Kehidupan di bawah atap kontrakan baru kami dengan cepat menunjukkan wajah aslinya yang keras dan tanpa kompromi. Situasi eksternal pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya reda di awal tahun 2022 memberikan dampak hancur yang nyata pada sektor mata pencaharian masyarakat, dan keluargaku adalah salah satu korban yang berada di garis depan kehancuran ekonomi tersebut.
Mamah, yang mengandalkan sisa tabungan dan pekerjaan serabutan sebagai penyedia jasa katering kecil-kecilan di masa lalu, kehilangan seluruh akses pekerjaannya karena kebijakan pembatasan sosial yang melarang adanya kerumunan acara. Kami mendadak berada di sebuah kondisi di mana arus pendapatan atau penghasilan bulanan masuk ke angka nol mutlak, sementara di sisi lain, tagihan biaya sewa kontrakan, biaya utilitas listrik, dan kebutuhan dasar isi perut harus tetap dibayar tepat waktu tanpa toleransi keterlambatan.
Di tengah-tengah kepungan krisis finansial yang mencekik leher itu, dinamika domestik kami kembali mengalami pergolakan emosional baru. Adik kecilku, Wildan, yang saat itu tinggal bersama Ayah di tempat terpisah sejak hari perpecahan kaca, mulai sering melakukan panggilan telepon ke ponsel Mamah di tengah malam.
Melalui suara speaker ponsel yang pecah, aku sering kali mendengar suara tangisan Wildan yang terisak-isak dari seberang talian. Ia memohon dengan sangat kepada Mamah untuk segera datang menjemputnya dan membawanya pergi dari rumah Ayah. Wildan mengeluh dengan kalimat anak-anaknya bahwa ia merasa sangat tidak nyaman, takut, dan telantar tinggal di sana.
Aku tidak tahu secara pasti bagaimana detail kondisi kehidupan domestik yang terjadi di tempat Ayah saat itu, karena akses komunikasiku dengannya sudah terputus total sejak lama. Namun, menggunakan kapasitas imajinasi psikologisku, aku bisa membayangkan dengan sangat jelas tingkat kehancuran emosional seperti apa yang sedang dialami oleh seorang pria paruh baya yang baru saja kehilangan struktur rumah tangganya, kehilangan hak milik rumah warisannya, dan tenggelam dalam frustrasi krisis ekonomi akibat pandemi. Ayah mungkin sedang kehilangan arah kompas hidupnya sendiri, tersesat di dalam pusaran amarahnya, dan sayangnya, Wildan yang berada di dekatnya harus menjadi korban sekunder dari ketidakmatangan emosional tersebut. Wildan hanyalah seorang anak kecil yang mendambakan rasa aman dan kehangatan figur seorang ibu.
Mendengar suara raungan ketakutan anak bungsunya setiap malam, naluri keibuan Mamahh akhirnya mengalahkan seluruh kalkulasi logistik ekonominya yang sedang sekarat. Dengan nekat dan tanpa memikirkan bagaimana cara memberi makan esok hari, Mamahh pergi menjemput Wildan dari tempat Ayah, membawanya pulang ke dalam pelukan kami di rumah kontrakan kecil depan madrasah.
Saat Wildan kembali ke sisi kami, status pendidikannya baru saja menyelesaikan tingkat Sekolah Dasar (SD) dan bersiap untuk melangkah ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Setelah melewati berbagai pertimbangan diskusi yang panjang dan berat, Mamahh akhirnya mengambil keputusan untuk memasukkan Wildan ke dalam sebuah pondok pesantren salafiyah yang lokasinya terletak di pinggiran kota Bandung, tidak terlalu jauh dari posisi kontrakan kami.