Quinn sedang sibuk memberikan arahan kepada para petani yang sedang melakukan penyemprotan ramuan pestisida organik. Pada waktu ini serangga jenis wereng diperkirakan akan melakukan migrasi. Di tengah musim pancaroba, wereng biasanya banyak berdatangan ke areal persawahan. Untuk itu, para petani sedang meracik ramuan pestisida organik guna mencegah hama wereng berkembang.
Para petani sibuk menyaring ramuan pestisida yang mereka racik sendiri dan terbuat dari bahan berupa daun sirsak, rimpang jeringan, bawang putih, cuka, dan air. Seluruh bahan padat itu sebelumnya telah mereka tumbuk hingga halus, dicampur dengan cuka, dan direndam dengan air selama dua hari. Kini mereka hanya perlu menyaring seluruh larutan dengan kain halus lalu akan segera menyemprotkannya ke seluruh areal persawahan.
Quinn juga tidak berdiam diri, setelah ia memberikan arahan untuk membagi petani dalam beberapa tim ketika menyemprot pestisida organik nanti, ia juga ikut menyaring larutannya.
“Ini sudah cukup jangan terlalu penuh, ya?” tanya Quinn.
Ia selesai mengisi satu tabung penyemprot dengan larutannya.
“Iya, Non. Sudah penuh itu,” Sri menjawabnya.
Saat Quinn memindahkan penyaring kain halusnya ke tabung penyemprot yang kosong, tiba-tiba tangan seseorang terulur untuk memegangi tabung penyemprot yang hampir terjatuh. Quinn terkesiap. Ia terkejut bukan main.
“Aku kira ada tangan hantu!” pekik Quinn asal.
Ia tersenyum simpul melihat pria di depannya ini tertawa karena ucapannya.
“Tangan hantu tidak akan semulus ini,” balas Rayn bercanda. “Apa lagi yang bisa kubantu?” Rayn antusias.
“Mau bantu menyemprot?” Quinn juga bersemangat.
“Tentu!”
Salah satu keinginan Quinn adalah bermain sambil bekerja di sawah bersama Rayn. Dan kini, ketika momen itu ada di hadapannya Quinn tentu saja sangat bahagia. Kebahagiaannya membuncah tiada terhingga.
Tatkala senyum Rayn begitu murah dibagikan hanya untuknya, membuat Quinn menyadari bahwa tiada hal paling indah di dunia ini selain cinta yang berbalas dan kasih yang saling melengkapi.
Selama ini arti cinta yang ia ketahui hanya mengenai pasal mencintai tanpa syarat, melindungi yang terkasih, pengorbanan yang tulus, dan rasa cukup memperhatikan mereka tumbuh dari jauh. Selama ini Quinn merasa penuh hanya dengan melihat orang yang disukainya tersenyum bahagia.
Selama ini ia tersenyum hanya karena melihat orang yang disukainya melalui layar.
Kini, arti mencintai seseorang telah berubah di mata Quinn.
Menemani seseorang yang dikasihinya sembari tertawa menikmati hari menjadi hal pertama yang ia sebut dengan arti mencintai.
“Kak Rayn,” panggil Quinn. “Semua sudah beres ditangani?”
Quinn awalnya ragu untuk bertanya. Ia tahu bahwa Rayn pasti bisa mengatasinya apalagi dengan bantuan mamanya yang ia yakin tadi sudah tanda tangan suara untuk mendukung Rayn.
“Sejauh ini, krisis di perusahaan sudah teratasi. Tapi PR-nya, tentu saja masih banyak,” terang Rayn.