Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #16

BAB 15: Ayah yang Menjadi Hampa

Di tengah-tengah proses adaptasi kami yang berdarah-darah untuk membangun fondasi kehidupan baru di bawah atap kontrakan, ada satu pertanyaan besar yang sering kali muncul diam-diam di sudut paling gelap dalam labirin pikiranku sebuah pertanyaan tentang eksistensi seorang pria yang dulu kupanggil dengan sebutan 'Ayah'.

Bagaimana kabarnya sekarang? Di mana ia tinggal setelah seluruh struktur rumah warisan itu disita oleh keluarga besar? Apakah ia masih memiliki kesehatan fisik untuk terus bekerja serabutan di luar sana?

Kenyataan yang harus kuhadapi sebagai anak kandungnya adalah sebuah kehampaan informasi yang mutlak. Sejak sore kelam di mana palu besi diayunkan menghancurkan jendela kaca ruang tamu kami, sosok Ayah seolah-olah menguap begitu saja dari permukaan bumi, menghilang secara total dari radar kehidupan kami bertiga tanpa menyisakan satu pun jejak digital atau fisik yang bisa dilacak.

Ayah tidak pernah sekalipun mengirimkan pesan teks singkat ke nomor ponselku atau nomor Mamah hanya untuk sekadar menanyakan apakah kami berdua masih memiliki pasokan beras untuk dimakan esok hari. Ia tidak pernah menelepon di hari ulang tahunku untuk memberikan ucapan selamat atau doa restu seorang ayah. Ia tidak pernah menampakkan batang hidungnya di depan gerbang madrasah tempatku sekolah untuk melihat bagaimana tumbuh kembang putri sulungnya yang kini sudah mengenakan seragam abu-abu SMA.

Lihat selengkapnya