Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #19

BAB 18: Motor Mio Biru-Hitam di Depan Pintu

Sinyal-sinyal kecemasan abstrak yang kurasakan pada malam Minggu itu akhirnya menemukan bentuk manifestasi fisiknya yang nyata di dunia nyata hanya dalam hitungan beberapa hari kemudian.

Sore itu, langit kota Bandung sedang diselimuti oleh cuaca terik yang menyengat, menyebarkan hawa panas yang pengap ke dalam sela-sela gang padat penduduk. Aku berjalan pulang dari sekolah dengan langkah kaki yang lambat, tas ransel tebalnya terasa menekan pundaknya dengan berat, dan seragam abu-abu madrasahku sudah mulai lembap oleh keringat setelah mengikuti kelas tambahan intensif persiapan ujian akhir. Aku melangkah menyusuri gang dengan pikiran yang terfokus pada bayangan segelas air es dan kasur busa untuk merebahkan tubuhnya yang lelah.

Namun, tepat ketika langkah kakinya membelok di sudut gang terakhir dan pandangan matanya tertuju pada fasad depan rumah kontrakannya, seluruh otot tubuhku mendadak menegang kencang secara refleks.

Di sana, terparkir tepat di depan pintu kayu kontrakan kami yang sempit, sebuah sepeda motor matic Yamaha Mio berwarna kombinasi biru-hitam lusuh. Motor itu diparkir dengan posisi yang sangat mepet dengan dinding, seolah-olah pengendaranya ingin menyembunyikan keberadaan kendaraan tersebut dari pandangan mata orang-orang yang melintas di gang utama.

Awalnya, otak remajaku mencoba melakukan kalkulasi rasional yang dipaksakan: Mungkin itu motor milik salah satu tetangga sebelah yang kehabisan slot parkir di depannya. Atau mungkin itu motor milik teman perempuan Mamah yang mampir untuk mengantarkan titipan barang dagangan kantin. Aku mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungku yang mulai berkejaran tidak beraturan, lalu melangkah maju mendorong pintu depan kontrakan yang tidak terkunci sempurna.

Begitu daun pintu kayu itu bergeser terbuka beberapa sentimeter, seluruh tubuhku langsung membeku di ambang pintu, seolah-olah ada sebuah sengatan listrik bertegangan tinggi yang merusak seluruh sistem saraf motorikku.

Kondisi pintu kontrakan sore itu sengaja diposisikan hampir tertutup rapat, hanya menyisakan celah bukaan sebesar beberapa telapak tangan sebuah tata letak domestik yang secara universal di lingkungan sosial kami mengindikasikan adanya sebuah aktivitas privasi yang sengaja disembunyikan dari pengawasan publik. Aku mendorong pintu itu sedikit lebih lebar dengan ujung jarinya yang gemetar pelan, dan di dalam ruang tamu kecil yang remang-remang itu… pandangan mataku langsung menangkap sesosok manusia yang sangat asing.

Ada seorang laki-laki dewasa sedang duduk di atas kursi plastik satu-satunya di ruang tamu kami, posisinya sangat dekat dengan tempat Mamah duduk bersimpuh di atas ubin.

Lihat selengkapnya