Bali Fever Or Favor?

Vitri Dwi Mantik
Chapter #1

Penerbangan Ke Denpasar

Dari balik kaca kokpit Boeing 737 Garuda Indonesia, hamparan hijau membentang indah di bawah. Awan-awan tipis melintas cepat, seolah berlomba dengan pesawat.

Seorang pramugari meletakkan dua gelas minuman untuk para pilot, lalu keluar dari kokpit.

Namanya Diva.

Usianya dua puluh tujuh tahun. Wajahnya segar dengan riasan tipis. Kulitnya putih mulus seperti porselen.

Sorot matanya menyapu kabin kelas bisnis dari satu kursi ke kursi lain. Tak ada penumpang yang membutuhkan bantuan. Tak ada sandaran kursi yang tegak. Tak ada gelas kosong yang terlewat.

Selesai memastikan semuanya beres, Diva menutup tirai pembatas menuju kabin ekonomi.

Di galley, dua pramugari sibuk menyiapkan pesanan penumpang. Seorang pramugara melintas membawa satu baki penuh minuman.

Ting!

Lampu panggil dari kursi 21A menyala.

Kening Diva langsung berkerut.

Sudah ketebak.

Di kursi 21A, Indie mengangkat gelas cola yang kosong sambil nyengir selebar iklan pasta gigi.

Indie adalah sepupu Diva. Setahun lebih muda. Gayanya tomboi, tubuhnya superlangsing, rambut cepak dengan jambul kecil yang dipertahankannya selama tiga tahun terakhir. Eyeliner hitam tebal menjadi ciri khasnya.

"Can I get another glass of cola, please?" bisiknya. Sesudah itu, ia sengaja bersendawa kecil tepat di dekat telinga Diva.

Ini gelas cola yang kelima.

Diva mengembuskan napas panjang.

Lihat selengkapnya