Baling Kipas Angin Yang Berputar

Lady Mia Hasneni
Chapter #9

Chapter 9: Pertama Kali

“Kamu udah gila, ya?”

Itu bukan pertama kalinya Ibu bereaksi atas ide – ide berbeda yang bersarang diotak Mikai. Mikai hanya nyengir saja. Dia tak peduli orang bilang apa. Dia selalu melakukan apa yang dianggapnya benar. Baginya keputusannya benar. Walau pun pendapat Ibu penting sekali bagi Mikai sama pentingnya dengan pendapat ayahnya, namun Mikai 100% didukung ayahnya untuk segala tindakan gila yang dia ambil. Sebelum Ayah meninggal Ayah berkata akan mendukung apa pun hal baik yang Mikai lakukan. Jadi Mikai tau dia mengantongi restu ayahnya.

Ayah Mikai memiliki karakter yang bebas. Ya iyalah, ayah Mikai seorang seniman. Beliau jago banget melukis dan memahat serta cinta sekali pada alam. Oleh karena itu beliau bekerja di Department Kehutanan saat itu. Sekarang tentu banyak sekali perubahan nomenkelaturnya dan menjadi Dinas kehutanan di daerah – daerah. Hutan, memahat, dan melukis menjadi 3 hal yang tak lepas dari kehidupan beliau. Dan segala kegilaan ayah dulu juga sering mendapat tentangan keras dari Ibu Mikai.

Ibu sungguh wanita conservative. Hidup apa adanya namun terkadang juga berani mengambil resiko. Hal gila yang ibu suka dan ditularkan pada Mikai hanyalah perkara motor. Keduanya cocok dalam hal motor. Jangan ditanya seberapa hebohnya kalau sudah race motoGP dimulai. Tak hanya dilayar kaca. Sepang Circuit pun mereka jabanin. Tapi tetap beda selera rider motoGP yang digemari. Mikai menyukai Jorge Lorenzo sedangkan Ibu Mikai lebih suka Andrea Ianone. Agak aneh kan? Karena kebanyakan orang menyukai Valentino Rossi sang legend atau pun baby alien Marc Marquez.

“Suka saja aneh – aneh.” Tambah ibu lagi.

Mikai hanya nyengir. Dia tak menyangkal Ibunya sedikit pun. Memang benar. Kalau tak aneh rasanya bukan dirinya. Entah ada berapa milyar ide gila dan aneh dalam otaknya. Beberapa dia laksanakan. Beberapa lainnya hanya sekedar ide tanpa implementasi. Beberapa laginya hampir dilaksanakan namun gagal, ada juga yang gagal total setelah banyak effort dia curahkan.

“Hidup cuma sekali,Ibu. Jadi sebanyak – banyaknya melakukan apa yang bisa dilakukan. Seengaknya kalau besok meninggal dan ditanya sama Allah ngapain aja selama hidup, ya punyalah sedikit catatan dan kenanganlah.” Mikai menanggapi dengan santai sambil meneguk secangkir teh hangat.

“Terserah kamu deh. Siapa coba yang bisa menghalangi kamu?”

Mikai meletakkan cangkir gelasnya. Dia terdiam sejenak. “Gini deh, kalau Mikai pake narkoba atau melakukan tindakan kriminal Ibu boleh mukul mikai sampai babak belur plus ngomel tiap hari. Tapi Mikai rasa ini tidak salah.”

Ibu memandang Mikai dengan sengit. “Memang tidak salah. Tapi kamu bisa apa? Kamu tak punya ilmu dan pengalaman dibidang tersebut. Kalau kamu membuat kesalahan bagaimana? Dengar ya orang itu bisa saja melahirkan seribu kali tapi tidak berarti dia bisa jadi ibu yang baik untuk seribu anaknya. Karena tiap karakter anak itu berbeda. Apa lagi anak – anak itu, mereka berkebutuhan khusus.” Ibu menyampaikan pandangannya. “Tidak semudah yang kamu bayangkan. Ini bukan sekedar ide gilamu itu tapi masa depan mereka juga jadi pertaruhan.”

Mikai menganggukkan kepalanya. “Ibu benar. Sama sekali tidak salah. Semua orang di dunia ini juga tidak ada yang hebat. Mereka bisa jadi hebat karena tidak berhenti untuk belajar. Mikai juga demikian. Memang Mikai tak punya ilmu yang memadai. Tapi Mikai bisa belajar, Ibu. Bukankah kita lebih baik terlibat dari pada sekedar jadi pengamat.” Mikai menyampaikan isi pikirannya. Tak ada yang benar dan salah dalam keluarga mereka. Sedari kecil ibu dan Ayah memang menghadirkan keluarga yang demokratis untuk Mikai dan adiknya. Siapa saja boleh mengutarakan pendapat secara terbuka dan boleh disanggah juga secara terbuka.

“Baiklah kalau kamu pikir begitu. Ya semoga kamu berhasil. Ibu tak bisa membantumu apa pun untuk hal ini.”

Mikai tersenyum girang. “Ibu hanya cukup doakan Mikai aja.” Dia kembali meraih cangkir tehnya dan menghabiskan sisa benda cair itu dari dalam wadahnya. “Okaylah Ibu, Mikai pamit pergi dulu.” Mikai bangkit dari kursinya tak lupa mencium punggung tangan ibunya sebelum berangkat.

Hari itu menjadi sabtu pertamanya dalam fase baru hidupnya. Seperti janjinya pada Kepala Sekolah, Pak Yadi hari sabtu yang lalu Mikai telah bersiap. Dia tampak bersemangat. Dia mengenakan helmet kesayangannya sebelum menunggangi kuda besi-nya yang melaju menuju sekolah. Hatinya pun ceria. Setidaknya Ibu memberikan dukungan padanya.

“Bismillah.” Bisiknya dalam hati untuk memulai hal baru yang pertama kali dalam di dalam hidupnya.

Mikai melangkahkan kakinya ke Sekolah yang Sabtu lalu dia datangi. Kali ini Mikai datang lebih pagi dan tentunya dengan senyum penuh keyakinan. Perempuan itu menyadari apa pun yang dilakukan harus dengan keyakinan yang kuat. Dia menyapa para guru yang selama ini mengabdi di Sekolah.

“Kakak, hari ini ikut di kelas Tissa.” Kata Tissa sebelum bel tanda pelajaran dimulai.

Lihat selengkapnya