Ada banyak organisme yang hidup, tumbuh dan berkembang dalam tenangnya air kolam – kolam buatan yang sengaja dihadirkan untuk mempercantik ruang terbuka. Air yang tak menimbulkan riakan itu menyimpan sejuta cerita, entah bagi organisme yang hidup didalam sana, atau pun bagi mata – mata yang memandang dan menikmati dari luar.
Tumbuhan air hidup dipermukaannya dengan menonjolkan keindahan yang unik. Teratai bermekaran diantara hijaunya daun teratai dan eceng gondok. Bila kita duduk menatap dengan seksama menyaksikan tenangnya air yang tampak dari permukaan, tak hanya dua tanaman air itu saja disana namun terlihat binatang kecil yang bernari – nari bahagia diatas air. Bagai panggungnya, binatang kecil yang bentuk badannya lebih lurus dan kecil dari pada sapu lidi dari daun kelapa, bergerak – gerak leluasa nan bebas.
Melihat air yang bergerak tenang dan statis dengan binatang – binatang kecil yang tak pernah menunjukkan duka membuat hati yang memandang juga ikut merasa bahagia. Tangan pun gatal menarik handphone hanya untuk sekedar mengabadikannya saja. Men-capture sekitar dimana anak – anak sibuk dalam dunianya sendiri. Sebuah kolam ditengah – tengah lingkungan sekolah yang asri. Mata Mikai terhenti pada sosok beberapa anak yang terpaku juga mentap kolam, sama seperti dirinya. Bahkan diantaranya tampak Izal. Berbeda dengan temannya yang berdiri, Izal malah duduk memandang kolam dengan serius.
Memori Mikai teringat pada baling kipas angin yang bergerak, velg Marc Marquez dan juga baling-baling pada gambar kapal yang dilukis Izal. Dia penasaran apa lagi imaginasi dalam pikiran anak itu. Mikai berjalan menghampiri Izal dan duduk di sebelahnya. Dodo anak penderita down syndrome dari kelas Tissa mengikuti Mikai dan duduk sebelahnya begitu juga Sita anak dengan tunarungu yang memeluk Mikai dari belakang. Mikai hanya tersenyum saja mengelus lembut kepalanya dengan jilbab berwarna coklat.
“Ibu, itu binatangnya apa perlu baling – baling untuk bisa berjalan diatas air?” Tanya Izal yang membuat Mikai cukup kaget. Bukan kaget atas pertanyaannya. Tapi kaget ternyata anak itu tidak sedang tenggelam dalam dunianya.
Mikai juga senang mendengar pertanyaan yang luar biasa itu. “Tidak. Dia tak membutuhkan baling – baling untuk bergerak diatas air. Binatang itu namanya adalah anggang- anggang. Bentuk tubuhnya yang ringan memungkinkan dia untuk mengapung diatas air. Selain itu dia punya kemampuan menahan beban. Coba lihat kakinya ada empat kan.” Mikai menunjuk kearah anggang- anggang yang sedang asyik bergerak. “Kakinya sangat kecil dan tipis bukan, makanya dia ringan.” Mikai berusaha menjelaskann tentang anggang- anggang dengan bahasa sesederhana mungkin, sehingga mudah untuk dipahami.
“Kalau badan Izal ringan, Izal juga bisa berjalan diatas air?”
Mikai tersenyum mendengar kalimat yang berikutnya.
“Tidak perlu pakai kapal, ya bu?” Izal melanjutkan pertanyaannya.
Mikai memutarkan otaknya sebentar. Bahaya kalau dia salah menjawab, karena dia tau tingkat pemikiran anak itu sangat tinggi. “Tetap tidak bisa, Izal." Mikai mengelengkan kepalanya. Izal tidak akan bisa berjalan diatas air kayak anggang – anggang. Walau anak bayi saja berjuta – juta kali lebih berat dari anggang- anggang, dan pastinya akan tenggelam. Batu kecil saja bisa tenggelam bila dilemparkan ke air, apalagi Izal. Apalagi sekarang kan Izal udah besar.”
“Izal mau jadi anggang- anggang kalau begitu.”
Mikai tersenyum mendengar ucapan Izal barusan. Imajinasi luar bisa itu tak boleh dihentikan. Dia berharap Izal bisa bertemu dengan seorang guru yang tepat untuk membimbingnya menggeluarkan segala potensi yang dia miliki. Dia butuh guru dengan kemampuan yang cemerlang pula.
“Kenapa mau jadi anggang- anggang?” Mikai bertanya.