Setahun berlalu.
Quinn telah menjadi penduduk London selama setahun. Ia masuk di awal tahun lalu saat masih musim dingin. Kini cuaca musim dingin kembali menyapanya dan bahkan hampir sampai di penghujung. Selama itu juga Quinn belum pulang. Ia memilih untuk fokus mengambil banyak kelas untuk segera memenuhi standar kredit yang ditetapkan.
Saat ada libur musim panas, Quinn juga mengambil kelas pendek dan menyibukkan dirinya dengan belajar. Salah satu cara mengatasi homesick ala Quinn adalah dengan tidak pulang selama libur karena ia tahu persis jika pulang maka ia takkan rela untuk kembali pergi. Ini yang mendorongnya untuk memiliki banyak kegiatan. Cara ini cukup ampuh, dengan pemikiran dan tekad bahwa ia akan segera pulang, Quinn mampu bertahan dan beradaptasi dengan baik.
Seperti saat ini, Quinn memilih ikut seminar salah satu profesor bisnis yang fokus penelitiannya ada di sektor bisnis pertanian. Tentu saja Quinn tidak akan melewatkan ini. Ia juga sudah mulai menyusun tesis. Inilah waktunya untuk Quinn mengumpulkan banyak referensi dari narasumbernya langsung untuk mendukung penelitiannya.
Berkat terlalu asik dengan seminar yang sesuai preferensinya ini, Quinn hampir saja melupakan jam telekonferensinya bersama Rayn.
Saat Quinn mengecek ponsel, benar saja sudah ada beberapa panggilan video yang tak terjawab dari Rayn. Quinn pun segera mengirimkan pesan.
Quinnirene
Kak, maafkan …
Aku masih menghadiri seminar.
Sepertinya harus ditunda sekitar dua jam.
Kumohon pengertiannya, calon teman hidupku.
Kak Rayn 911
Kau memang lebih menyukai profesor itu dibanding aku.
Aku bisa memakluminya jika profesormu bisa membantu penelitianmu selesai lebih cepat dan pulang lebih cepat.
Quinnirene
Hahaha!
Lagi-lagi aku diberi tekanan oleh Pak Direktur.
Padahal Pak Direktur juga jelas lebih menyukai pekerjaannya dibanding aku.
Ada kunjungan kerja ke Italia pun kau tidak menyempatkan diri untuk terbang dua jam saja ke sini.
Kak Rayn 911
Baiklah, aku tahu aku salah karena tidak langsung mengurus visa ke Inggris. Aku lupa visa EU tidak lagi include untuk Inggris. Maafkan aku, Quinn … Kumohon …
Tapi sungguh, aku bisa mempertanggung jawabkan perjalanan dinasku.
Harga saham naik dengan signifikan usai kami closing deal di Italia.
Ini tentu kabar baik bagi putri dari pemegang saham perusahaanku, kan?
Aku tidak mungkin mengecewakan pertolongan calon mertuaku.
Quinnirene
Hahaha!
Sejujurnya ... aku lebih tertarik dengan jumlah sahammu ketimbang saham Mamaku 😅.
Sudah dulu, ya. Aku masih harus mencatat. Akan aku video call saat sudah selesai nanti.
Kak Rayn 911
Jika itu yang kau mau, akan kuberikan cuma-cuma untukmu ❤️.
Baiklah, aku akan menunggumu sampai selesai, meski mataku sudah berdemo ingin tidur.
Quinn tersenyum simpul begitu membaca balasan pesan dari Rayn. Saat mengecek waktu, ternyata saat ini sudah cukup larut di waktu Indonesia bagian barat.
Quinn pun kembali fokus pada seminar. Ia bertekad untuk terus belajar dengan baik agar LDR-nya tak sia-sia. Agar ia bisa memberikan laporan pertanggungjawaban yang memuaskan kepada pemberi sponsor kuliahnya yang tak lain adalah orang tuanya. Agar pengorbanannya terhadap daftar keinginannya bersama Rayn tidak sia-sia. Agar ia segera pulang dan kembali berkumpul bersama keluarganya. Agar ia bisa segera melakukan semua daftar keinginannya bersama Rayn yang sudah tertunda sangat lama.
***
Akhir pekan telah tiba. Quinn tak memiliki kegiatan di kampus. Ia keluar hanya untuk pergi ke penatu pagi ini dan memakan sarapannya yang tak pernah ia lewatkan, sembari menunggu cuciannya selesai. Ia juga selalu menyempatkan menelepon mama dan papanya setiap pagi. Tak lupa Quinn pun membawa PC tabletnya ke penatu untuk mengecek pekerjaannya di desa. Meski ia sedang berada di negeri yang jauh dari desanya, ia ingin tetap memastikan semua aktivitas pertanian di lahannya berjalan lancar. Terutama karena banyak petani yang bergantung pada pekerjaan mereka di tempat Quinn.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi waktu London, yang berarti sudah sore hari di Indonesia. Eka pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Quinn pun gegas melakukan panggilan video dan tak lama Eka sudah bergabung dengannya.
“Bagaimana kabarmu sepekan ini, Kak?” tanya Eka seperti biasa.
“Kabarku baik,” Quinn menjawab cepat. “Aku ingin tahu pembagian gaji sudah selesai tadi pagi, kan?”
“Sudah, Kak. Aman! Kakak sudah cek saldo rekening toko, kan?”
Quinn mengangguk. Ia sudah mengeceknya barusan. Setiap hari Quinn selalu mengecek kondisi toko dan pertaniannya. Eka yang saat ini bertugas menggantikan Quinn selalu tepat waktu menghitung pembukuan. Bahkan ia masih rajin mengirimkan foto pekerjaan harian di sawah dan di toko kepada Quinn. Katanya agar Quinn tetap mengunggah konten tentang pertanian meski sedang berada di luar negeri. Eka juga berujar foto-foto ini sebagai pengingat Quinn agar kembali pulang. Mana tahu Kakak betah di sana dan enggan pulang ke kampung. Itulah yang Eka katakan.
Eka pun melaporkan kondisi terkini di sawah yang sedang pada masa tumbuh biji padinya. Sawahnya sudah mulai menguning dan padinya sudah mulai merunduk. Sekitar sebulan lagi, padi siap dipanen. Selain itu Eka menyebut beberapa hari lalu ada salah seorang petani yang sakit dan biaya pengobatannya ditanggung rekening darurat toko. Ia memang sudah mencatatnya pada pembukuan, namun tetap memastikan Quinn mengetahuinya.
“Tapi kondisinya sekarang sudah membaik, kan?” tanya Quinn cemas.
“Sudah, Kak. Tapi masih belum bisa bekerja. Anaknya yang menggantikan. Kemarin saat penyemprotan obat hama dia ikut membantu,” Eka menjelaskan.
Quinn mengangguk paham.
“Di situ curah hujan sudah mulai menurun, kan?”
“Iya, Kak. Sudah. Tenang saja, pengairan selalu aku cek setiap hari.”