Bandung, Balada, dan Bait yang Pecah

Rika Ismayanti
Chapter #20

BAB 19: Ledakan di Ruang Tamu Kecil

Hubungan domestik antara diriku dan Mamah setelah rentetan peristiwa kedatangan pria-pria asing itu bergerak memburuk secara eksponensial, mencapai sebuah titik kestabilan baru yang diisi oleh keheningan yang dingin, kaku, dan penuh dengan jarak emosional yang tebal. Kami berdua bertransaksi hidup di dalam ruang kontrakan yang sempit itu layaknya dua buah benda bermuatan listrik sejenis yang saling menolak ada resistensi kuat yang terasa setiap kali tubuh kami berpapasan di lorong dapur yang sempit.

Puncak dari seluruh akumulasi ketegangan konstan itu akhirnya menemukan titik ledakan tertingginya pada sebuah malam minggu di penghujung tahun ajaran.

Malam itu, jarum jam dinding sudah bergeser melewati angka sepuluh. Atmosfer di dalam kontrakan kecil kami terasa sangat panas dan pengap, membuat aliran udara seolah berhenti mengalir. Mamah sedang duduk bersandar pada dinding ruang tamu, kedua matanya terkunci rapat pada layar ponsel pintarnya yang menyala terang, jempolnya bergerak cepat mengetikkan baris-baris kalimat obrolan digital, sementara raut wajahnya menampilkan ekspresi senyuman penuh rahasia yang sangat kubenci. Di sekelilingnya, kondisi ruang tamu terlihat berantakan: tumpukan kain bersih yang belum disetrika tergeletak begitu saja di sudut lantai, debu tipis mulai menumpuk di atas permukaan meja plastik, dan piring-piring kotor sisa makanan siang masih menumpuk di dalam bak cuci piring dapur tanpa ada yang menyentuh.

Melihat pemandangan domestik yang abai dan kontras itu di mana ibuku lebih memilih mengorbankan seluruh waktu dan perhatiannya demi melayani obrolan digital dengan pria asing di luar sana, sementara kondisi rumah dan masa depan anak-anaknya diabaikan begitu saja seluruh dinding pertahanan emosional yang kubangun dengan susah payah selama bertahun-tahun akhirnya jebol total dalam satu detik yang krusial. Rasa frustrasi, amarah terpendam, ketakutan eksistensial, dan rasa lelah batin meledak keluar menjadi sebuah letupan emosi yang sangat hebat.

Aku berdiri dari posisi duduknya di ambang pintu kamar, melangkah maju mendekati Mamah dengan tubuh yang bergetar hebat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Air mataku mengalir deras membasahi pipi, bukan karena rasa takut atau sedih, melainkan karena luapan amarah murni yang sudah tidak bisa lagi ditampung oleh kapasitas jiwaku.

“Mamahh… Mamahh itu sebenarnya punya hati enggak sih?!” teriakku dengan nada suara yang melengking tinggi, memecah kesunyian malam kontrakan dengan getaran yang penuh dengan rasa sesak di dada.

Mamah tersentak kaget mendengarkan suara lengkinganku. Ia menurunkan ponselnya dari depan wajah, menatapku dengan sepasang bola mata yang mendadak memancarkan kilatan rasa terkejut bercampur amarah karena otoritasnya sebagai orang tua ditantang secara terbuka oleh anak perempuannya sendiri.

Lihat selengkapnya