Ketika ruang emosional di dalam hatiku yang dulu dialokasikan untuk sosok Ayah telah berubah menjadi medan hampa yang dingin, aku mengambil sebuah keputusan sadar untuk mengalihkan seluruh sisa energi batin, fokus pikiran, dan amarah terpendamnya ke arah satu titik koordinat tunggal performa akademik di sekolah.
Aku menolak untuk membiarkan diriku terus-menerus terjebak di dalam peran sebagai korban takdir yang malang, mengasihani diri sendiri di sudut kontrakan kecil sambil meratapi kemiskinan dan hancurnya keluarga. Aku mulai menanamkan sebuah prinsip hidup yang sangat pragmatis dan kokoh di dalam kesadarannya: Jika di dunia ini tidak ada satu pun orang dewasa atau fasilitas luar yang bisa datang menyelamatkan hidupku dari keterpurukan ini, maka satu-satunya entitas yang memiliki kewajiban dan kemampuan mutlak untuk menyelamatkan masa depanku adalah diriku sendiri.
Aku harus mengandalkan kapasitas otakku sendiri, kekuatan otot lenganku sendiri untuk terus menulis, dan jalur pendidikan formal yang sedang kutempuh di Madrasah Aliyah Negeri sebagai satu-satunya tiket emas untuk keluar dari lingkaran setan kemiskinan gang sempit Bandung ini.
Filosofi hidup yang mandiri dan keras itu sebenarnya bukan sebuah pemikiran yang mendadak muncul begitu saja di dalam kepala remajaku itu adalah benih pemikiran lama yang sudah sering kali ditanamkan dan disiram oleh Mamah sejak aku masih kecil, jauh sebelum badai perceraian menghancurkan rumah kami.