“So What do you think?” Tanya Mikai pada sosok pria yang tampak wajahnya pada layar handphone.
“Hmmm… I think you can try it. I support you one thousand percent, seriously.” Sahut Pria dengan wajah serius dengan aksen inggris british. “I will try to find some books or education journals bout that. But I am not sure may be, it’s autism. He needs an expert to test him. Just tell to your friend to take her son to meet an expert first.”
“Ey, you studied in pedagogy, rite? So you must be really expert with this case.”
“No. I am not an expert bout that case lah.” Sahut pria itu yang berganti aksen dengan aksen melayu.
“Come on bang. Mestilah abang paham. Sebab tu lah Mikai cakap pasal ini dengan abang, cause you are an expert in pedagogy who works in Ministry of Education Malaysia.”
“Iya. But it’s for special needs children. Tak pahamlah. Nanti abang cuba tanya kawan abang. He is cek gu who teach the students with disabilities, okay?”
Belum sempat merespon kalimat yang barusan oleh Haziq, handphone-nya bergetar. Haziq sediri adalah seorang pria yang menjadi teman dekat dihatinya yang berasal dari Malaysia. Haziq dan Mikai telah dekat satu sama lain sejak pertemuan pertama mereka 4 tahun yang lalu di circuit Sepang. Sembilan bulan setelah pertemuan pertama, mereka menaikan level hubungan mereka lebih dari sekedar teman penggila MotoGP. Tangan Mikai yang merasakan getaran pada handphone yang dia pegang. Tak lama dia mendapatkan notification yang menyatakan ada pesan yang masuk ke Whatsapp-nya.
Mikai yang sedari tadi menatap layar handphone dimana tampak wajah Haziq di layar handphone-nya merespon notification yang masuk dengan menyentuh simbol whatsapp. Ternyata pesan itu berasal dari Kak Nining.
“What’s wrong?” Tanya Haziq yang menyadari kalimatnya belum direspon oleh Mikai.
“Emm…” Respon Mikai menanggapi Haziq. Mata perempuan itu fokus membaca pesan dari Kak Nining yang baru masuk.
Kak Nining Minta maaf ya…
Kakak tidak tahu harus berkata apa?
Kakak hanya tidak siap kalau ada yang tau Izal sekolah di SLB
“Mikai.” Haziq kembali menyapa Mikai yang fokus membaca deretan kalimat yang dikirim kan Kak Nining padanya.
“Aha…” Hanya ekspresi itu saja Mikai merespon Haziq, dengan mata yang tak beranjak membaca pesan.
Kakak tau, Mikai tak mungkin berpikiran negatif.