ia tahu acara lelang seperti ini selalu memiliki agenda tersembunyi dalam dunia bisnis, namun ia tetap ingin berpikir positif bahwa apa yang mereka lakukan semata hanya untuk membantu saudara sebangsa dan setanah air yang sedang terkena musibah. Tidak lebih dan tidak kurang.

“Acara ini sebenarnya aman, Quinn. Terlebih ini bisa membangun koneksi. Om Rian pasti akan segera menyetujuinya,” ujar Rayn menenangkan. “Hanya saja …”

Lihat selengkapnya