Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #13

BAB 12: Lembaran Baru di Bawah Atap Kontrakan

Tahun 2021 akhirnya melangkah masuk membawa akhir dari sebuah ketidakpastian panjang yang selama ini menggantung di atas kepala kami seperti pedang keadilan. Proses hukum di pengadilan agama resmi selesai diketuk Mamah dan Ayah dinyatakan resmi bercerai di mata hukum negara dan agama.

Momen pembacaan keputusan atau penerimaan akta cerai itu tidak diiringi oleh drama besar yang menguras air mata layaknya adegan klimaks di film sinetron televisi. Tidak ada suara musik latar yang melankolis, tidak ada aksi teriak histeris penuh dendam, dan tidak ada adegan saling memohon maaf yang mengharukan. Semuanya berlangsung dalam proses birokrasi yang sangat dingin, datar, dan prosedural. Ketika Mamah pulang ke rumah membawa selembar dokumen resmi bersampul merah pudar itu, ia hanya menaruhnya begitu saja di atas meja ruang tengah, lalu berjalan masuk ke kamar tanpa mengucapkan satu patah kata pun.

Aku duduk diam di depan meja itu, menatap lembaran kertas yang secara resmi menyatakan bahwa institusi keluarga yang melahirkanku telah tiada. Ada rasa kosong yang teramat sangat luas mendadak merayap masuk, mengisi rongga dadaku sebuah sensasi hampa yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam bentuk kalimat bahasa.

Separuh dari bagian jiwaku yang terdalam merasakan kesedihan yang mendalam; bagaimana pun juga, fakta bahwa ayah dan ibuku kini telah menjadi dua orang asing yang legal adalah sebuah stempel kegagalan dari konsep rumah impian masa kecilku. Namun, di saat yang bersamaan, separuh bagian jiwaku yang lain justru mengeluarkan sebuah desah napas lega yang teramat sangat besar. Akhirnya… akhirnya ketidakpastian yang menyiksa itu selesai juga. Setidaknya, setelah hari ini, tidak akan ada lagi alasan bagi Ayah untuk datang ke rumah ini membawa amarah baru, tidak akan ada lagi suara bentakan yang membuat jantungku copot di tengah malam, dan tidak akan ada lagi ketegangan konstan yang menetap di bawah atap ini.

Tetapi, asumsi naifku tentang kehidupan baru yang lebih tenang setelah perceraian terbukti salah total. Hidup ternyata belum selesai menguji tingkat ketahanan mentalku ia hanya sedang mengganti jenis tantangan dari level konflik emosional menjadi level bertahan hidup secara logistik.

Lihat selengkapnya