Hiruk pikuk terpampang nyata di tokonya karena hari ini banyak pembeli beras yang terus datang silih berganti mengharuskan Quinn dan Eka bekerja ekstra. Pembeli dari seluruh penjuru kecamatan datang termasuk para petani yang bekerja di sawahnya.
Musim panen selanjutnya hampir tiba. Karena itulah mereka sudah kehabisan stok beras di rumahnya. Sudah waktunya mereka membeli beras dari toko, tentu saja dengan harga yang jauh lebih murah dari harga jual pasar saat ini. Mereka membeli beras menggunakan semacam kartu platinum member. Quinn ingin mereka juga merasakan menjadi VIP sebuah toko yang sensasinya biasanya hanya bisa dinikmati orang berada.
Meski lelah seharian namun Quinn selalu bersemangat dalam bekerja karena ini berarti pundi-pundi rupiah yang didapat juga akan semakin banyak. Terbukti sudah karena Quinn dan Eka seperti biasa langsung menghitung pemasukan hari ini. Tak banyak orang yang tahu bahwa keduanya memiliki database sendiri yang mereka program sendiri. Mereka memiliki sistem tokonya sendiri yang bisa mempermudah mereka menghitung asetnya. Termasuk untuk barcode pembelian para petani yang tentu saja berbeda dengan pembelian reguler. Setelah menghitung dengan sangat cepat, Quinn tersenyum puas. Seperti biasanya, mereka mendapatkan laba yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang mereka harapkan.
Sebentar lagi Quinn harus menggaji para petani dan semua yang bekerja dengannya sehingga ia lega bisa mendapat laba yang diharapkan. Sebenarnya penjualan ke perusahaan Nurmawan sudah bisa menutup gaji para petani hingga panen selanjutnya, hanya saja Quinn selalu ingin memberikan bonus pada para pekerjanya sehingga laba tentu saja harus tetap ditingkatkan.
“Kak, hari ini mau kuantar pulang?” tanya Eka sambil menonaktifkan komputernya.
“Hari ini tidak usah. Aku sengaja tidak membawa motor karena akan dijemput Kak Leon. Katanya ingin mengajakku ke kota untuk belanja.”
Eka mengangguk paham kemudian mereka mengunci pintu kantor dan menutup tokonya. Bersamaan dengan itu, Leon datang mengendarai mobilnya. Quinn pun segera naik dan menyapa kakaknya yang terlihat lelah.
“Hari ini Kakak kelihatan cape sekali. Apakah banyak pasien yang datang?” tanya Quinn cemas.
“Tidak banyak, hanya beberapa. Hanya saja aku lelah menghadapi mereka. Ibu-ibu dari kecamatan sebelah. Mereka bukan datang untuk berobat, tapi justru untuk menjodohkan anak mereka denganku,” Leon mengucapkannya dengan lemah.
Quinn sontak tertawa. Ia yakin itu ibu-ibu yang tempo hari juga menyapa mereka saat mereka berdua lari pagi di alun-alun. Ya, jika Leon mejeng atau sekadar nongkrong di wilayah mereka, sudah pasti akan banyak mak comblang dadakan yang ingin menjodohkan anak, keponakan, cucu, adik, atau bahkan tetangga mereka pada Leon. Meski enggan mengakui, namun Quinn dapat katakan bahwa kakaknya memang spek pria langka di sini.
“Quinn, bisakah kau bersimpati sedikit padaku? Aku sudah lelah menjadi pria tampan,” ujarnya dengan percaya diri.
“Jika Kakak mengatakan dompetmu yang tampan, aku akan setuju. Tapi jika Kakak mengatakan wajahmu yang tampan, aku tidak setuju!”
Leon yang sudah lelah tak menggubrisnya. Ia hanya mendelik tajam lalu mempercepat laju mobilnya. Mereka harus segera sampai di tempat makan, karena jika tidak, emosi Leon akan terus pada ketidakstabilan.
***
Sesampainya di restoran waralaba makanan Jepang, Leon langsung memesan banyak makanan. Bahkan ia memesan dua mangkuk udon untuknya sendiri. Quinn sudah biasa melihat kakaknya makan sebanyak itu. Bisa ia katakan bahwa ini belum seberapa. Meski ia heran kakaknya tidak pernah gemuk. Mungkin semua energinya habis karena kakaknya banyak berpikir, si jenius di fakultas kedokteran di angkatannya, tentu akan banyak berpikir. Quinn hanya mengasihani kakak iparnya kelak yang harus menghadapi Leon setiap hari.
“Kakak sedang menulis artikel ilmiah?” tanya Quinn penasaran.
“Tentu saja. Setelah menjadi spesialis seperti ini aku harus lebih rajin membaca dan menulis. Jika tidak, aku takut otakku menjadi tumpul.”
Quinn menggeleng-geleng kepalanya. Ia tak lagi penasaran ke mana kecerdasan mamah dan papanya diturunkan, jawabannya adalah pada Leon. Terkadang ia dibuat kesal karena porsi kecerdasannya tidak sebanyak kakaknya.
“Kau mengabaikan telepon dari Rayn, ya?” tanya Leon sembari menikmati makanannya.
Quinn mengangguk tipis.
“Kenapa?” tanyanya penasaran.
“Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun,” jawab Quinn seolah tak acuh.
Semakin Quinn berusaha bersikap tak peduli, semakin terlihat juga ia sedang menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Dan Leon, sudah paham dengan sinyal seperti ini.
“Sebenarnya kemarin Rayn meneleponku. Dia memintaku menyampaikan pesan padamu,” ujar Leon santai.
Quinn menaruh sumpitnya lalu menatap kakaknya serius. Rasa penasaran tiba-tiba menyeruak tak tertahankan.
“Pesan apa?” tanya Quinn penasaran.
“Benar kau ingin tahu?”
“Katakan saja!” paksa Quinn.
“Tolong katakan pada Quinn, aku akan menemaninya hingga ke puncak gedung. Tidak usah takut dan ragu. Ia tidak sendirian,” Leon menirukan Rayn dengan akurat. Bahkan nada suaranya Ryan pun berhasil Leon tiru, metode salin-tempel yang sempurna.