Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #5

BAB 4: Bandung dan Hujan yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi

Bandung dan hujan adalah dua hal yang tidak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun. Kota ini seperti memiliki kontrak abadi dengan mendung selalu ada sudut langit yang bersiap menumpahkan air ke atas bumi Parahyangan.

Dan anehnya, setiap kali rintik hujan mulai turun membasahi kota, aku selalu merasakan gelombang kesedihan yang jauh lebih intens merayap masuk ke dalam pori-pori kulitku. Hujan seperti memiliki kemampuan magis untuk memperkuat gaung dari rasa sepi yang kupendam di dalam dada.

Setiap kali pulang sekolah dalam keadaan basah atau gerimis, aku memilih untuk langsung mengurung diri di dalam kamar. Aku suka duduk meringkuk di atas kursi kayu dekat jendela, menempelkan keningku pada permukaan kaca yang dingin, memandang ke arah jalanan gang yang perlahan berubah menjadi basah dan mengkilap karena genangan air.

Di luar sana, kehidupan berjalan dengan ritme normalnya yang menenangkan. Anak-anak kecil dari tetangga sebelah berlari-lari bertelanjang dada di bawah guyuran air hujan, tertawa lepas tanpa beban seolah-olah dunia adalah tempat bermain yang paling aman. Tukang cilok keliling lewat dengan setelan jas hujan plastik kuningnya yang lusuh, mendorong gerobak sambil sesekali membunyikan klakson bebek yang khas. Motor-motor melintas pelan, roda-rodanya membelah genangan air, menciptakan cipratan kecil di dinding-dinding pagar rumah orang.

Semuanya terlihat begitu biasa. Semuanya terlihat berjalan sesuai dengan porosnya masing-masing.

Tapi di dalam rumahku, tidak ada satu hal pun yang bisa dikategorikan sebagai hal biasa. Suasana di dalam sini terasa seperti pembusukan yang terjadi dari dalam batang pohon; di luar terlihat kokoh berdiri, tapi di dalam hanya ada kerapuhan yang menunggu waktu untuk tumbang.

Aku menjadi anak yang semakin jarang berbicara, baik di rumah maupun di sekolah. Teman-teman terdekatku mulai menyadari perubahan insting sosialku, tapi mereka tidak pernah tahu akar penyebabnya. Aku terlalu malu, terlalu gengsi, dan terlalu takut untuk menceritakan borok keluargaku kepada orang lain.

Aku dicekam oleh ketakutan komunal yang ekstrem aku takut jika aku bercerita, orang-orang akan mulai memandang rendah keluargaku. Aku takut dicap sebagai anak yang lahir dari rahim rumah yang gagal, anak dari orang tua yang tidak becus menjaga kesucian komitmen pernikahan. Padahal, jika ditelusuri ke titik paling dasar, aku tidak meminta semua ini terjadi. Aku hanyalah seorang anak perempuan biasa yang mendambakan sebuah keluarga yang utuh, sebuah rumah yang fungsional di mana ayah dan ibunya bisa saling bertukar senyum tulus di pagi hari.

Ada momen-momen di mana rasa iri bergolak hebat di dalam dadaku. Aku sering kali mematung di dekat gerbang sekolah, memandangi teman-teman sekelasku yang dijemput oleh ayah dan ibu mereka menggunakan motor atau mobil. Aku melihat bagaimana sang ayah mengambil alih tas sekolah putrinya, sementara sang ibu mengusap sisa keringat di dahi anaknya dengan penuh kasih sayang. Mereka tertawa bersama, berbagi cerita tentang apa saja yang terjadi di kelas hari itu, tanpa ada satu pun ganjalan rahasia yang disembunyikan di balik saku celana.

Lihat selengkapnya