Tak ada yang special dengan hari itu. Cuaca panas menyapa dengan sengit kulit – kulit yang tak melindungi diri dengan cream yang mengandung SPF atau pun perlindungan UV. Langit pun cerah menampakkan warna biru yang memikat mata. Sungguh cuaca yang bersahabat bagi penyuka pertualangan. Asik untuk trip. Lagian hati dan jiwa terasa ikut bergembira dengan cuaca yang bersemangat. Tapi tak begitu dengan Nining. Siang hari yang cerah bagai badai yang terelakan baginya.
Perempuan itu berjalan dengan lemah menyelusuri koridor sekolah. Tak tampak orang sepanjang koridor. Guru – guru tampak sibuk dengan kegiatannya di dalam kelas. Kak Nining segera meraih motornya saat Kepala Sekolah menelponnya. Mendadak semua kekhawatirannya selama ini menyeruak.
Izal, putra pertamanya itu dipukul oleh beberapa orang teman sekelasnya beberapa hari yang lalu. Hanya karena dia merobek – robek buku mereka. Nining tak paham bagaimana mungkin anak Sekolah Dasar bisa sebengis itu memukul temannya sendiri. Izal bahkan mendapatkan luka di beberapa bagian tubuhnya. Dia tau dengan jelas anaknya itu berbeda dengan anak orang lain. Namun dia yakin Izal tak akan melakukan hal seperti itu tanpa pemicu. Tapi apa itu pemicunya, tidak ada yang tahu. Bahkan guru kelasnya. Dia mencoba untuk memahami tindakan anak – anak yang masih tak mengerti dengan segala keadaan itu. Namun tetap saja yang membuatnya kian tak mengerti adalah mengapa para orang tua dari anak– anak itu malah menyalahkan keberadaan Izal.
Hari itu dia menerima telpon dari Kepala Sekolah yang begitu mendadak. Para Orang tua dari anak yang memukuli Izal telah membuat kesepakatan bersama komite sekolah. Nining merasa logikanya tak sampai dengan jalan pikiran sekelompok orang itu, bahkan terhadap kepala sekolah dan wali kelas Izal yang dikenalnya sebagai orang yang lembut dan berdedikasi. Semua berubah hari itu.
Kak Nining berhenti depan sebuah ruangan yang pintu berwarna hitam dalam kondisi yang tertutup rapat. Perempuan itu menarik napas panjang sebelum tangannya bergerak mengetuk pintu yang tertutup. Dia menarik nafas berkali – kali. Mencoba mendamaikan hatinya yang bergejolak tak karuan.
Knock… Knock…
Dengan segenap ketegaran hati Kak Nining mengetuk pintu yang tak menunggu lama direspon oleh orang yang berada didalam ruangan tersebut. Seorang perempuan dengan menggunakan jilbab berwarna khaki membuka pintu untuknya. Dia menyambut Kak Nining dengan tersenyum. Namun itu bukanlah senyum yang indah. Itu sebuah senyum yang tampak dipaksakan.
“Silahkan masuk Ibu Nining. Ibu Kepala Sekolah menunggu sudah menunggu didalam.” Perempuan itu berusaha beramah tamah walau pun sorot matanya malah menunjukkan hal yang sebaliknya.
Kak Nining yang sedari tadi memang terlihat layu dan lesu mengangguk perlahan dengan senyum yang juga dipaksakan. Dia mengikuti tuntunan perempuan yang selama ini dikenalnya sebagai wali kelas Izal. Di ruangan yang sederhana itu sudah duduk kepala sekolah di sebuah kursi kayu berbentuk memanjang. Perempuan itu juga tampak tersenyum dipaksakan. Dia bangkit dari tempat duduknya menghampiri Kak Nining dan mengulurkan tangannya menyalami Kak Nining.
“Silahkan duduk Mama Izal.” Ucap ibu kepala sekolah dengan suara yang terdengar agak diriangkan.
Kak Nining duduk. Ibu Wali kelas meletakkan air aqua gelas atas meja didepan kursi dimana Kak Nining duduk.