Hari sabtu itu seperti biasa Mikai dengan semangat yang tetap menyala berjalan menuju kelas disamping Ibu Aminah. Sejak di Notice oleh Tissa, Mikai lebih sering masuk kelas Ibu Aminah. Walau sesekali dia masuk ke kelas Tissa. Di kelas Ibu Aminah kebanyakan peserta didiknya memiliki kebutuhan khusus berupa Autisme, ADHD, dan Tunagrahita. Di kelas Ibu Aminah lah Izal menimba ilmu. Sabtu yang lalu dan juga tadi pagi Mikai berdiskusi dengan Ibu Aminah tentang keadaan peserta didik di kelas tersebut. Mikai masih memutuskan diri menjadi pengamat dan sesekali membantu Ibu Aminah untuk mengawasi peserta didik.
“Selamat Pagi… Assalam mualaikum.” Sapa Ibu Aminah dengan ceria.
Rasanya tak pernah sekalipun melihat wajah guru di SLB ini tampak murung. Semuanya tampak bahagia. Sebegitu bahagianya menjadi guru. Mikai pun merasakan perubahan itu padanya. Kini hari sabtunya yang biasa hanya rebahan dan terasa tak bersemangat berubah dasyat. Dia pun merasa kian ceria setiap harinya bahkan saat meningat mereka. Anak – anak itu berhasil membuat dunianya bermakna.
“Selamat pagi…”
Ada beberapa peserta didik yang menjawab dengan suara yang bervariasi. Ada yang pelan, ada pula yang berteriak. Tidak banyak yang merespon dengan menjawab. Yang lainnya asyik dengan dunianya sendiri. Intinya yang lain ngekost di dunia ini. Respon lain yang didapat hanya kerlingan mata yang menatap sebentar kearah Ibu Aminah, kemudian kembali diturunkan menatap kearah lantai.
Mikai menangkap sosok Izal yang mulutnya berkomat – kamit, tak tahu apakah dia menjawab salam Ibu Aminah atau tidak. Mikai tidak berhasil mengangkap suara dari bibirnya. Namun tetap matanya tak sama sekali melihat kearah Ibu Aminah ataupun kearah Mikai. Dia benar – benar asyik dengan dunianya sendiri. Matanya fokus pada pensil warna yang berserakan diatas meja belajarnya. Sementara tangannya bergerak memainkan dan menyusun –nyusun pensil warna.
“Hari ini Ibu di temani oleh Ibu Mikai yang cantik…” Suara Ibu Aminah masih dalam kontrol yang sama dengan sebelumnya.
“Hallo… Selamat pagi… apa kabar semuaya. Kita ketemu lagi ya…” Mikai menyapa dengan ceria tapi tak bisa mengalahkan ekspresi ceria di wajah Ibu Aminah.
Lagi – lagi hanya sedikit yang merespon. Wajar sih. Malah Adit, anak yang mengalami ADHD malah bangkit dari kursinya berlarian diseluruh ruangan. Kemudian mampir mendekati Ibu Aminah dan merengek sambil menunjuk kearah botol minum Tupperware warna orange miliknya yang berada diatas mejanya. Dia mengisyaratkan minta tolong Ibu Aminah untuk membukakan botol itu. Memang bukan pemandangan yang aneh di Sekolah berkebutuhan Khusus. Mereka bebas berekspresi dengan pelan – pelan diarahkan oleh guru dan tenaga kependidikan.
Mikai dengan cekatan meraih botol warna orange milik Adit dan membukanya. Mikai mengulurkannya pada Adit malah ditepisnya tangan Mikai dan kembali berlari – lari berkeliling di dalam kelas sambil menangis. Mikai sudah beberapa kali masuk kelas, Mikai mengerti kondisi dari peserta didik. Memang ada yang maunya hanya dibantu sama guru itu saja. Kalau dibantu sama guru yang lain maka dia akan marah. Terkadang juga mau dibantuin oleh siapa saja. Mikai segera menyerahkan botol orange itu kepada Ibu Aminah.
“Adit ayo berhenti.” Ibu Aminah menangkap tubuh Adit dan memberikan botol yang telah terbuka kepada Adit.
Tanpa mengucapkan terima kasih Adit langsung memasukkan sedotan pada botol kemulutnya. Wajahnya tampak girang. Ekspresi tergambar jelas diwajahnya yang menunjukkan rasa terima kasihnya. Dia kembali ke mejanya, dan setelah beberapa menit kemudian kembali bergerak. Ya, pada dasar anak dengan ADHD tak bisa berdiam diri dalam waktu yang lama. Berbeda dengan Izal yang sedari tadi asik tak bergeming sedikit pun dari pensil – pensil warnanya.
Hari itu peserta didik diajak untuk mengenal angka. Untuk tidak bosan Ibu Aminah mengunakan visual berupa sederet angka dari bahan plastik dan clay yang dibawanya dari kantor. Ibu guru nan kreatif itu bahkan membawa beberapa lembar kertas yang terdiri dari angka – angka. Sesuai dengan diskusi Mikai dan Ibu Aminah selama ditelpon Mikai hanya membawa spidol yang memang telah disiapkan di sekolah. Setelah Ibu Aminah menyampaikan materinya, beliau memberikan kesempatan pada Mikai.
“Nah kita mulai dari Angka Nol ya, anak- anakku.” Mikai dengan suara riangnya berekspres di depan kelas. Dia menuliskan angka 0 (Nol) disana. “Apa yang bisa kita buat dari angka 0 ini?”
Tak mendapatkan jawaban. Tapi anak – anak itu terdiam sejenak melihat ke white-board.
“Dari angka 0 kita bisa titik dalam angka nol tepat ditengah – tengahnya ya, seperti ini.” Mikai mencoba membuat titik yang tepat berada ditengah walau rasanya beberapa senti kurang untuk menjadi titik center dari sebuah lingkaran atau angka nol itu. “Dari titik yang telah kita buat tadi, kita dapat melanjutkan dengan membuat garis seperti ini.” Mikai memakai titik tengah jadi pusat dan menariknya ke lingkaran nol yang dibuatnya. Tak hanya satu garis, beberapa garis dia buat. “Nah coba lihat ini jadi apa? Ini adalah ban dari roda motoGP. Ayo ada yang tau MotoGP?”
“Rossi.” sahut pelan dari Fajar penderita Tunagrahita down syndrome dengan memiringkan wajahnya menatap white-board.
“Benar. Valentino Rossi adalah rider atau pembalap dari MotoGP. Pintar sekali Fajar.”
Fajar tersenyum lebar menerima pujian dari Mikai. Sekilas Mikai melihat Izal yang tadinya asik dalam dunianya melirik kearah whiteboard. Benar, anak itu bereaksi pada kata motoGP. Olahraga yang memaju kecepatan motor itu benar – benar menjadi olahraga favourite segala lapisan masyarakat Sanggau. Tidak heran nih setiap race pada hari minggu hampir rata – rata orang Sanggau akan terhenti aktifitasnya hanya untuk menyaksikan motoGP. Selain menonton di rumah masing- masing, ada juga yang nonton bareng dibeberapa titik temu seperti di cafe atau pun di halaman rumah penggemar motoGP lainnya. Mikai sebagai pengemar motoGP pun kerap melakukan itu.
“Apa lagi ya yang bisa kita bikin dari angka nol, ayo coba kita bikin angka nol lagi.” Mikai membuat dua angka nol yang berjejeran. “Nah, dua angka nol ini dikasikan garis diatasnya. Jadi apa? Jadi mata doraemon. Hayo siapa yang suka nonton doraemon.”
Ibu Aminah mengangkat tangannya. Perempuan paruh baya itu berkata, “Ibu sih lebih suka doraemon dari pada MotoGP.”
“Wah, ada yang sama kesukaannya dengan Ibu Aminah?”
“Katanya Adit juga suka doraemon, Ibu Mikai. Benarkan Adit?”
Tak menjawab Adit malah berlari mendekap Ibu Aminah.
“Okay ya Ibu sudah membuat dua gambar dari angka nol. Sekarang coba buat dibuku masing – masing gambar dari angka nol itu. Terserah mau buat apa.”
Ibu Aminah dan Mikai berkeliling membantu anak – anak untuk mengasah kreatifitasnya. Satu persatu mereka berekspresi membuat karya dari angka nol. Berlahan namun pasti satu persatu peserta didik mampu menyelesaikan tugasnya. Mikai menghampiri lagi bangku dimana Izal duduk. Anak itu masih saja asik dengan menyusun – nyusun pensil warnanya. Dia bahkan membiarkan bukunya yang tadi sudah Mikai tuliskan angka nol (0) berukuran sedang yang berada di tengan bagian buku milik Izal. Namun tak disentuhnya.