Perubahan insting sosial pada diri Mamah terjadi secara perlahan, bergeser milimeter demi milimeter dari rutinitas harian yang biasa kami jalani bersama di bawah atap kontrakan, namun bagi indra pengamatanku yang sudah terlatih oleh trauma masa lalu, sinyal-sinyal perubahan itu tertangkap dengan tingkat kejelasan yang sangat benderang dan mengintimidasi.
Mamah mulai menunjukkan perilaku ketergantungan yang sangat ekstrem terhadap perangkat ponsel pintarnya belakangan ini. Intensitas ia menatap layar digital berlampu putih itu melonjak drastis, mengabaikan batas-batas waktu fungsional yang seharusnya digunakan untuk beristirahat atau berinteraksi denganku. Ia sering kali terlihat memegangi ponselnya sejak sore hari setelah pulang dari kantin, terus menekan tombol papan ketik virtual dengan jempolnya yang kasar hingga larut malam, bahkan sering kali melintasi batas tengah malam menuju subuh.
Perubahan fokus itu berimbas langsung pada perhatian domestiknya yang mulai terbengkalai. Ada momen-momen di mana Mamah sering kali lupa untuk sekadar menyiapkan makanan malam di atas meja kecil kontrakan, atau lupa mematikan kompor dapur karena pikirannya terlalu terserap ke dalam ruang digital di tangannya.
Kini, ritme domestik kami mengalami perputaran arah yang aneh: justru diriku sendiri seorang siswi kelas tiga SMA yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan diri menghadapi ujian kelulusan yang harus mengambil alih tugas-tugas dapur. Aku yang sering kali harus memasak mie instan atau menggoreng telur sendiri setelah pulang sekolah, menyendok nasi ke dalam piring, lalu duduk sendirian di atas ubin ruang tamu, menyantap makanan malam dalam keheningan yang canggung, sementara dari arah beranda depan atau bilik kamar tengah, terdengar suara Mamah yang sedang tertawa pelan, mengeluarkan suara cekikikan kecil yang tertahan di balik telapak tangannya saat menatap layar ponsel.
Pemandangan dan gelombang suara tawa itu… secara instan mengaktifkan seluruh alarm bahaya di dalam memori traumatis kepalaku. Rasanya seperti sebuah mesin waktu tak kasat mata sedang memutar paksa seluruh garis hidupku kembali ke titik awal tahun 2019 yang kelam sebuah perputaran siklus luka yang memicu rasa takut yang teramat sangat besar di dalam ulu hatiku.