Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #2

BAB 1: Rumah yang Terlihat Baik-Baik Saja

"Kita tumbuh di bawah atap yang megah, tanpa pernah menyadari bahwa rayap-rayap rahasia telah lama menggerogoti tiang penyangganya."

Jika ada orang luar yang kebetulan melintas di depan rumah kami, menatap sekilas ke arah pekarangan, mungkin mereka akan melemparkan senyum ramah dan mengira bahwa keluarga yang tinggal di dalamnya adalah potret dari kebahagiaan yang bersahaja. Kami memang bukan keluarga kaya raya yang memiliki mobil mewah atau liburan ke luar negeri setiap akhir tahun. Tapi kami berkecukupan.

Rumah kami berdiri sederhana di salah satu sudut gang sempit di pinggiran kota Bandung. Sebuah rumah warisan yang menjadi saksi bisu tumbuh kembangku. Cat temboknya yang berwarna hijau muda sudah mulai mengelupas di sana-sini, digantikan oleh noda jamur kelabu akibat rembesan air hujan. Pagar besi di bagian depan sudah sedikit berkarat pada engselnya, memicu suara derit yang memilukan setiap kali didorong. Genteng bagian dapur pun memiliki tabiat buruk; ia selalu bocor dan memaksa kami menaruh ember plastik abu-abu kalau hujan barat turun terlalu deras di atas langit Bandung.

Namun, dalam ingatan masa kecilku yang naif, semua kekurangan fisik bangunan itu tidak pernah menjadi masalah. Rumah itu tetap terasa hangat. Rumah itu adalah tempat teraman yang kukenal di seluruh dunia.

Aku tumbuh besar dengan ritme lingkungan yang menenangkan. Suara azan magrib yang menggema dari pengeras suara masjid tua di ujung gang, aroma harum gorengan tempe dan bala-bala sore hari yang menguar dari gerobak Mang Udin di depan rumah, serta suara lembut mamah yang selalu berbisik di telingaku setiap subuh untuk membangunkanku pergi sekolah.

Aku adalah anak perempuan biasa yang memiliki mimpi-mimpi sederhana. Aku suka mengoleksi buku diary berkuci gembok kecil, suka duduk berlama-lama di dekat jendela kamar saat rintik hujan mulai membasahi dedaunan pohon mangga, dan suka membayangkan bahwa suatu hari nanti, hidupku akan berjalan lurus dan indah seperti cerita-cerita keluarga harmonis yang sering kutonton di sinetron televisi. Aku berpikir, selama Ayah dan mamah ada di sisiku, duniaku akan baik-baik saja.

Tapi ternyata, kehidupan nyata tidak pernah peduli pada ekspektasi seorang anak kecil. Hidup memiliki selera humor yang gelap, sering kali menumbuhkan duri di tempat yang paling kita harapkan akan tumbuh bunga.

Ketukan pertama dari keretakan itu terjadi saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Malam itu, jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjuk angka satu. Aku terbangun dari tidur karena tenggorokanku terasa kering luar biasa, membakar kerongkonganku. Dengan langkah gontai dan mata yang masih setengah terpejam, aku berjalan menyusuri lorong rumah menuju dapur untuk mengambil segelas air putih.

Langkahku terhenti tepat di batas ubin ruang makan. Suasana dapur sangat gelap, hanya diterangi oleh sisa cahaya lampu jalan yang menerobos masuk lewat ventilasi udara. Di sana, di atas lantai semen dekat kompor, aku melihat sesosok wanita sedang duduk meringkuk.

Lihat selengkapnya