BALADA QUINN

NUN
Chapter #22

Bab 22 : Saling Memahami

Setelah menyepakati bahwa mereka resmi sebagai sepasang kekasih, keesokan harinya Rayn langsung menemui Quinn di rumahnya. Ia juga secara resmi memperkenalkan dirinya kepada Rian dan Dita sebagai kekasih Quinn. Namun tentu saja ini bukan hal yang mudah bagai membalikkan telapak tangan. Rayn harus meyakinkan kedua orang tua Quinn bahwa ia pasti akan menjaga dan menyayangi Quinn dengan amat baik.

Awalnya Quinn menentang ide Rayn yang ingin bertemu dengan orang tuanya. Ia tak ingin terburu-buru, apalagi mereka belum tahu bagaimana nanti Rayfana akan bereaksi pada hubungan mereka. Namun Rayn meyakinkan, pertemuan antara dia dan kedua orang tua Quinn tak lain untuk memberikan jaminan pada Rian dan Dita agar mereka tidak khawatir. Rayn yang juga sudah menganggap Dita dan Rian sebagai orang tuanya, ingin menjadikan mereka orang yang pertama tahu bahwa kini Rayn dan Quinn sudah bersama.

Tibalah waktunya Rayn menghadap. Ia sudah duduk tegap di ruang tamu rumah Rian dan Dita yang seketika terasa asing dan mendominasi. Mereka duduk bertiga berhadapan. Sementara Quinn dilarang ikut diskusi oleh Dita sehingga saat ini Quinn tetap bekerja di toko seperti biasanya.

Dita dan Rian tentu saja senang dan ikut bahagia kini putri mereka telah menemukan seseorang yang mencintainya dengan tulus. Namun karena hubungan keluarga mereka sedikit berbeda dengan pasangan yang lain, hal yang biasanya tidak ditanyakan di awal pertemuan dengan kekasih sang anak, dengan terpaksa harus mereka tanyakan.

“Bagaimana dengan ibumu?” Dita bertanya lembut. “Apakah ia tahu soal hubunganmu dengan Quinn?”

Rayn mengangguk.

“Sebelum ke sini, aku sudah memberitahu Ibu. Ibu tidak melarangku datang ke sini, tapi juga tidak secara gamblang mendukungku,” Rayn berkata jujur. Rayn tak ingin bias dalam menginterpretasikan sikap ibunya.

“Apa kau yakin bisa membuat ibumu mengerti?” giliran Rian yang bertanya.

“Aku yakin Ibu akan mengerti. Ibu hanya butuh sedikit waktu untuk memproses semua ini. Dengan Ibu tidak melarangku datang ke sini untuk menemui Om dan Tante, ini berarti Ibuku sedang mempertimbangkan hubungan keluarga kita ke arah yang positif,” tutur Rayn yakin.

Dita juga mempertanyakan, jika memang nanti hubungan Quinn dengan Rayn lanjut ke jenjang yang lebih serius, apakah Rayn yakin bisa melindungi Quinn di keluarganya nanti. Dita menanyakan hal seperti ini sedini mungkin karena ia tak mau anaknya terluka. Jika bisa dicegah, sebelum perasaan Quinn terlalu dalam, Dita ingin memastikannya. Setelah sempat melihat anak gadisnya kehilangan kepercayaan diri karena cinta yang tak berbalas, Dita tidak ingin Quinn kembali kehilangan kepercayaan dirinya karena merasa tak layak atau bahkan tak disambut baik oleh keluarga kekasihnya.

Rayn memang tak menjanjikan bisa mengendalikan perilaku setiap orang. Tapi Rayn berjanji ia akan selalu melindungi Quinn. Sayangnya jawaban itu tak serta merta membuat orang tua Quinn yakin terutama Dita.

“Kita berandai-andai dulu,” ujar Dita. “Andai nanti kalian menikah, Quinn tidak wajib tinggal di keluargamu, kan?”

“Tentu saja, Tante. Rayn tidak akan memaksa. Rayn juga paham Quinn memiliki tanggung jawabnya sendiri di sini. Ini sudah Rayn pikirkan jauh sebelum Rayn mengakui perasaan pada Quinn,” tutur Rayn pelan namun tegas. “Di mana pun Quinn ingin tinggal, di situlah Rayn akan tinggal.”

Rian menatap Rayn dengan intens. Ia tahu bahwa Rayn adalah anak yang baik. Bertahun-tahun ia mengenal Rayn, tidak pernah ia mendengar sekalipun keburukan tentangnya. Tapi dalam hal menjadi pasangan anak gadisnya, Rian masih jauh dari kata yakin. Sebagai ayah ia khawatir Quinn ditindas oleh keluarga Rayn. Walaupun Rian tahu anaknya pasti mampu menghadapinya karena ia anak yang kuat dan cerdas. Rian hanya tidak ingin Quinn lelah secara emosional dalam menghadapi masalah yang bisa dihindari. Usai menginterogasi Rayn, Rian berlalu begitu saja keluar dari rumah.

Sementara itu, Dita menyilakan Rayn meminum jus yang disajikan. Sejak datang bertamu Rayn sama sekali belum menyentuh minuman dan makanannya. Dita khawatir Rayn terlalu tegang usai bicara serius dengannya.

Rayn pun meminumnya. Benar saja ia kehausan, ia sampai menandaskan jusnya sekaligus. Dita yang melihatnya merasa kasihan. Sebenarnya ia tidak ingin terlalu lugas mengatakan semua kekhawatirannya, tapi menimbang karakter anaknya yang begitu setia ketika sudah menyukai seseorang, maka cepat atau lambat pasti hubungan mereka akan lebih serius. Sedia payung sebelum hujan tak ada salahnya, kan?

Ini juga demi kebaikan Rayn. Dita dan suaminya tak ingin melihat hubungan Rayn dan ibunya memburuk. Rayn sejak lama sudah mereka anggap keluarga sendiri tentu saja mereka tak berharap melihat Rayn kesulitan berada di antara Quinn dan ibunya.

***

Sepekan berlalu sejak Rayn berkunjung ke rumah Quinn. Meski sudah sepekan Rayn tak lagi berkunjung ke rumah, terhitung sudah dua kali Rayn datang dan mengajak Quinn untuk sekadar mengobrol dan makan di restoran yang tak jauh dari tokonya. Hal ini tentu tak luput juga dari pengawasan Dita dan Rian. Mereka tahu Quinn selalu bertemu Rayn. Tetapi mereka membiarkannya, ini berarti Dita dan Rian tidak melarang mereka untuk bertemu meski belum tahu kabar terbaru mengenai Rayfana.

Quinn yang saat ini sedang sibuk meninjau sawah dan sesekali membantu papanya dalam distribusi pala tidak terganggu dan tetap melakukan aktivitasnya dengan normal. Saat ini Quinn hanya menikmati rutinitas dan juga statusnya sebagai kekasih Rayn. Lagi pula Quinn tidak terburu-buru, ia memiliki banyak waktu untuk lebih mengenal Rayn. Maka, ia memiliki banyak waktu untuk menunggu kabar baik tentang Rayfana.

Quinn baru selesai melepas pala yang diangkut dari gudang. Ia juga memastikan pembayaran dari pembeli sudah masuk ke rekening papanya. Bersamaan dengan itu, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Seraya menutup tablet, Quinn menjawab panggilan itu.

“Hai, Kak.”

"Hai, Quinn. Ada hal yang ingin kuberitahu. Aku juga tak yakin ini kabar baik atau kabar buruk.”

Lihat selengkapnya