Sepasang mata menatap langit – langit kamar yang berwarna putih bersih. Tatapan mata yang menunjukkan sorot kesedihan yang mendalam. Sorot mata itu milik Mikai. Perempuan itu berbaring berbantalkan lengannya diatas selembar tikar bemban. Bemban sendiri merupakan tamanan yang tumbuh di sekitar sungai Kapuas yang dikenal dengan nama ilmiah Donax canniformis. Tanaman bemban tersebut diambil oleh para perajin direndam beberapa hari, setelah itu baru dicuci bersih kemudian dijemur sampai kering. Setelah itu baru digunakan untuk membuat anyaman tikar.
Tiduran diatas tikar bemban dipanasnya matahari tropis siang ini terasa adem. Namun rasa adem itu tak mampu membuat pikiran Mikai adem. Pikirannya berkecamuk liar entah kemana. Rasa traumanya masih menghantui harinya. Ada rasa untuk menyerah saja. Namun sisi lain dari jiwanya mengatakan masuh terlalu pagi untuk menyerah.
Kata maaf? Mikai telah menghaturkan kata maaf itu sebanyak yang dia bisa. Dia sudah langsung sampaikan dari hatinya yang terdalam setelah kejadian, saat Kak Nining datang untuk menjemput Izal. Hatinya masih saja berkecamuk walau Kak Nining tak menunjukkan ekspresi yang buruk padanya. Kak Nining sendiri mendekapnya saat itu. Tapi rasanya sulit dia berdamai dengan hatinya. Kepada Izal pun Mikai sampaikan permintaan maaf, ya memang hanya bisa bilang maaf walau tak mendapat respon dari Izal.
“Anak itu bagaimana dia tidak merasakan sakit sama sekali.” Mikai bergumam bingung.
Ada banyak hal yang berputar – putar di dalam relung otaknya. Namun semakin dipikirkan semakin banyak yang tidak Mikai mengerti. Berbaring ditikar bemban yang adem dengan menatap langit – langit kamarnya pun tak bisa membantunya menguraikan apa yang sedang terjadi. Dia membutuhkan seseorang buatnya diajak diskusi.
“Telpon Haziq saja lah.” nama Haziq muncul dalam pikirannya.
Mikai bangkit dari posisi rebahan dan mulai memperhatikan kesekelilingnya. Dia mulai bergerak dari satu sisi ke sisi lainnya. Dia memlihat diatas meja belajarnya, diantara susunan buku di rak bukunya, susunan tasnya, bahkan dia membuka tas yang kemarin gunakan, namun handphone-nya belum juga dia temukan. Mikai terdiam sejenak. Mengingat dimana handphonenya dia simpan.
Kakinya melangkah menuju tempat tidurnya yang sprai berwarna pink dengan motif burung hantu kesukaannya. Mikai mencari dibawah tiap bantalnya, namun tetap saja tak ada. Bahkan handphonenya juga tarlihat dibawah salimut yang terlipat rapi dibagian ujung bawah tempat tidur. Tangannya kembali bergerak menjangkau boneka berukuran sedang yang juga berbentuk burung hantu yang tampak terbaring manis disambing lipatan selimut. Mikai menarik nafas lega. Benar saja, handphonenya ada disitu.
Knock…knock…
Belum sempat tangan Mikai meraih handphonenya. Perhatiannya sudah teralihkan dengan bunyi ketukan dipintu kamarnya.
“Mikai.” Suara Ibunya terdengar dari balik pintu. “Buka pintumu.”
Mikai tak jadi meraih handphonenya. Boneka burung hantunya pun dia lepaskan dari tangannya. “Iya, Ibu bentar.” Sahut Mikai yang langsung berjalan menuju pintu kamarnya yang berwarna coklat dan membukanya.
“Itu ada Gea didepan.” Bisik Ibu.
Mikai mengerutkan dahinya mengingat apakah dia punya janji dengan Gea. “Rasanya ndak punya janji deh sama Gea, Ibu. Terus dia juga ndak ada bilang mau kesini. Tumben banget.” Celetuk Mikai dengan suara yang juga pelan.
“Udah temuin aja. Kan nanti juga bakalan tau.”
“Iya.” Angguk Mikai yang langsung melangkah menuju ke ruang tamunya. Sedangkan Ibunya kembali duduk di depan TV menonton acara kesayangannya selain MotoGP yaitu siaran berita.
Di ruang tamu tampak Gea yang duduk dengan manis bersama segelas air putih dingin yang ternyata sudah disuguhkan oleh Ibunya Mikai. Ada juga manisan cermai tampak disana. Gea terlihat menikmati manisan cermai tersebut. Gea langsung tersenyum melihat Mikai yang barusan saja memasuki ruang tamu menemuinya.
“Enak manisan cermai nih.” Ucap Gea dengan bersemangat tak berhenti memasukkan satu buah manisan ke mulutnya.