Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #11

BAB 10: Pelukan di Balik Sunyi yang Menyesakkan

Setelah badai amarah Ayah mereda dan suara deru motornya perlahan menghilang dari ujung gang rumah membawa serta Wildan yang menangis di jok belakang atmosfer di dalam rumah kami mendadak bergeser ke sebuah kondisi ekstrem yang lain. Rumah itu bertransformasi menjadi sebuah ruang yang sangat sepi.

Namun, itu bukan jenis kesunyian yang menenangkan seperti suasana di dalam perpustakaan atau masjid di sepertiga malam. Ini adalah jenis kesunyian yang tebal, berat, dan menyesakkan dada sebuah keheningan traumatis pasca-perang yang justru terasa jauh lebih menyakitkan bagi indra pendengaranku daripada suara bentakan amarah Ayah yang paling keras sekalipun. Udara di dalam rumah terasa mengental, dipenuhi oleh debu pasir dan sisa energi destruktif yang masih tertinggal di antara puing-puing kaca yang berserakan di lantai ruang tamu.

Aku melangkah dengan sangat pelan menyusuri koridor rumah, memastikan kakiku tidak menginjak pecahan kaca tajam yang bertebaran layaknya ranjau darat. Aku berjalan menuju kamar tidur utama, di mana aku menemukan Mamah sedang duduk bersimpuh di atas kasur busa yang sprei-nya sudah berantakan.

Mamah sedang menangis. Tubuhnya terguncang hebat, mengeluarkan suara isakan kecil yang terdengar sangat lelah dan hampa dari dalam tenggorokannya, seolah-olah ia sudah kehabisan air mata untuk dikeluarkan.

Aku berjalan mendekat, lalu menjatuhkan diriku di sampingnya. Tanpa mengucapkan satu patah kata pun karena kata-kata telah kehilangan seluruh fungsinya sore itu, aku melingkarkan kedua lengan remajaku ke sekeliling bahu Mamah yang mulai terasa ringkih. Aku menarik tubuh Mamah ke dalam pelukanku, dan di detik berikutnya, bendungan emosiku yang sempat membeku akhirnya runtuh juga. Kami berdua saling berpelukan erat-erat di atas kasur itu, menangis bersama dalam keheningan kamar yang remang-remang, layaknya dua orang penyintas yang selamat dari kecelakaan kapal laut namun terdampar di sebuah pulau asing yang gersang.

Lihat selengkapnya