Keesokan harinya setelah malam konfrontasi itu, atmosfer di dalam rumah kami bergeser ke titik yang jauh lebih mencekam. Aku terbangun di pagi hari dengan kelopak mata yang bengkak dan kepala yang terasa pening luar biasa akibat terlalu banyak menangis semalam.
Ayah sudah pergi meninggalkan rumah sejak subuh menggunakan sepeda motornya, membawa serta atmosfer amarah yang belum sepenuhnya padam. Aku, Mamah, dan Wildan menghabiskan waktu seharian di dalam rumah dengan melakukan gerakan-gerakan yang sangat minim dan canggung. Kegiatan belajar online-ku hari itu berjalan seperti fungsi otomatis robot; aku menyalakan aplikasi kelas, memasang wajah menyimak, namun tak satu pun kalimat dari guru yang berhasil menembus dinding kepalaku yang penuh.
Sore hari menjelang magrib, ritme kehancuran yang sesungguhnya akhirnya tiba di depan pintu rumah kami.
Saat itu, aku sedang duduk di lantai ruang tengah bersama Wildan, mencoba membantunya memahami tugas sekolah tingkat SD-nya yang terbengkalai. Tiba-tiba, suara derit pagar besi depan terdengar dibuka dengan sentakan kasar, disusul oleh langkah kaki Ayah yang menghentak lantai teras dengan ritme yang cepat dan penuh emosi.
Pintu depan didorong hingga membentur dinding tembok dengan suara dentuman yang keras. Ayah melangkah masuk tanpa mengucapkan salam, matanya berkilat-kilat penuh amarah, memancarkan aura destruktif yang sangat kuat hingga membuat nyali kami langsung ciut seketika.
Tanpa memedulikan keberadaanku dan Wildan yang ketakutan di ruang tengah, Ayah langsung berjalan menuju kamar tidur utama. Beberapa detik kemudian, suara pintu lemari pakaian yang dibuka dengan kasar terdengar bergema di seluruh penjuru rumah, disusul oleh suara gantungan baju yang beradu dan kain-kain yang ditarik secara paksa.
Aku berdiri dari posisi dudukku dengan tubuh yang gemetar pelan, melangkah perlahan menuju koridor lorong kamar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Dari ambang pintu, aku melihat Ayah sedang membereskan pakaian-pakaian miliknya dengan gerakan yang sangat kasar, memasukkannya ke dalam sebuah tas ransel besar berwarna hitam yang sudah robek di beberapa sudutnya.
Wildan ikut berdiri di belakang punggungku, wajah kecilnya tampak sangat pucat kebingungan, kedua tangannya mencengkeram erat ujung kaos seragam SD-nya yang bahkan belum sempat diganti sejak siang hari.
Ayah memalingkan wajahnya ke arah kami setelah menutup ritsleting tas ranselnya dengan sentakan keras. Di atas meja kayu yang terletak di ruang tengah, Ayah melemparkan sebuah benda tipis dengan gerakan mencemooh. Itu adalah lembaran Kartu Keluarga (KK) kami sebuah dokumen negara berkain biru yang selama ini mengesahkan status kami sebagai satu unit keluarga yang legal di mata hukum. Benda itu jatuh tergeletak begitu saja di hadapanku, tampak seperti selembar kertas sampah yang tidak memiliki nilai apa pun lagi.
Wajah Ayah terlihat sangat menyeramkan malam itu; gumpalan emosi hitam seolah mengaburkan garis-garis wajahnya yang biasa kukenal sebagai seorang ayah. Mamah keluar dari arah dapur dengan langkah kaki yang gontai, berdiri mematung di sudut ruangan sambil menutupi mulutnya, air matanya sudah meleleh membasahi pipi.
Ayah melangkah mendekat ke arahku dan Wildan, lalu dengan gerakan tangan yang kasar, ia menunjuk ke arah wajahku dengan jari telunjuknya yang bergetar penuh amarah.
“Kamu… kamu punya anak dia!” teriak Ayah dengan nada suara yang melengking tinggi, mengarahkan telunjuknya tepat ke dadaku.