Waktu terus bergulir tanpa memedulikan pergolakan batin yang terjadi di dalam rumah kami. Aku menyelesaikan masa SD-ku dengan membawa beban mental yang mulai menumpuk, lalu melangkah masuk ke gerbang Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Masa remaja awal yang seharusnya diisi dengan keceriaan, pencarian jati diri yang menyenangkan, atau obrolan konyol tentang cinta monyet di sekolah, justru mengubahku menjadi sosok yang sangat berbeda. Aku yang dulu ceria dan gemar bercerita tentang apa saja yang kutemui di jalan, perlahan-lahan bertransformasi menjadi anak yang tertutup. Aku menarik diri dari kedekatan emosional yang terlalu dalam dengan orang lain.
Aku mulai terbiasa menyimpan setiap masalah, setiap rasa takut, dan setiap air mata di dalam labirin pikiranku sendiri. Aku mengunci rapat-rapat pintu hatiku, tidak membiarkan satu orang teman pun tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding rumah berkarat itu.
Di lingkungan sekolah, aku memakai topeng yang sangat rapi. Aku berusaha keras untuk terlihat seperti siswi SMP pada umumnya biasa saja, normal, tanpa cela. Aku tetap bisa tertawa lepas saat mendengar lelucon garing teman-teman sekelasku di kantin, tetap mengacungkan tangan dengan penuh percaya diri saat guru melemparkan pertanyaan di depan kelas, dan tetap menjadi anak perempuan yang rajin mengumpulkan tugas tepat waktu. Aku tidak ingin dikasihani. Aku tidak ingin dicap sebagai anak dari keluarga yang bermasalah.
Namun, sandiwara itu menguras energiku hingga habis tak bersisa. Setiap kali bel pulang sekolah berbunyi dan aku harus melangkah kaki kembali ke rumah, rasanya seperti berjalan mendekati sebuah penjara bawah tanah yang pengap. Melangkah masuk melewati pintu depan rumah kami terasa seperti memasuki sebuah zona distopia yang dipenuhi oleh retakan tak kasat mata.
Mamah dan Ayah memang masih tinggal di bawah atap yang sama. Mereka masih berbagi ruang fisik yang bernama rumah. Tapi esensi dari sebuah keluarga telah mati di antara mereka. Hubungan mereka telah mencapai titik nadir, bertransaksi ego layaknya dua orang asing yang kebetulan terjebak dalam satu kamar hotel yang sama karena kehabisan pilihan.
Mereka jarang sekali terlibat dalam percakapan yang berlangsung lebih dari dua menit. Jika Ayah menanyakan sesuatu, Mamah akan menjawab dengan satu atau dua kata yang dingin, tanpa sedikit pun menatap mata suaminya. Begitu pula sebaliknya. Suasana di meja makan yang dulu penuh dengan obrolan tentang menu masakan atau nilai ujianku, kini berubah menjadi arena sunyi yang mencekam, di mana hanya ada suara denting sendok yang beradu dengan piring kaca.
Di tengah kesunyian yang membunuh itu, aku sering duduk termenung di sudut kamar, memperhatikan interaksi dingin mereka dari celah pintu yang terbuka sedikit. Pertanyaan-pertanyaan filosofis yang terlalu berat untuk anak seusia SMP mulai bermunculan di kepalaku.
Apakah cinta memang memiliki tanggal kedaluwarsa?
Apakah perasaan sayang yang dulu menggebu-gebu di awal pernikahan bisa habis menguap tanpa sisa hingga yang tertinggal hanya rasa benci dan keterpaksaan?*
Atau… jangan-jangan, sejak awal cinta itu memang tidak pernah ada di antara mereka? Apakah pernikahan mereka hanyalah sebuah kesalahan logistik yang harus dibayar mahal oleh masa kecilku?