Autisma atau Autis bukan satu gejala penyakit tetapi terjadinya penyimpangan sosial, kemampuan berbahasa, dan kepedulian terhadap sekitar, sehingga anak autism seperti hidup dalam dunianya sendiri.
-Yatim, 2002-
Tak ada yang lebih hebat dan menarik di dunia ini selain melihat baling kipas angin yang berputar dengan konstan. Mata Izal sungguh takjub melihat putaran kipas angin itu. Anak usia 9 tahun itu bahkan menarik kursi berbahan plastic yang dia letakkan tepat didepan kipas angin. Kipas angin dengan tiang panjang berdiri yang lebih tinggi sedikit dari tinggi Izal.
Rasanya tak bosan melihat putaran kipas angin yang berwarna ungu itu yang berada di sudut ruang keluarga. Putaran kipas angin membuat hari jadi terasa lebih cepat. Izal duduk bersama kipas anginnya sepanjang hari. Bahkan makan pun didepan kipas angin itu. Apalagi tidur, tak tertinggal kipas anginnya.
“Izal, makan dulu.”
Siang itu suara sang Ibu bergema dan menghilang dibawa angin dengan cepat. Izal tetap tak bergeming. Matanya tetap terbuka lebar melihat kipas angin yang berputar pada kondisi tombol 1.
“Izal… nanti sore ada ibu guru mau ketemu Izal makanya makan dulu. Ayo nak.”
Tak peduli. Izal tetap fokus pada kipas angin yang berputar dihadapannya. Menoleh pun tidak. Dia malah memutarkan kipas angin itu ke tombol 2. Kekuatan angin terasa lebih kencang dari sebelumnya menerpa wajah Izal. Namun matanya hanya melihat perputaran baling – baling kipas yang bergerak kian cepat. Matanya tak merasakan sedikit pun rasa perih dengan hantaman angin.
“Izal, ayo makan dulu.”
Sekali lagi terdengar suara Kak Nining yang jelas sekali namun lagi – lagi tak mendapatkan respon dari Izal. Dunia benar – benar terasa miliknya bersama kipas angin saja. Dia bahkan tak bergeming melihat ibunya yang kini berdiri didekat kipas angin. Matanya hanya menatap satu titik saja. Bahkan matanya sungguh tak menyadari bahwa tangan ibunya bergerak meraih adaptor kipas angin dari stop kontaknya.
“AAAAaaa…” Kontan Izal berteriak keras bersama dengan mengurangnya gerakan pada kipas anginnya hingga kipas itu berhenti berputar.
“Ada apa?” Seorang pria yang tadinya tampak membereskan sampah–sampah kayu sisa pemangkasan pohon di halaman rumahnya, berlari masuk ke dalam rumah. Dia adalah ayah Izal.
Kak Nining menunjukkan kearah kipas angin yang telah mati. “Biasalah, ada yang marah kalau kipas anginnya dimatikan. Lagian dari tadi belum makan. Nanti sore ibu guru datang ke rumah."
Ayah Izal menganggukkan kepalanya. Dia meraih Izal yang masih saja tidak berhenti berteriak, dan mengendongnya. Sang ayah menepuk- nepuk pundak Izal dengan lembut dalam dekapannya. Izal yang masih berteriak berlahan – lahan menurunkan volume teriakannya.
“Ayo makan aja dulu.” Kak Nining kembali membujuk putranya.