“Mikai, hari ini ikut kelas ibu ya.” Ujar Ibu Aminah sebelum bel tanpa sekolah dimulai berbunyi.
“Siap, Ibu.” Angguk Mikai bersemangat.
Sudah lebih dari satu semester Mikai menjalani perannya di hari Sabtu. Rasa shock, trauma, kaget, semua perasaan itu kini sudah melebur. Dia semakin bisa memanagement dirinya. Semua tantangan satu per satu terasa bisa dilewati. Dia banyak berdiskusi dengan rekan guru dan juga kepala sekolah menambah pengetahuannya. Semakin banyak pula buku dan jurnal yang dia baca. Perpustakaan kembali menjadi tempat favourite-nya.
Izal. Anak itu kembali ke sekolah setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit. Dia kembali ke dunianya. Dunia baling – baling yang berputar. Sebulan yang lalu saat Mikai mengajak mereka membuat baling – baling angin dari kertas. Izal terus meniup – niup baling kertas itu agar dia berputar. Mikai tak bisa melupakan ekspresinya sungguh sangat bahagia. Perubahan yang juga dialami Izal dalam hal berkomunikasi, kini dia mulai mau bicara lebih banyak dari sebelumnya. Walau kadang sepatah dua patah kata. Ya, Semuanya akan mengalami perkembangan. Begitulah usaha tak akan ada yang tak menampakkan hasilnya, entah bergerak lambat atau pun cepat.
Bel berbunyi membahana mengisi setiap cela di sekolah luar biasa hari itu. Bahkan gepakan ekor ikan lele yang berenang di kolam sekolah menjipratkan air beberapa sentimeter. Mereka pun ikut kaget mendengar bel yang sebenarnya sudah menjadi rutinitas setiap harinya kecuali minggu. Seisi sekolah pun sudah bisa menebak bahwa Pak Syahroni sang penarik bel yang penuh semangat.
Bunyi bel menjadi pertanda setiap orang di sekolah harus melaksanakan tugas dan fungsinya secara baik dan bertanggung jawab. Sesuai dengan permintaan Ibu Aminah tadi, Mikai hari itu kembali ikut ke kelas Ibu Aminah. Seperti biasanya dikelas Ibu Aminah, Mikai melihat berbagai macam ulah para peserta didik. Ada yang hanya diam dan temanggu, ada yang asik dengan dunianya, ada juga yang sibuk berlarian kesana kemari tak bisa diam ditempat dan berbagai macam aktifitas lainnya.
Seperti biasa Ibu Aminah yang tampil dengan bersemangatnya menyapa para peserta didik tercinta. Mikai benar – benar bisa merasakan banyak hal yang dilakuan untuk menjadi guru, diantarnya mengajar, mendidik, mengasihi, mencintai, membagi ilmu dengan ikhlas, menghibur, memotivasi, mengerti, memahami, yang kemudian dipadu menjadi satu kesatuan. Sungguh kekal oleh jaman buah pikiran dari Ki Hajar Dewantara yang mengatakan “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”. Sungguh beruntung orang yang hidup di era itu punya guru dan Menteri Pendidikan sebijak beliau.
Mikai yang mengikuti Ibu Aminah juga menyapa para peserta didik dengan riang. Tak ada alasan untuk tidak ceria. Wajah – wajah para peserta didik sungguh menjadi vitamin menyemangat. Hari itu Ibu Aminah mulai memberikan materi tentang kendaraan. Perempuan yang sudah hampir 30 tahun mengabdikan diri sebagai guru membawa beberapa poster dan juga kepingan bentuk kendaraan.
Poster – poster itu ditempelkan pada papan tulis dengan solasi bening oleh ibu Aminah. Mikai sendiri bertugas membagi – bagikan kepingan kendaraan yang berbeda ke setiap peserta didik masing-masing satu kepingan. Izal yang juga merupakan pengemar balapan motor mendapatkan kepingan bentuk motor. Setelah semuanya siap, Ibu Aminah mulai menjelaskan kendaraan dan fungsi – fungsinya, serta dimana saja kendaraan itu melintas.
“Ini Kepingan helikopter seperti dipengan Adit.” Kata Ibu Aminah me-mention Adit yang mengibas- ngibaskan kepingannya, tak bisa diam seperti biasanya. “Ayo Adit tunjukan kepingan punya Adit.”
Mikai bergerak cepat membantu Adit menunjukkan kepingan miliknya ke teman – temannya. Begitulah cara yang bisa digunakan oleh Ibu Aminah untuk mengajak peserta didik berkomunikasi.
“Nah, pintar sekali Adit.” Puji Ibu Aminah memberikan apresiasi pada Adit. “Helikopter ini adalah kendaraan udara, jauh sekali terbangnya dilangit sana.”