Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #4

BAB 3: Topeng Madrasah dan Malam-Malam yang Dingin

Sejak malam penemuan obrolan terkutuk itu, esensi kedirianku berubah secara drastis. Aku tidak lagi menjadi Kirana yang dulu aku telah bertransformasi menjadi seorang pengamat yang dingin dan penuh kecurigaan di dalam rumahku sendiri. Rahasia besar yang kupikul sendirian itu mengubah cara pandangku terhadap setiap gerak-gerik Mamah.

Aku mulai memperhatikan detail-detail kecil yang sebelumnya luput dari perhatianku. Aku melihat bagaimana Mamah sering kali tersenyum sendiri sebuah senyuman penuh rahasia yang tampak ganjil di wajahnya yang mulai menua saat menatap layar ponselnya di sudut ruang tengah. Aku memperhatikan bagaimana intensitas Mamah berada di dunia maya meningkat drastis; ia sering kali terlihat masih *online* di aplikasi obrolan hingga pukul dua atau tiga dini hari, saat seluruh isi gang sudah terlelap dalam sepi.

Bahkan, ada perubahan fisik yang sangat mencolok. Mamah yang biasanya tidak terlalu peduli dengan penampilan di rumah, kini mulai sering berdiri berlama-lama di depan cermin lemari pakaian, merapikan tatanan rambutnya, atau memakai lipstik dengan warna yang sedikit lebih cerah sebelum pergi ke pasar atau warung depan.

Dan setiap kali aku menyaksikan pemandangan itu, dadaku terasa seperti dihantam oleh palu besar. Ada rasa sakit fisik yang nyata menjalar di ulu hatiku. Aku ingin sekali berlari ke arahnya, merebut ponsel dari tangannya, lalu berteriak sekencang-kencangnya di depan wajahnya: “Mah! Aku tahu semuanya! Aku tahu apa yang Mamah lakukan di belakang Ayah! Berhenti, Mah! Berhenti menghancurkan rumah ini!”*

Tapi aku tidak memiliki keberanian sebesar itu. Aku hanyalah seorang anak SMP yang nyalinya ciut setiap kali membayangkan konsekuensi dari sebuah konfrontasi. Aku dicekam oleh ketakutan yang teramat sangat; ketakutan bahwa jika aku membuka mulut dan mengeluarkan rahasia itu ke permukaan, struktur rumah kami yang sudah retak ini akan langsung runtuh seketika menjadi debu, dan kami tidak akan punya tempat tinggal lagi. Aku takut pada kata 'cerai'. Aku takut pada perpisahan yang nyata.

Lihat selengkapnya