Baling Kipas Angin Yang Berputar

Lady Mia Hasneni
Chapter #4

Chapter 4: Sudahlah, Jangan Ikut Campur

Malam itu cahaya bulan sempurna mencoba mengoyak kegelapan. Bulan dengan bulat total itu tersenyum menyapa Mikai dan ibunya yang berada di pelataran depan rumah mereka. Cahayanya dari balik rimbunnya dedaunan dua pohon rambutann yang saling berdampingan di halaman rumah menarik hati Mikai untuk mengabadikannya. Mikai mengarahkan handphone-nya pada bulan yang tampak besar dari biasanya dari tempatnya berdiri. Dia menjepret beberapa foto. Tak hanya foto dia juga merekam momen itu dengan video dan langsung mengupload di story akun instagram-nya yang terkoneksi dengan akun facebook-nya.

“Bagaimana hasilnya?” Tanya Ibunya yang berdiri tak jauh dari Mikai.

Mikai menegakkan wajahnya yang sedari tadi tak lepas dari layar handphone. Dia menoleh ke wajah ibu nya yang tampak natural dibawah cahaya lampu teras dan juga cahaya rembulan.

Not bad lah.”

Mikai menghampiri ibunya dan menyerahkan handphone-nya ketangan ibu. Perempuan paruh baya yang masih terlihat segar bugar itu meraih handphone. Matanya menatap hasil capture yang ditangkap oleh putrinya.

“Geser – geser aja, Ibu. Itu ada videonya juga. Mikai mau ambil kamera dulu.” Memang bahasa sopan bagi anak pada orang tua lebih baik mengucapkan nama dari pada saya atau pun aku dalam kearifan lokal yang Mikai pelajari sejak kecil.

Mikai berlari kedalam rumahnya meraih kamera DSRL miliknya yang bertajuk Canon. Langkah kakinya diikuti oleh Danggo yang berlari mengikutinya. Danggo pun kembali berlari mengejar Mikai bergerak kembali keluar rumah. Mikai mengarahkan kameranya untuk meng-capture bulan penuh yang indah.

Ibu membiarkan Mikai memotret. Dia dengan handphone Mikai ditangannya menjauh Mikai yang berfokus pada langit malam yang indah. Dia memilih duduk di sebuah kursi kayu di teras rumah. Ada dua kursi kayu disitu, dan satu meja kayu. Danggo yang tadi mengeser – geserkan dirinya ke kaki Mikai memilih ikut ibu Mikai dengan duduk diatas meja.

Mikai melihat – lihat hasil foto keindahan alam yang berhasil dipotretnya. Bibirnya melengkungkan sebuah senyuman lebar tanda dirinya puas dengan hasil foto. Mikai membalikkan badannya. Dia menatap Ibu dan Danggo yang juga melihat kearahnya.

“Bagus deh hasilnya dengan kamera.” Ujar Mikai dengan suara yang girang.

Mikai yang belum puas memotret kembali memfokuskan kameranya kearah bulan tak lupa dia men-setting lensa kamera supaya dapat menangkap rembulan lebih besar. Saat Kamera itu yang menengadah keatas langit berlahan diturunkan oleh tangan Mikai, mata Mikai rumah 2 lantai yang menjulang diantara empat rumah yang hanya berlantai satu dari rumahnya. Berlahan memori buruk muncul menguasai kepalanya.

Wajah Mikai yang sebelumnya girang berubah. Dia terdiam mematung ditempat berdirinya beberapa saat. Tak bergerak sedikit pun. Matanya menatap nanar rumah besar yang tak jauh dari rumahnya. Entah apa yang bergerak dalam pikirannya. Mikai berbalik. Dia mengerakkan kaki melompat ke teras dan duduk di kursi kayu di sana. Kameranya diletakkan diatas meja yang sudah ada handphone-nya tergeletak disana bersama dengan Danggo yang duduk manis.

“Ibu, Ngomong - ngomong apa kabarnya si Wiwik anaknya Pak Zul itu?” Mikai membuka pembicaraan.

Lihat selengkapnya