Satu-satunya faktor keberuntungan yang menyelamatkan sisa-sisa kewarasan mentalku di masa-masa kelam itu adalah kenyataan bahwa seluruh sistem persekolahan masih dijalankan secara online akibat pandemi COVID-19. Jika skenario kehidupan memaksaku untuk harus tetap masuk ke dalam lingkungan sekolah fisik setiap hari berjalan menyusuri koridor madrasah, duduk di tengah-tengah ruang kelas unggulan yang penuh dengan tatapan mata menyelidik, dan berinteraksi secara intens dengan guru serta teman sebangku dengan kondisi mental yang hancur berantakan seperti itu aku sangat yakin bahwa seluruh struktur psikologis jiwaku sudah akan kolaps total dan hancur menjadi debu di tengah jalan.
Sistem pembelajaran dari rumah (school from home) memberiku sebuah ruang isolasi emosional yang sangat kubutuhkan. Di balik layar laptop tua atau ponsel pintarku yang layarnya sudah retak di sudutnya, aku bisa menciptakan sebuah batas pertahanan yang kokoh antara kehidupan pribadiku yang hancur dan kehidupan akademikku yang harus tetap berjalan.
Aku menjalani rutinitas harian dengan disiplin yang ketat layaknya sebuah fungsi otomatis yang diprogram untuk bertahan hidup. Setiap pagi setelah subuh, aku memaksakan tubuhku yang lelah karena kurang tidur untuk mandi, menyisir rambut dengan rapi, lalu memasang kerudung madrasahku dengan presisi yang sempurna. Aku menyalakan perangkat digital, masuk ke dalam ruang pertemuan virtual, mengetikkan kata 'Hadir' pada kolom daftar absensi, dan memasang ekspresi wajah yang tampak tenang, fokus, serta penuh perhatian di depan lensa kamera.
Namun, tidak ada satu orang pun guru atau teman sekelas yang memiliki kapasitas indra untuk melihat apa yang sedang terjadi di balik batas bingkai kamera digital tersebut. Mereka tidak tahu bahwa tepat di samping meja belajarku, tumpukan baju kotor belum sempat dicuci karena Mamah terlalu lelah bekerja, mereka tidak tahu bahwa di ruang tengah rumah kami ubin lantainya masih menyisakan debu-debu pasir sisa renovasi yang terbengkalai, dan mereka tidak tahu bahwa beberapa jam sebelum kelas dimulai, aku baru saja menghabiskan waktu dengan menangis menyembunyikan wajah di bawah bantal agar suara tangisanku tidak mengganggu ketenangan Mamah.
Aku adalah seorang anak perempuan remaja yang sedang berjuang sendirian di tengah kepungan puing-puing rumah yang runtuh, mencoba sekuat tenaga untuk menyelamatkan masa depanku sendiri dengan menggunakan satu-satunya senjata yang tersisa di tanganku: pendidikan.