Baling Kipas Angin Yang Berputar

Lady Mia Hasneni
Chapter #13

Chapter 13: Velg Marc Marquez

Alur lalu lintas hari ini terlihat padat padahal matahari baru keluar menyapa penduduk bumi. Pemandangan biasa yang terjadi setiap tahunnya dihari minggu paling dinanti oleh peminat motoGP yang tak hanya berasal dari Malaysia tetapi juga seluruh penjuru dunia. Ada banyak turis yang datang ke Negara dengan jargon Malaysia Truly Asia, hanya untuk menyaksikan olahraga dengan Valentino Rossi yang menjadi legenda hidup dan masih tetap aktif hingga sekarang.

Setiap tahunnya Mikai sebagai pengemar dari Jorge Lorenzo tak pernah mau ketinggalan untuk datang ke Sepang Circuit. Tapi ditahun ini dia kehilangan semangat. Insiden Izal yang juga terkait dengan MotoGP masih meninggalkan guncangan terhadap jiwanya, walaupun kejadian itu telah lewat beberapa minggu yang lalu. Izal pun kini sudah kembali sehat dan masuk sekolah setidaknya begitu info yang disampaikan oleh Tissa dan juga Kak Nining selaku Ibu dari Izal. Dan sejak kejadian itu pula Mikai belum pernah melangkahkan kakinya ke sekolah. Ada rasa menyerah menghampiri dirinya. Namun lidahnya kelu untuk menyampaikan hal yang tidak mnyenangkan tersebut kepada Pak Yadi. Dirinya yang terpuruk bahkan sudah mengatakan pada Haziq bahwa dia tak akan datang kali ini. Dating mereka di circuit tahun ini terancam gagal. Namun sang Ibu malah membujuknya untuk pergi.

“Setidaknya kamu butuh me-refreshing pemikiran kamu. Jadi Nanti kembali dengan semangat yang baru.” Begitu kata Ibu hari itu.

Sebagai pengemar MotoGP ibu Mikai memang tak pernah melarang Mikai untuk pergi ke circuit. Terkadang Ibunya pun ikut bersama Mikai. Namun tahun ini Ibu ingin Mikai lebih relax dengan menonton olahraga yang menjadi favourite-nya. Sabtu pagi dia baru memutuskan untuk pergi menuruti bujukan sang Ibu. Mikai segera menelpon ke sekolah untuk minta ijin lagi. Totalnya ada 3 sabtu yang dia lewatkan tanpa datang ke sekolah. Kemudian menarik ranselnya untuk memasukkan beberapa lembar pakaian dan perlengkapan lainnya.

Pukul delapan pagi Mikai bertolak dari terminal bis Sanggau menuju perbatasan. Dirinya baru memesan tiket pesawat menuju KLIA dari dalam bis. Beruntung dia tinggal di perbatasan, mudah sekali untuk menjangkau Malaysia. Jam 11 lewat beberapa menit Mikai tiba di Balai Karangan. Dia mampir sebentar untuk makan dan sholat. Kemudian dia menaiki angkot untuk langsung menuju batas untuk cap passport.

Malaysia pun bukan menjadi Negara yang asing baginya dan hampir seluruh penduduk perbatasan yang hidup berdampingan dengan damai bersama orang – orang dari Negara tetangga itu. Rasanya seperti tak ada beda, sama saja, rasa keluarga saja, bahasa pun sama, kebiasan pun hampir sama, bahkan budaya pun sama, tapi adanya passport yang menjadi pembedanya. Setelah cap passport di imigrasi perbatasan Indonesia di Entikong dan di Imigration Malaysia di Tebedu yang letaknya saling berhadapan, Mikai berjalan kaki menuju jejeran kendaraan umum milik Malaysia berupa mobil van yang terparkir tepat dipintu keluar immigration Malaysia. Bila penumpangnya penuh Van akan berangkat mengantarkan penumpang ke tujuan mereka masing – masing. Ongkosnya pun beragam. Bila pergi ke Kuching Airport seperti Mikai hanya dikenai ongkos sebesar 15 MYR saja per satu orang. Tidak mahal.

Pukul 5 lewat beberapa menit pesawat yang membawa Mikai mendarat dengan selamat di KLIA. Mikai yang sedari tadi pagi sudah mengabari Haziq tentang keberangkatannya tepat setelah booked flight-nya. Dia segera menelpon haziq begitu dia mendaratkan kaki di KLIA 1. Mikai berjalan ke pintu keluar bandara bersama dengan penumpang lainnya. Bila Haziq sibuk, biasanya Mikai lebih memilih naik train. Namun hari itu hari sabtu malam minggu haziq punya waktu menjemput wanita yang mengisi kehidupannya beberapa tahun belakangan ini.

“Abang kat mane?” Ucap Mikai menelpon Haziq seraya menoleh kekanan dan kekiri saat kakinya melangkah pelahan melewati pintu keluar.

“Tenggok ke kiri.” Haziq memandu.

Mikai menoleh kearah kiri melihat Haziq yang melambaikan tangan diantara manusia lain disana. Mikai berlari menghampiri Haziq dengan secepat kilat. Rasanya cukup lama mereka tak bertemu. Keduanya segera melompat masuk ke Mobil Haziq yang terparkir sebentar di depan pintu keluar.

I miss you.” Bisik Haziq saat membukakan pintu mobil untuk Mikai.

Mikai bereaksi dengan tersenyum, dan duduk dengan manis menunggu Haziq masuk mobil. “I miss you too.” Balas Mikai pada Haziq yang sudah duduk dibalik kemudi disampingnya.

Malam minggu itu menjadi malam minggu yang manis buat dua orang yang saling mencintai. Wajah keduanya tampak begitu cerah walau tak bisa menipu ada gurat lelah disana. Ternyata rasa lelah itu tak akan terasa bila bersama dengan sang kekasih. Ada banyak cerita yang menjadi topik pembahasan sepanjang perjalanan.

Setelah makan malam, Mikai dan Haziq mampir ke kedai untuk membeli segala persiapan untuk besok. Malam itu mereka harus me-recharge energy yang akan terkuras habis esok harinya. Hal itu selalu mereka lakukan setiap tahunnya demi menyaksikan motoGP. Biasanya Mikai datang sebelum qualifikasi, tapi kali ini hanya datang untuk race day aja. Mikai tak punya cukup waktu untuk beristirahat.

Jam 3 pagi Mikai sudah bangun untuk mandi dan bersiap. Haziq pun melakukan hal yang sama. Mikai mempersiapkan makanan untuk mereka selama menonton sedangkan Haziq memasak untuk sarapan. Hari itu haziq membuat mie goreng dan dua gelas susu, tak lupa dia memotong satu buah apel untuk mereka berdua. Rasanya seperti piknik tapi di circuit. Kencan yang menarik itu selalu jadi agenda tahunan yang menyenangkan. Setelah sholat subuh dan sarapan keduanya langsung bertolak menuju Sepang Circuit. Matahari yang masih malu – malu menatap kepergian dua orang penggila MotoGP yang juga dipertemukan oleh MotoGP di Circuit MotoGP.

“Oh ya anak itu, si Izal dia juga suka MotoGP.” Ucap Mikai tiba – tiba saat melihat lurus kedepan. “He loves Marc Marquez like you.”

Haziq yang menyetir disampingnya menganggukkan kepalanya. “I knew. You have told me bout it already.” Sahut Haziq yang tetap menatap lurus kedepan.

Mikai menganggukkan kepalanya “Yea. I have told it.” Mikai membetulkan posisi duduknya. Dia menatap Haziq yang menyetir. Hari itu Haziq menggunakkan T-shirt berwarna hitam dengan angka 93 berwarna orange yang dibawahnya tertulis ‘Marc Marquez’. Tampak pula dua topi yang berada dikursi belakang yang satunya bertuliskan angka 93 dan yang satunya lagi 99.

Why? Something wrong?” Haziq yang menyadari pergerakan dari Mikai disampingnya bertanya.

“Kenapa dia suka hal yang berputar? Kipas angin dan motoGP.”

“I remembered, you said you’ve given up already. So tak jadi menyerah?"

Mikai melayangkan tinjunya ke lengan Haziq dengan pelan. Dia kesal mendengar reaksi Haziq yang barusan. Dia kembali mengubah posisi duduknya mengarah ke depan dengan mata yang menatap lurus ke jalan yang mobil Haziq barusan saja melewati Lingkaran Gemilang Satu menuju Seri Gemilang Bridge.

Haziq tersenyum melihat reaksi Mikai yang langsung berubah. “Ey, Don’t be sulky lah.” Rayu Haziq dengan suara yang lembut. “Nanti kalau Lorenzo tenggok fan-nya sulky cam ini tak menang pula. Kalahlah lawan Marc tu. Kesianlah.”

“Eist... Hari ini mestilah Lorenzo will get podium.” Mikai menjawab dengan sengit.

"Okay, we'll see." Angguk Haziq.

But seriously I am still curious bout Izal.” Mikai kembali ingin membahasa tentang Izal dengan Haziq, yang dia tau lebih paham tentang dunia pendidikan dibandingkan dirinya.

Haziq lagi – lagi tersenyum mendengar perkataan Mikai barusan. Dia merasa Mikai yang berbeda dia temui dari beberapa tahun yang lalu. Tapi entah harus senang atau sedih, bagi Haziq perubahan Mikai bukanlah hal yang buruk. “Pernah Profesor Abang cakap ada beberapa jenis cek gu, one of them adalah mereka yang terlahir sebagai cek gu even dia piker dia tak punya ilmu cukup. Tapi bila kita nak ilmu cukup takkan pernah bisa jadi cek gu. So, Abang rase Mikai terlahir untuk jadi cek gu. Kalau tak punya soul sebagai cek gu, tak akan macam ini. Lorenzo pun terlupakan, apa agik abang nih, dia malah ingat student-nye je kat mane – mane.”

Lihat selengkapnya