Selalu ada suara piring yang beradu dari dapur saat mama menyiapkan sarapan, suara televisi yang menyala terlalu keras menayangkan berita usang, suara motor bapak yang memecah keheningan halaman rumah menjelang magrib, atau suara mama yang melengking memanggil namaku dari ruang tengah hanya untuk menyuruhku membeli garam di warung sebelah. Kebisingan-kebisingan itu, sekecil apa pun, adalah detak jantung dari bangunan yang kami sebut rumah.
Tapi malam itu berbeda. Malam itu, rumah terasa seperti sedang menahan napas di bawah tekanan udara yang mendadak pekat.
Aku duduk bersila di atas lantai kamar yang dingin, membiarkan punggungku bersandar pada pintu kayu yang sedikit lapuk. Di tanganku, ada ponsel mama yang tertinggal di samping bantal tidur yang sarungnya sudah mulai pudar. Awalnya, niatku murni dan sederhana. Aku hanya ingin mematikan alarm keras yang sejak tadi berdering tanpa henti, mengacaukan konsentrasiku yang sedang mencoba menghafal rumus aljabar untuk ujian besok pagi.
Namun, tepat ketika ujung jempolku hendak menggeser layar, sebuah notifikasi masuk. Layar LCD yang retak di sudutnya itu menyala, memantulkan cahaya putih yang menyorot langsung ke bola mataku.
“Udah makan belum sayang?”
Aku mengernyit. Nama pengirimnya bukan bapak. Nama itu asing, atau mungkin sengaja disamarkan dengan inisial yang tidak masuk akal. Ada rasa aneh yang tiba-tiba merayap di dadaku seperti sensasi dingin yang merambat pelan dari ujung kaki menuju hulu hati. Jantungku berkejaran dengan ketakutan yang belum bisa kudefinisikan. Dengan tangan yang mulai terasa kaku, jempolku bergerak membuka kunci layar, menembus dinding privasi yang seharusnya tidak kusentuh.
Aku masih ingat jelas bagaimana tangan kecilku bergetar hebat saat membaca satu demi satu pesan yang memenuhi aplikasi obrolan hijau itu. Setiap kalimat terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan dinding-dinding kepalaku.
“Aku kangen.”
“Nanti kalau dia tidur telepon aku ya.”
“Aku sayang kamu.”