Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #15

BAB 14: Subuh Dingin di Terminal Angkot

Garis waktu kehidupan terus berputar, mengikis sisa-sisa eksistensi pandemi dari permukaan bumi Parahyangan. Tahun 2021 akhir hingga tahun 2022 bergerak mendekati paruh akhir, membawa sebuah angin segar di mana situasi kesehatan masyarakat mulai dinyatakan mereda dan stabil secara nasional. Kebijakan pembatasan sosial mulai dilonggarkan secara bertahap, dan sektor pendidikan akhirnya diizinkan untuk membuka kembali pintu gerbang sekolah fisik secara terbatas menggunakan sistem kombinasi atau sif bergantian.

Pihak Madrasah Aliyah tempatku menuntut ilmu menerapkan sistem pembagian kelompok belajar yang ketat: ada Sesi A dan Sesi B. Murid-murid yang masuk ke dalam kelompok Sesi A akan menjalani kegiatan belajar mengajar di dalam kelas mulai dari pukul enam pagi hingga pukul sepuluh tepat, lalu setelah itu mereka harus segera mengosongkan area sekolah untuk digantikan oleh murid-murid dari kelompok Sesi B yang akan belajar hingga sore hari.

Seluruh protokol kesehatan masih diterapkan dengan tingkat disiplin yang tinggi: masker medis wajib menutupi hidung dan mulut sepanjang waktu, hand sanitizer tergantung di setiap sabuk tas sekolah, dan jarak antar-meja belajar diatur sejauh satu setengah meter tanpa toleransi. Dunia luar sedang tertatih-tatih mencoba belajar untuk hidup kembali pasca-trauma global, dan begitu juga dengan dinamika kehidupan keluarga kecil kami di bawah atap kontrakan.

Satu-satunya titik terang dari meredanya pandemi ini adalah dibukanya kembali akses bagi Mamah untuk mencari mata pencaharian yang lebih stabil. Setelah melewati proses pencarian informasi yang panjang dan melelahkan, Mamah akhirnya berhasil mendapatkan slot izin untuk kembali berjualan makanan di area kantin dalam kompleks Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKO AD) Bandung.

Meskipun status pekerjaan itu memberikan kepastian arus uang masuk yang lebih jelas daripada sekadar utang keliling, konsekuensi fisik dan logistik yang harus dibayar Mamah sangatlah menguras sisa energi tubuhnya yang mulai digerogoti usia. Karena kami tidak memiliki aset kendaraan bermotor sendiri sepeda motor Mio lama kami sudah disita atau dijual saat proses perceraian dengan Ayah satu-satunya moda transportasi yang bisa diandalkan Mamah adalah jaringan angkutan kota (angkot) Bandung yang tabiat jalannya tidak menentu.

Lihat selengkapnya