Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #6

BAB 5: Konfrontasi di Samping Lipatan Kain

Rahasia besar itu akhirnya mencapai titik jenuhnya. Ia tidak bisa lagi terus-menerus dikurung di dalam ruang sempit kepalaku ia membutuhkan pelepasan, ia membutuhkan ruang untuk dimanifestasikan ke dalam dunia nyata. Lambat laun, keheningan yang kupelihara mulai bermutasi menjadi bentuk-bentuk energi lain yang lebih intimidatif berubah menjadi potongan percakapan pendek yang canggung, tatapan mata yang sedingin es di antara sudut ruangan, dan atmosfer rumah yang terasa semakin mencekat leher hingga membuat siapa saja yang tinggal di dalamnya merasa sesak napas.

Momen itu terjadi pada masa libur semester sekolah. Sebuah sore yang mendung di pertengahan bulan, di mana hawa dingin Bandung kembali menyergap masuk lewat celah-celah jendela yang tidak bisa rapat.

Di dalam rumah sederhana itu, hanya ada aku, Mamah, dan adik kecilku, Wildan. Ayah sedang pergi keluar sejak pagi hari untuk urusan pekerjaan serabutan yang tidak menentu hasilnya. Kondisi rumah sangat sepi, menciptakan kesunyian yang ganjil. Satu-satunya gelombang suara yang terdengar di dalam ruangan hanyalah deru monoton dari baling-baling kipas angin tua yang berputar lambat di sudut dinding, serta suara narator dari acara televisi di ruang tengah yang sengaja dinyalakan dengan volume kecil hanya agar rumah tidak terasa seperti kuburan.

Mamah sedang duduk bersimpuh di atas ubin ruang tengah, di kelilingi oleh tumpukan baju-baju bersih yang baru diangkat dari jemuran belakang. Tangan Mamah bergerak dengan ritme yang teratur mengambil selembar kaos, merapikan sudut-sudut kainnya, melipatnya dengan rapi, lalu menumpuknya ke dalam keranjang plastik hijau.

Aku berdiri di ambang pintu lorong, memandangi sosok Mamah dari jarak beberapa meter. Aku memperhatikan garis-garis kelelahan yang terukir jelas di wajahnya, gerakan tangannya yang mulai melambat karena usia, dan ponselnya yang diletakkan tepat di samping kaki kanannya benda pipih yang kini kuhargai sebagai bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Di dalam dadaku, ada pergolakan batin yang sangat hebat. Ada rasa takut yang luar biasa besar yang mencengkeram keberanianku untuk memulai percakapan ini. Namun, di sisi lain, perasaan sesak karena terus memendam kebenaran ini sendirian sudah mencapai batas maksimal pertahananku. Jika aku terus diam, aku merasa kepalaku akan pecah karena tekanan udara internal.

Dengan langkah kaki yang dipaksa untuk tegap meski lututku terasa lemas, aku berjalan mendekati Mamah. Aku menurunkan tubuhku, duduk bersila di atas lantai dingin tepat di hadapannya, dipisahkan oleh tumpukan kain lipatan.

Aku memastikan nadaku berada di frekuensi yang paling stabil. Tanpa ada luapan amarah yang meledak-ledak, tanpa ada suara bentakan yang kasar, dan tanpa ada tetesan air mata yang dramatis di awal kalimat. Aku datang bukan sebagai seorang hakim yang siap menjatuhkan vonis kesalahan; aku datang murni sebagai seorang anak perempuan yang sedang kebingungan dan hanya ingin menuntut sebuah pemahaman logis dari ibunya.

“Mah…” panggilku pelan. Suaraku memecah keheningan ruang tengah dengan getaran yang kentara.

Gerakan tangan Mamah yang sedang melipat kemeja Ayah mendadak terhenti di udara. Ia tidak langsung menoleh ke arahku; ada jeda beberapa detik di mana tubuh Mamah tampak menegang, seolah-olah radar insting keibuannya menangkap ada sesuatu yang tidak beres dari nada suaraku.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan oksigen sebanyak mungkin sebelum melemparkan pertanyaan yang sudah berbulan-bulan mengendap di dasar otakku.

Lihat selengkapnya