Setelah sore konfrontasi yang kelam di samping tumpukan kain lipatan itu, struktur kedirianku mengalami pergeseran yang semakin jauh ke dalam zona depresi. Hubunganku dengan Mamah di rumah bertransformasi menjadi sebuah hubungan yang sangat aneh kami berkomunikasi layaknya dua orang yang memiliki rahasia bersama namun sepakat untuk berpura-pura bahwa rahasia itu tidak pernah ada.
Dampak dari ketegangan psikologis yang menetap di dalam rumah itu mulai merusak sisa-sisa motivasi belajarku di sekolah. Aku mulai kehilangan minat dan semangat untuk menjalani rutinitas sebagai seorang siswi, padahal saat itu posisi akademisku sedang berada di titik yang paling krusial.
Berdasarkan hasil seleksi ketat di akhir tahun ajaran pertama, aku berhasil meloloskan diri untuk masuk ke dalam jajaran 'Kelas Unggulan'. Di lingkungan madrasah kami, kelas unggulan adalah sebuah entitas yang sangat prestisius sekaligus mengintimidasi. Ruangan kelas itu dihuni oleh anak-anak pilihan, murid-murid yang disaring secara ketat dari peringkat tiga besar di setiap kelas reguler. Mereka adalah sekumpulan anak jenius yang memiliki ambisi akademik yang sangat tinggi, anak-anak yang masa depannya sudah terencana dengan rapi di atas kertas.
Dan salah satu dari anak-anak pilihan itu adalah aku.
Dari sudut pandang orang luar para tetangga gang, guru-guru di sekolah, atau teman-teman dari kelas lain aku adalah representasi dari sebuah kesuksesan seorang remaja. Mereka melihatku sebagai sosok siswi yang hebat: memiliki nilai raport yang selalu mendekati angka sempurna, berhasil menembus barikade kelas unggulan yang kompetitif, dan selalu menampilkan pembawaan diri yang tenang, santun, serta tanpa masalah di koridor sekolah.