Hari sabtu selalu jadi hari yang spesial bagi tiap orang karena ketika malam menjelang akan hadir malam yang terpanjang dari pada malam yang lain (ya, setidaknya itu pendapat sebagian orang, jadi tak bisa protes). Selain itu sabtu menjadi hari yang spesial karena menjadi hari istirahatnya para pekerja yang punya waktu break di hari sabtu dan minggu. Ada banyak alasan mengapa hari sabtu menjadi hari yang spesial dan hari paling ditunggu.
Hari sabtu memanglah spesial, terutama buat seorang Mikai. Hari sabtu menjadi hari pertama bagi Mikai melihat dunia dan merasakan udara di kawasan tropis, serta menjadi hari pertama dia menangis. Benar sekali, Mikai lahir pada hari sabtu. Kata sebagian temannya yang mempercayai ramalan anak yang lahir pada hari sabtu mempunyai jiwa yang bebas dan senang berpetualang.
Pada hari sabtu itu, pagi – pagi sekali Mikai telah mempersiapkan dirinya. Hal itu menjadi bertanyaan besar bagi sang Ibunya.
“Kok bangun pagi? Biasanya malah tidur pagi.”
“Tumben mandi pagi?”
“Loh kok pakai baju rapi begitu mau kemana?
Ada sederet pertanyaan yang dilontarkan oleh Ibu pada Mikai pagi hari sabtu yang sangat cerah. Mikai hanya menjawabnya dengan senyum sambil mengedipkan matanya pada Ibu. Misterius sekali.
Di pagi sabtu yang spesial itu Mikai memilih memakai pakaian bernuasa biru yang juga merupakan warna kesukaannya. Celana panjang kainnya berwarna biru navy yang dipadu dengan kemeja biru langit dan jilbab berwarna biru dengan gradiasi warna bermotif ala tie dye, yang merupakan jilbab kebanggaannya karena dia membuatnya sendiri. Dia mengenakan sesuatu yang spesial untuk sabtu yang spesial.
Tepat jam 7.20 Mikai menarik sepeda motornya keluar dari garasi. Dengan backpack berwarna abu – abu yang melekat dipungung Mikai menstarter motornya. Ibunya keluar dari rumah menatap akan bersiap – siap pergi.
“Mau kemana sih? Kok ndak pamit?”
Mikai memutarkan kunci mematikan mesin motornya. “Baru manasin mesin, Ibu. Makanya belum pamit.”
“Mau kemana sih? Biasanya masih tidur jam segini.” Ibu Mikai tampak sangat penasaran dengan sikap anaknya yang tak biasa.
Mikai berjalan menghampiri Ibu yang berdiri di teras rumah. “Rahasia.” Sahutnya sambil tersenyum penuh arti. Mikai meraih tangan Ibunya. Dia mencium punggung tangan Ibunya. Memang begitulah kebiasaan Mikai sedari kecil hingga umurnya hari ini.
“Mau kemana sih?” Ibunya tak berhenti bertanya hal yang sama.
Mikai melepaskan tangan ibu dan menjawab “Rahasia.” Sama dengan sang ibu, Mikai juga tetap menjawab hal yang sama.
“Terserah deh.” Akhirnya Ibunya mengalah.
“Nanti bakal diceritain. Pasti.” Mikai kembali melangkah menghampiri motornya. “Pergi dulu, Ibu. Assalam mualaikum.”