Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #9

BAB 8: Penengah Perang Orang Dewasa

Meskipun dunia luar sedang mengalami kelambatan ritme akibat pandemi, dinamika konflik di dalam rumah kami justru mencapai titik didihnya yang paling krusial. Kebijakan untuk tetap tinggal di rumah (stay at home) memaksa Ayah dan Mamah untuk terus-menerus berada di dalam ruang fisik yang sama selama dua puluh empat jam penuh setiap harinya sebuah kondisi yang mempercepat proses pembusukan hubungan mereka karena tidak ada lagi ruang pelarian luar rumah yang bisa digunakan untuk menghindari satu sama lain.

Ledakan besar itu akhirnya pecah pada sebuah malam yang basah di pertengahan tahun 2020. Langit Bandung sore itu kembali menumpahkan hujan deras yang disertai kilatan petir, menciptakan suasana latar belakang yang dramatis sekaligus mengintimidasi bagi rumah kami yang rapuh.

Suara keributan mendadak pecah dari dalam kamar tidur utama orang tuaku. Nada bicara Ayah yang biasanya dingin dan datar, malam itu meninggi drastis, mengeluarkan volume suara yang menggelegar penuh dengan amarah yang meledak-ledak. Di sisi lain, suara tangisan histeris Mamah terdengar menyahut, diselingi oleh suara benturan benda tumpul yang menghantam dinding pembatas kamar sebuah indikasi bahwa konfrontasi fisik atau verbal yang sangat hebat sedang berlangsung di dalam sana.

Aku dan adik kecilku, Wildan, hanya bisa duduk diam berdekatan di atas sofa ruang tengah yang busanya sudah kempes. Kami berdua melipat kaki, saling merapatkan tubuh dalam keheningan yang mencekam. Kami sudah terlalu sering melewati malam-malam dengan latar belakang suara seperti ini; kami telah melatih diri kami untuk menjadi ahli dalam seni berpura-pura tidak mendengar apa-apa, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja demi menjaga sisa kewarasan kami masing-masing.

Beberapa saat kemudian, suara teriakan dan tangisan di dalam kamar mendadak berhenti total, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih menakutkan sebuah keheningan pasca-badai yang mengindikasikan adanya sebuah keputusan besar yang telah diambil.

Pintu kamar utama terbuka dengan sentakan keras. Ayah melangkah keluar dengan napas yang memburu, wajahnya memerah padam mencerminkan emosi yang berada di titik kulminasi tertinggi. Ia berjalan menuju ruang tamu, lalu menjatuhkan tubuhnya yang tampak sangat lelah di atas kursi sofa tunggal. Ayah meletakkan kedua telapak tangannya di atas kepala, mencengkeram rambutnya sendiri dengan erat, seolah-olah ia sedang berusaha menahan kepalanya agar tidak pecah karena tekanan stres.

Dari posisi duduknya, Ayah memalingkan wajah, menatap lurus ke arahku yang sedang memeluk Wildan dengan tubuh yang gemetar pelan.

“Kirana… sini kamu,” panggil Ayah dengan nada suara yang sangat pelan, serak, dan terdengar seperti kehabisan energi kehidupan.

Jantungku langsung berdegup kencang dengan irama yang tidak beraturan, memicu rasa mual yang mendadak di hulu hatiku. Aku melepaskan pelukanku pada bahu Wildan, lalu dengan langkah kaki yang terasa sangat berat layaknya diseret, aku berjalan mendekati Ayah. Aku menurunkan tubuhku, duduk di atas lantai semen tepat di hadapannya, menatap sepasang kaki Ayah yang dibungkus celana kain lusuh.

Lihat selengkapnya