“Izal disarankan untuk belajar di SLB.” Ucap Kak Nining dengan hati – hati kepada suaminya yang juga merupakan ayah kandung dari Izal.
Laki – laki itu menganggukkan kepalanya. “Mungkin ada baiknya kita ikuti saran dari gurunya. Aku tak mau lagi rasanya mendengar Izal harus dapat perlakuan yang tidak mengenakkan dari temannya.”
“Tapi…,” Kak Nining mengantungkan perkataannya. Dia sedikit bingung untuk mengutarakannya.
“Ada apa lagi?” Tanya suaminya menatap kak Nining yang duduk dipinggir tempat tidur.
“Tidakkah kamu malu, bila orang lain mengetahui Izal sekolah di SLB? Kamu tau kan SLB itu sekolah khusus anak – anak yang…” Lagi Kak Nining tak menyelesaikan kalimatnya.
Suaminya mengelengkan kepalanya. “Aku tidak pernah merasa malu. Bagaimana orang lain akan menghargai Izal kalau kita selaku orang tuanya saja merasa malu? Tidakkah kamu kasian Izal sering saja berakhir dengan terluka? Harus berapa banyak lagi darah yang ingin kamu lihat keluar dari tubuh Izal?”
Kak Nining terdiam mendengarkan kalimat suaminya yang cukup tajam di telinganya. Dalam diam perempuan itu tampak berpikir dan mempertimbangkan apa langkah yang harus dia ambil untuk pendidikan anaknya.
"Oh ya, Gurunya juga menyarankan untuk memeriksakan Izal ke Psikolog yang ada di Pontianak.” Kak Nining kembali membuka suara.
“Apa di sini tidak ada psikolog?”
“Aku tidak pernah mendengar ada psikolog di sini. Memang harus ke Pontianak sih.”
Suaminya menganggukkan kepalanya. “Baiklah, kita nabung dulu agar bisa bawa Izal ke psikolog. Semoga saja ada rezeki untuk Izal.” Jawab suaminya Kak Nining yang terdengar bijaksana dan penuh kasih sayang.
*
Jadilah Izal kini belajar mengali ilmu di lingkungan yang baru. Di sebuah sekolah luar biasa (SLB) satu – satunya yang ada di kota Sanggau. Tak seperti di sekolah sebelumnya yang merupakan sekolah negeri biasa, sekolah Izal yang baru tampak sepi dalam sekelas. Tak banyak siswanya. Hal tersebut juga di dasari oleh kurang adanya kesadaran orang tua untuk membiarkan anak dengan kemampuan khusus untuk keluar, belajar, dan bersosialisasi.
Di SLB itu ada beberapa jenis peserta didik dengan kelebihan mereka masing – masing. Tentunya karakter setiap anak berbeda. Untungnya sampai dengan seminggu belajar di SLB, Kak Nining belum mendapatkan telpon dari pihak sekolah tentang kejadian buruk yang biasanya menimpa Izal. Kak Nining merasa bersyukur untuk itu.
Menariknya pihak sekolah menginginkan orang tua harus mengantarkan anaknya dan menjemput anaknya. Berbeda dengan sekolah sebelumnya, kak Nining meminta bantuan sepupunya untuk sekalian menjemput Izal. Kebetulan sepupunya merupakan ibu rumah tangga, jadi bisa menemput Izal tepat waktu. Di SLB tak menerima itu, kecuali benar – benar kebutuhan mendesak nan urgent orang tua juga harus mengabari pihak sekolah bahwa ada urusan lainnya.
Hari itu Kak Nining mengarahkan motornya masuk ke halaman sekolah. Ada beberapa beberapa motor dan mobil tampak terparkir disana. Kak Nining memilih untuk menunggu dengan duduk tetap di motornya yang telah rapi terparkir diantara deretan motor lainnya. Dia melirik ke jam tangan warna hitam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih ada waktu beberapa menit lagi sebelum jam pulang.
Suara yang familiar tiba – tiba terdengar oleh Kak Nining. Suara itu berasal dari dalam tasnya. Dia segera menarik keluar handphone dari tas. Ada yang menelponnya. Tertulis ‘Mikai’ pada layar. Tanpa menunggu lama Kak Nining segera menjawab panggilan suara itu.
“Hallo… ada apa, Mikai?”
“Hallo kak. Kakak dimana? Mikai cari di ruangan, kakak juga ndak ada. Ini butuh tanda tangan kakak.”
“Buat apa?”
“Pencairan anggaran buat proyek 3 hari kedepan. Ini udah ready semua. Tersisa tanda tangan kakak aja. So, Kakak dimana? Entar disamperin.”