BALADA QUINN

NUN
Chapter #20

Bab 20 : Kisah Lama Orang Tua

Pagi hari yang cerah dengan semilir angin sejuk menusuk berkat hujan deras kemarin sore. Ya, hujan ternyata merata hingga ke desa. Quinn yang semalam diantarkan oleh Rayn masih merasa lelah, serasa enggan bekerja padahal hari ini ada pesanan beras dalam partai cukup besar yang akan diambil oleh pemesan. Ingin sekali Quinn wakilkan pada Eka, tapi ia sudah absen bekerja kemarin.

“Jadi, bagaimana acara kemarin?” Leon bertanya begitu masuk ruang makan.

Quinn malah menguap dan menaikkan kedua kakinya ke kursi karena kedinginan.

“Iya, Dik. Mama juga penasaran, kemarin bagaimana?” Dita duduk di samping Quinn.

Quinn pun menceritakan bahwa ia senang sekaligus asing dengan suasana kemarin. Untung saja Rayn datang dan menemaninya sehingga ia tidak begitu bosan. Ia juga menceritakan bahwa di lingkungan sosial seperti itu ia harus pandai bertindak cepat, ia mengakui bahwa apa yang dikatakan Dita soal tampil lebih berani termasuk untuk berani bertindak. Bagian terakhir yang ia ceritakan tentu saja adalah perkenalannya dengan Rayfana.

“Kau sudah berkenalan dengan Rayfana? Apa yang dia bilang?”

Rian yang sedari tadi tidak bicara dan hanya memperhatikan perbincangan pagi di meja makan keluarga ini, akhirnya membuka suara.

“Bu Rayfana senang bertemu denganku. Kak Rayn bahkan bilang sepertinya ibunya menyukaiku,” jawab Quinn ragu. “Ada apa, Pa? Kenapa setiap kali membahas keluarga Kak Rayn, Papa selalu berhati-hati?” Quinn memberanikan diri bertanya.

Rian menghela napas panjang, menaruh tablet yang menampakkan koran digitalnya di meja. Ia menatap serius pada Quinn, lalu beralih pada sang istri.

“Ma, apa benar anak kita sudah dewasa?” tanya Rian pada Dita.

“Tidak ada rahasia yang bertahan selamanya, Pa. Mereka harus mendengar kisah lama orang tuanya,” Dita berujar.

Leon yang juga belum mengetahui detail alasan papanya melarang Rayn bicara pada keluarganya soal keluarga Leon, ikut segera memasang indra pendengarannya pada level terawas.

Rian pun memulai kisahnya dari masa muda ayahnya, Tuan Agun Pangestu, kakek Leon dan Quinn. Dulu kakek mereka adalah pemuda yang bersemangat dan memiliki daya juang yang tinggi. Sejak usia remaja ia sudah belajar berbisnis dan merantau ke ibu kota. Pada saat bekerja di kota, Agun bertemu dengan Narpati yang tak lain adalah kakek Rayn. Mereka berdua sama-sama pekerja keras. Mereka memulai bisnis bersama toko kelontong pada awalnya. Namun mereka senang membeli barang langsung dari produsen pertama.

Bisnis mereka kian lancar dan kian membesar hingga akhirnya mereka mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang produksi makanan bernama PT. Agun Narpati. Awalnya mereka berdua mengelola perusahaan dengan kompak. Sampai pada akhirnya, tibalah waktu perusahaan untuk ekspansi. Narpati dan Agun tentu sangat bersemangat. Itu pada awalnya.

Hingga saat investor datang dan mengajukan beberapa syarat komitmen investasi, Agun tidak setuju. Berbeda dengan Narpati yang ternyata ingin ekspansi besar-besaran dengan cara membuka lahan hutan secara masif untuk industrialisasi. Agun tidak menyetujuinya karena sejak awal Agun setuju mendirikan perusahaan adalah agar mereka bisa menjadi pengusaha di bidang produksi makanan yang tidak banyak merusak alam. Agun yang berangkat dari kota kecil yang penuh dengan panorama alam yang indah, kukuh mempertahankan prinsipnya.

“Kenapa Kakek bisa sampai tidak setuju, Pa?”

Leon tidak mengerti, karena menurutnya industrialisasi bisa saja dilakukan di lahan yang memang peruntukannya. Dalam logikanya seharusnya Agun tidak serta merta menolaknya hanya karena faktor industrialisasi.

“Di tahun itu ada kebijakan sabuk hijau lahan di mana lahan yang ada di pinggiran kota-kota besar adalah lahan yang seharusnya hijau dan terjaga,” Rian melanjutkan ceritanya.

Kebijakan sabuk hijau lahan, membatasi industrialisasi yang saat itu mulai gencar dilakukan. Tetapi Narpati memaksakan kehendaknya hingga ia menghalalkan segala cara demi ekspansi usahanya. Agun jelas tidak setuju apalagi investor itu bukan dari dalam negeri sehingga ia sangsi mereka akan mau tetap berprinsip baik di tanah air orang lain. Bagi Agun, perusahaannya saat itu sudah cukup sukses dan cukup untuk terus beroperasi hingga anak cucunya kelak. Alhasil mereka pecah kongsi, Agun menjual semua saham atas namanya di PT. Agun Narpati.

Setelah menjual seluruh sahamnya, Agun kembali ke kampung halamannya dan menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Agun membeli banyak lahan di kota kecil ini lalu beralih profesi menjadi seorang petani. Areal sawah atas namanya mencapai seratus hektare. Saat ini 50 ha sawah yang dikelola Quinn adalah hasil bagi waris Rian dengan Zayid, adik Rian. Bukan hanya itu, kakeknya juga membeli banyak kawasan hutan yang ia tanam pala di sana dengan tumpang sari pohon besar lainnya. Total lahannya juga bisa mencapai ratusan hektare jika ditambah lagi dengan lahan hutan yang mereka tanami cabai juga di dalamnya.

Menurut Rian, saat itu harga lahan di kota kecil ini jauh lebih murah dari harga pasarnya saat ini. Jika dihitung total dengan yang sekarang menjadi milik Zayid, luas totalnya jelas lebih banyak lagi.

Usai Agun dan Narpati pecah kongsi, mereka menjalani kehidupan masing-masing tanpa saling menanyakan kabar. Sampai satu waktu Narpati datang berkunjung ke desa. Agun tentu sangat terkejut tapi tetap disambut hangat. Saat itulah mereka kembali berbicara empat mata untuk saling memahami.

Di usia senja mereka mulai memahami pemikiran satu sama lain. Yang dulunya mereka mengedepankan ego masing-masing, saat itu mereka berbincang dengan jauh lebih bijak. Agun mengakui bahwa sebetulnya di masa itu jika ingin memajukan usaha dan lebih banyak membantu orang lain dengan membuka lapangan pekerjaan, tentu saja harus melakukan langkah berani seperti yang dilakukan Narpati.

Agun juga mengatakan pada Rian bahwa jika ingin memajukan agrobisnis tanpa industri yang kokoh, tentu saja itu mustahil. Itulah mengapa saat Rian beranjak dewasa Agun mulai menjadi pemasok perusahaan besar yang memproduksi dan mengekspor pala serta cabai.

Sebaliknya, Agun menceritakan bahwa saat berjumpa lagi dengan Narpati, sahabat lamanya itu juga memahami mengapa Agun dulu bersikeras mengatakan bahwa industrialisasi membabi buta tanpa memikirkan sisi lingkungan akan menjadi bom waktu. Bagi Agun, ucapan Narpati itu menunjukkan bahwa mereka pada akhirnya bisa saling memahami visi satu sama lain.

Narpati juga mengisahkan dirinya yang memutuskan untuk memperluas usaha dari hulu ke hilir agar ia bisa mengontrol semua kebijakan yang diambil.

“Saat menceritakan itu Kakek tertawa hingga terbahak. Ia bilang Pak Narpati masih saja membanggakan kinerjanya. Pak Narpati pamer jika kini grup perusahaannya sudah dari hulu ke hilir dengan prinsip minimalis limbah. Grup Narpati mengelola usahanya dengan cara yang ramah lingkungan, jadi tidak akan merusak lahan hijau yang sangat disukai Kakek kalian.”

Quinn, Leon, dan Dita tersenyum mendengarnya. Ternyata Agun dan Narpati benar-benar masih memikirkan satu sama lain meskipun mereka sudah tidak pernah saling menghubungi dalam beberapa dekade. Mereka masih saling menyelami idealisme masing-masing yang justru mereka pahami di usia senja mereka.

“Namun tak lama dari itu, Pak Narpati meninggal dunia. Kakek sangat terpukul. Kakek menyesal karena terlambat memahami. Kakek bilang seharusnya mereka bisa berkompromi,” tutur Rian.

“Jika hubungan mereka sudah membaik, lalu kenapa Papa khawatir aku dekat dengan Kak Rayn dan ibunya?” Quinn menyuarakan kegelisahannya.

“Ini adalah masalah baru,” terang Rian.

Saat Narpati meninggal, Rian mengantar Agun untuk melayat. Agun ingin mengantarkan sahabatnya ke peristirahatan terakhirnya. Tetapi tidak semudah itu karena keluarga Narpati tak menyambut Agun dengan baik. Mereka bahkan enggan untuk melihat Agun. Namun itu tak membuat Agun menciut. Ia terus mengikuti proses pemakaman hingga akhir. Saat itu sekretaris pribadi putri tunggal Narpati yakni Rayfana yang menyampaikan pesan.

“Dia menyampaikan bahwa tidak seharusnya orang yang meninggalkan Pak Narpati hadir dan berempati. Sejak saat itu Kakek kalian paham kalau Rayfana masih kesal mengenai kejadian Kakek yang menjual seluruh sahamnya di waktu yang krusial,” Rian terlihat menyayangkan. “Ia masih yakin bahwa saat itu Kakek menjual seluruh sahamnya di saat yang justru paling dibutuhkan.”

Lihat selengkapnya